Jam Berapa Puncak Gerhana Bulan Total di Jawa Timur? Ini Jadwal dan Tata Cara Sholat Khusuf
Arum Puspita March 03, 2026 04:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Gerhana bulan total akan terjadi, Selasa (3/3/2026) malam.

Gerhana bulan total disebut blood moon karena saat fase totalitas.

Bulan akan tampak berwarna merah gelap.

Tidak seperti gerhana matahari, gerhana bulan dapat dilihat secara langsung oleh mata manusia.

Namun, sering kali gerhana bulan tidak dapat dilihat karena cuaca yang tidak mendukung, seperti mendung atau hujan.

Jadwal Gerhana Bulan Total di Indonesia

Fenomena Gerhana Bulan Total kali ini dapat diamati dari Indonesia, termasuk Jawa Timur. 

Berdasarkan data astronomi, gerhana dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia dengan waktu berbeda-beda:

  • Wilayah Indonesia Timur (WITA & WIT) seperti Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua dapat menyaksikan sejak awal fase umbra sekitar pukul 17.49 WITA / 18.49 WIT hingga berakhir sekitar pukul 21.17 WITA / 22.17 WIT.
  • Wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan serta Sulawesi mulai menyaksikan fase lanjutan sekitar pukul 18.03 WIB / 19.03 WITA hingga selesai pukul 20.17 WIB / 21.17 WITA.
  • Sumatra, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat dapat melihat puncak gerhana sekitar pukul 18.33 WIB hingga berakhir pukul 20.17 WIB.

Secara keseluruhan, gerhana berlangsung lebih dari lima jam, dengan fase totalitas hampir satu jam lamanya.

Imbauan Sholat Khusuf

Saat terjadi gerhana bulan total, Kementerian Agama (Kemenag) mengimbau Umat Islam melaksanakan sholat khusuf.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat.

“Gerhana bulan adalah tanda kebesaran Allah SWT."

"Karena itu, kami mengimbau umat Islam di wilayah yang mengalaminya untuk melaksanakan salat gerhana sebagai bentuk ibadah dan muhasabah diri,” katanya, dikutip SURYA.CO.ID dari laman kemenag.go.id.

Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi cahaya Matahari yang biasanya dipantulkan Bulan ke arah Bumi.

Pada fase totalitas, bulan tampak berwarna merah tembaga. 

Warna tersebut muncul akibat proses hamburan cahaya di atmosfer Bumi, di mana cahaya biru tersebar dan cahaya merah tetap diteruskan hingga menyinari permukaan Bulan.

Dalam perspektif Islam, gerhana adalah salah satu ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah di alam raya. 

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk merespons gerhana dengan memperbanyak ibadah, doa, dan sedekah, bukan dengan rasa takut yang berlebihan. 

Karena itu, gerhana bulan di tengah Ramadan menjadi kesempatan berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, dan memperkuat solidaritas sesama umat.

Panduan Sholat Khusuf

Baca juga: Doa Melihat Gerhana Bulan Total, Dilengkapi Artinya

Melansir buku Buku Panduan Sholat Lengkap (Wajib & Sunah), hukum mengerjakan sholat khusuf adalah sunnah muakkad atau sangat dianjurkan menurut ulama.

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah sholat, dan bersedekahlah," (HR Bukhari).

Niat Sholat Khusuf Sendiri

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Saya shalat sunah gerhana bulan dua rakaat karena Allah SWT.”

Niat Sholat Khusuf Berjamaah

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman/makmûman lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Saya shalat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT.”

Tata Cara Sholat Khusuf

Waktu mengerjakan sholat khusuf atau sholat gerhana bulan dimulai sejak terlihat gerhana bulan sampai sampai bulan kembali normal atau gerhana bulan selesai.

Sholat gerhana bulan terdiri dari dua rakaat, setiap rakaat terdiri dari dua kali rukuk dan dua kali i'tidal,

1. Berniat di dalam hati. Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman/makmûman lillâhi ta‘âlâ (Saya berniat shalat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT).

2. Takbiratul ihram, yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa

3. Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaharkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih).

4. Ruku’

5. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbana Wa Lakal Hamd”

6. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat al quran. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama

7. Ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya

8. Kemudian i’tidal, membaca doa i'tidal.

9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, sambil membaca tasbih.

9. Lalu duduk di antara dua sujud.

10. Kemudian sujud kembali, membaca tasbih selama rukuk kedua.

10. Bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

11. Salam.

===

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.  

Klik di sini untuk untuk bergabung 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.