Yosefina Abuk, Janda 65 Tahun yang Bertahan di Rumah Reyot Demi Masa Depan Anak
Eflin Rote March 03, 2026 03:45 PM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota

POS-KUPANG.COM, BETUN - Di balik dinding pelepah yang nyaris roboh dan atap daun lontar yang bocor diterpa hujan, seorang ibu di pelosok Kabupaten Malaka menyimpan mimpi besar untuk masa depan anaknya. 

Di usia 65 tahun, Yosefina Abuk memilih bertahan dalam gubuk reyot kurang lebih sudah 11 tahun, rela hidup serba kekurangan, demi memastikan anak semata wayangnya tetap mengenyam pendidikan tinggi.

Perempuan tangguh itu tinggal di Dusun Leolaran A, Desa Biudukfoho, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. 

Saat ditemui POS-KUPANG.COM, Yosefina menyambut dengan senyum sederhana yang menyembunyikan beratnya perjuangan hidup.

“Saya biar susah juga, tidak apa-apa asalkan saya punya anak tetap sekolah,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca, Selasa (3/3/2026).

Anaknya kini tengah menempuh pendidikan tinggi di STKIP Sinar Pancasila Betun. Bagi Yosefina, bangku kuliah itu adalah harapan agar sang anak kelak tidak merasakan pahitnya hidup dalam kemiskinan seperti yang ia jalani.

Rumah yang ditinggalinya jauh dari standar hunian layak. Dindingnya terbuat dari pelepah bebak dan seng bekas yang dipasang tidak rapi.

Beberapa bagian terlihat miring dan harus ditopang kayu agar tidak roboh. Atap dari daun lontar sudah lapuk dan renggang, sehingga air hujan mudah masuk ke dalam rumah.

“Kalau hujan itu biasa air masuk, tidak bisa masak. Jadi untuk makan saya biasa pergi makan di keluarga di Welolo, setelah itu baru pulang untuk tidur,” katanya pelan.

Baca juga: DPRD Malaka Terima Aspirasi Warga Boen, Janji Sampaikan ke Pimpinan dan Pemda

Lantai rumah masih berupa tanah tanpa plester. Saat hujan turun, bagian dalam rumah menjadi becek dan lembap. Meski demikian, Yosefina tak pernah mengeluh panjang. Baginya, kondisi itu adalah risiko yang harus diterima demi pendidikan anak.

Untuk menyambung hidup, Yosefina bekerja sebagai petani. Ia menanam jagung, ubi, dan pisang di kebun kecilnya. Selain itu, ia juga menenun kain tradisional. Jika beruntung, satu lembar tenunannya bisa terjual hingga Rp500.000 dan uangnya digunakan untuk biaya kuliah anak.

Tak jarang pula ia menjual kayu api demi tambahan penghasilan. Sejak 2021, ia menerima bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp900.000 setiap tiga bulan sekali, yang sebagian besar dialokasikan untuk kebutuhan pendidikan anak dan juga untuk kebutuhan makan minum sehari-hari mereka.

Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi rumah yang memprihatinkan, keteguhan hati Yosefina menjadi potret nyata perjuangan seorang ibu. Di balik gubuk sederhana itu, tersimpan harapan besar agar suatu hari nanti, pendidikan mampu mengubah nasib keluarganya. (ito)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.