Siasat Cerdas Iran Kuras Stok Rudal AS di Timteng, Tumbalkan Drone Murah
Saifullah March 03, 2026 07:03 PM

 

Iran menggunakan drone murah Shahed-136 untuk menyerang target di Timur Tengah, menekan sistem pertahanan AS dan sekutunya.

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki fase baru yang menyoroti ketimpangan biaya dalam peperangan modern. 

Iran memanfaatkan drone murah jenis Shahed-136 untuk menyerang berbagai target di Timur Tengah, mulai dari pangkalan militer hingga infrastruktur sipil.

Strategi ini bukan sekadar serangan fisik, melainkan upaya sistematis untuk menguras persediaan rudal pencegat mahal milik AS dan sekutunya di kawasan Teluk.

Sistem pertahanan udara Patriot buatan AS memang terbukti efektif dengan tingkat intersepsi di atas 90 persen. 

Namun, biaya yang dikeluarkan sangat timpang: satu rudal Patriot berharga sekitar 4 juta dolar AS, sementara satu unit drone Shahed hanya sekitar 20.000 dolar AS.

Ketimpangan ini membuat serangan drone murah menjadi senjata strategis yang mampu melemahkan lawan secara finansial dan logistik.

Baca juga: Sekutu Iran Buru Pasukan AS di Penampungan, Hotel di Erbil dan Kedubes AS di Riyadh Diserang Drone

Para analis menilai, hasil pertempuran bisa ditentukan oleh pihak mana yang lebih dulu kehabisan amunisi.

Sejak awal Maret 2026, Iran telah meluncurkan lebih dari 1.200 proyektil, sebagian besar berupa drone Shahed. 

Meski rudal balistik Iran diperkirakan masih tersimpan untuk serangan berkelanjutan, intensitas serangan drone sudah cukup untuk menekan sistem pertahanan AS dan negara-negara Teluk.

Qatar, misalnya, diperkirakan hanya memiliki persediaan rudal pencegat Patriot untuk empat hari ke depan jika tingkat penggunaan tetap tinggi.

Kondisi ini mendorong beberapa negara Teluk mendesak agar konflik segera diakhiri.

Di sisi lain, AS dan Israel mengandalkan sistem pertahanan canggih seperti Patriot PAC-3 dan THAAD. 

Baca juga: Drone Iran Hantam Kilang Saudi Aramco, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak

Namun, jumlah produksi rudal PAC-3 terbatas, hanya sekitar 600 unit sepanjang 2025.

Dengan ribuan rudal sudah ditembakkan sejak awal konflik, ancaman kehabisan stok menjadi nyata.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga mengoperasikan THAAD, tetapi biaya per rudal mencapai 12 juta dolar AS.

Sehingga penggunaannya untuk menghadapi drone murah dianggap tidak efisien.

Iran sendiri menghadapi keterbatasan. 

Serangan udara AS-Israel pada awal perang menghancurkan sebagian besar sistem pertahanan udara Iran, termasuk S-300 buatan Rusia.

Meski demikian, unit militer Iran tampak bergerak relatif independen dari kepemimpinan sipil, melancarkan serangan balasan ke pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk.

Baca juga: VIDEO - Serangan Drone Guncang Kilang Raksasa Saudi, Pasar Minyak Dunia Langsung Panik!

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi bahkan menyebut bahwa militer bertindak berdasarkan instruksi umum yang telah diberikan sebelumnya, tanpa koordinasi intensif dengan pemerintah.

Para pakar menilai strategi Iran adalah bentuk attrition strategy atau strategi pelemahan. 

Dengan membanjiri lawan menggunakan drone murah, Iran berharap stok rudal pencegat AS dan sekutunya terkuras, sementara tekanan politik di negara-negara Teluk meningkat.

Jika persediaan rudal mahal habis, AS dan Israel akan menghadapi dilema besar.

Melanjutkan operasi dengan risiko pertahanan melemah, atau menghentikan serangan untuk menghindari kerugian lebih lanjut.

Sementara itu, Israel tengah mengembangkan sistem pertahanan berbasis laser bernama Iron Beam yang diharapkan mampu menekan biaya intersepsi. 

Namun, teknologi ini belum digunakan dalam konflik saat ini.

Jika serangan Iran terus berlanjut dengan intensitas tinggi, persediaan rudal PAC-3 di kawasan bisa menipis dalam hitungan hari.

Kondisi ini berpotensi menciptakan kebuntuan, di mana kedua belah pihak sama-sama kehabisan amunisi ofensif maupun defensif.

Dalam 60 jam pertama perang, situasi menunjukkan bahwa meski Iran mengalami kerugian besar, strategi drone murah tetap memberi tekanan signifikan pada AS dan sekutunya. 

Konflik ini memperlihatkan wajah baru peperangan modern.

Bukan hanya soal teknologi canggih, tetapi juga bagaimana senjata murah dapat mengubah keseimbangan kekuatan global.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.