Hangatnya Cap Go Meh di Banjarmasin, Dimeriahkan Barongsai Usai Tarawih hingga 1.000 Porsi Lontong
Hari Widodo March 04, 2026 12:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Lampion merah bergantungan di langit-langit klenteng, cahaya lilin menyala berderet di altar, dan aroma dupa memenuhi ruangan. 

Di tengah suasana hangat itu, dentuman tambur barongsai terdengar setelah waktu salat tarawih usai.

Perayaan Cap Go Meh di Banjarmasin tahun ini terasa berbeda. Bukan hanya sebagai penutup rangkaian Imlek hari ke-15, tetapi juga menjadi panggung kecil toleransi di tengah bulan Ramadan.

Di Klenteng Soetji Nurani, Selasa (3/3/2026) malam, beberapa ekor barongsai tampak meliuk di dalam ruang ibadah yang dipenuhi lampion merah.

Baca juga: Suasana Hangat dan Penuh Warna Perayaan Imlek Bersama di Banjarmasin, Dihadiri 30 Etnis

Pengunjung berdiri menyaksikan, sebagian mengabadikan momen, sementara umat Tridharma tetap khusyuk bersembahyang di depan altar yang dipenuhi lilin dan hio.

Wakil Ketua Pengurus Klenteng Soetji Nurani, Djohan Jawonoe, mengatakan Cap Go Meh adalah penutup resmi perayaan Imlek.

“Cap go itu berarti lima belas. Jadi ini hari ke-15 sekaligus penutupan perayaan Imlek yang memang dirayakan selama lima belas hari,” ujarnya.

Menurutnya, tahun ini momen spesialnya bukan hanya perayaan, tetapi toleransi. Atraksi barongsai sengaja digelar setelah salat tarawih.

“Tahun-tahun sebelumnya biasanya jam delapan malam sudah mulai. Karena sekarang bertepatan dengan Ramadan, kami mulai sekitar pukul 9.30 malam, setelah saudara-saudara kita selesai tarawih,” jelasnya.

Tak hanya itu, musik pengiring barongsai pun diakulturasi dengan nuansa Ramadan. Meski cuaca hujan, atraksi barongsai tonggak atau taolo gebas, atraksi di atas tiang tetap dilanjutkan untuk beberapa saat.

“Tidak bisa penuh soalnya cuacanya tak mendukung,” tambahnya.

Tak jauh dari altar utama, ratusan piring tersusun rapi di atas meja panjang berbalut kain merah.  Di atasnya tersaji lontong Cap Go Meh, lontong khas Banjar dengan kuah kuning, telur, ayam, dan pelengkap lainnya. Sekitar 1.000 porsi disiapkan malam itu.

Djohan menjelaskan, lontong bukan sekadar hidangan.

“Lontong itu melambangkan panjang rezeki, bentuknya padat melambangkan kekerabatan, dan kuah kuning berarti keagungan serta kedewasaan. Setiap sajian di altar selalu ada filosofinya,” katanya.

Menariknya, makanan ini terbuka untuk umum. Siapa pun boleh menikmati.

“Tempat kami terbuka untuk siapa saja,” tegasnya.

Suasana serupa juga terlihat di Klenteng Po An Kiong. Di dalam ruang sembahyang, lilin-lilin merah tinggi menyala terang, dua perempuan berdiri khusyuk memanjatkan doa di depan altar yang dipenuhi cahaya.

perayaan cap go meh di banjarmasin 8
Sajian lontong pada perayaan Cap Go Meh di klenteng Sudji Nuraini Jalan Piere Tendean Banjarmasin, Selasa (3/3) malam.

Pengurus Klenteng Po An Kiong, Chitra Suryapandi, mengatakan umat mulai berdatangan sejak sore.

“Dari jam tiga sore sudah mulai sembahyang, dan hari ini benar-benar banyak yang datang,” ujarnya.

Baca juga: Semarak Imlek di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Penumpang Disambut Atraksi Barongsai

Meski tetap ada atraksi barongsai, perayaannya tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.

“Karena bertepatan dengan puasa, kami sama-sama menghormati saudara-saudara kita. Ini bentuk toleransi,” katanya.

Sebagai penutup perayaan Imlek di Tahun Kuda Api, harapan pun dipanjatkan.

“Mudah-mudahan negara kita aman, jangan sampai terlibat macam-macam. Dan semoga ekonomi semakin membaik,” ucap Chitra. (Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.