Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Umat Khonghucu yang ada di Manado dan sekitarnya berbangga.
Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanus, Wagub Sulut, Victor Mailangkay, Wali Kota Manado, Andrei Angouw dan Forkompimda merayakan Cap Go Meh 2577 Kongzili.
Bahkan, bagi Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, ini perayaan Cap Go Meh atau Goan Siau yang pertama di Manado.
Lebih istimewa lagi, Gubernur YSK, Wagub J. Victor Mailangkay, Wali Kota Andrei Angouw dan Wawali Richard Sualang merayakan khusus bersama umat Khonghucu.
Selain bersilaturahmi memberi ucapan selamat, gubernur dan rombongan ramah-tamah bersama umat Khonghucu di Klenteng Kong Zi Miao.
Turut juga dalam perjumpaan ini, Tokoh Masyarakat Tionghoa Sulut, Hengky Wijaya; Danrem 131/Santiago, Brigjen TNI Martin SM Turnip; Kepala BI Sulut, Joko Supratikto; Plh Sekprov, Denny Mangala; Sekkot Manado, Steaven Dandel dan Forkompimda lainnya.
Kehadiran gubernur, wali kota dan Forkompimda membawa rasa syukur bagi umat Khonghucu.
Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Manado, Js Heintje Lintong mengungkapkan, umat berterima kasih atas perhatian pemerintah.
"Kami bersyukur dan bangga karena pemerintah turut merayakan Goan Siau di Klenteng Kong Zi Miao," katanya.
Sementara, Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Sulawesi Utara, Ws Pon Riano Bagy menjelaskan makna Cap Go Meh atau Goan Siau bagi umat Khonghucu.
Perayaan ini merupakan penutup rangkaian sembahyang Imlek yang sudah dimulai dua minggu sebelum tahun baru.
"Rangkaian sembahyang berakhir, ditutup hari ini. Artinya apa? Perayaan tahun baru sudah selesai," kata Riano.
Katanya, momen perayaan tahun baru Sudah selesai dan umat kembali beraktivitas seperti biasa. Kembali bekerja untuk mengisi kehidupan di tahun kuda api.
"Cap Go Meh ini, kalau diibaratkan dengan perayaan orang Minahasa, ini seperti Kuncikan, momen Kunci Taong (tahun)," katanya lagi.
Perayaan Cap Go Meh atau Goan Siau 2577 Kongzili (2026) di Manado, Sulawesi Utara, Selasa 3 Maret 2026 sangat meriah.
Ribuan orang menyaksikan perayaan yang memadukan atraksi budaya dan ritual keagamaan ini.
Mereka memadati Kawasan Pertokoan 45 (Pecinan) Manado. Jalan-jalan yang jadi rute arak-arakan seperti Jalan DI Panjaitan, Jalan Soetomo dan Jalan Walanda Maramis dipadati warga.
Perayaan Cap Go Meh tidak sekadar ritual keagamaan. Ini menjadi momen akulturasi budaya Sulawesi Utara.
Sejumlah atraksi budaya turut mewarnai perayaan Cap Go Meh kali ini.
Barisan Penari Kabasaran membuka arak-arakan barisan non ritual. Para penari perang tampil paling depan. Seolah menjadi pembuka Jalan bagi rombongan Cap Go Meh.
Selain Kabasaran, musim Bambu Klarinet mengambil bagian memberi warna budaya pada perayaan ini.
Selain itu, tampil juga barisan Paskibraka Kota Manado, drumband pelajar, BKSAUA, siswa SMP Sekolah Rakyat Manado, atlet dansa IODI (Ikatan Olahraga Dansa Indonesia) dan atlet wushu.
Atraksi barongsai yang berkolaborasi dengan Tarian Naga menjadikan perayaan ini semakin meriah.
Setiap perkumpulan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) hadir dengan barongsai dan Tari Naga. Ada juga yang membawa kelompok musim bambu bersama dalam rombongan.
Tentu saja, penampilan para tangshin (tanci) menjadi daya tarik utama perayaan Cap Go Meh ini.
Sebanyak 11 tangshin tampil dalam arak-arakan barisan ritual. Para tangshin ini berasal dari sembilan klenteng di Manado.
Mereka diarak di atas kio (tandu) yang dipikul umat berbaju putih. Alunan musik dan tabuhan tambur serta nyanyian khas nan seragam mengiringi tangshin beraksi.
Komisariat Perhimpunan TITD Sulawesi Utara, Ferry Sondakh mengungkapkan, perayaan Cap Go Meh kali ini istimewa karena bertepatan di Bulan Ramadan.
Selain itu, bersamaan di Minggu Sengsara saat umat Nasrani menghayati pengorbanan Yesus Kristus.
"Peracayaan Cap Go Meh jatuh pada tanggal 15 bulan pertama setelah Imlek. Ini spesial karena bersamaan dengan dua momen keagamaan, Bulan Puasa dan pra-Paskah. Ini momen memperkuat kerukunan Sulawesi Utara yang cinta damai," kata Sondakh.
Buat sebuah kebetulan, tema perayaan Cap Go Meh tahun ini adalah Harmoni Nusantara
Katanya, selain ritual keagamaan dan budaya, Cap Go Meh Manado menjadi ikon pariwisata daerah ini.
Lebih dari itu, Sondakh mengungkapkan, Cap Go Meh memiliki pengertian bahwa Tuhan sebagai penguasa alam semesta.
"Perayaan ini mengandung makna semua mahluk hidup hidup selaras dengan alam.
Mengembalikan semua ciptaan kepada ikhwalnya," katanya.
Perayaan Cap Go Meh berlangsung hingga malam hari. Ribuan warga rela menyaksikan perayaan itu hingga selesai.
Pesta kembang api menutup rangkaian Cap Go Meh. Langit Pecinan Manado terang benderang. Ribuan warga pun bersorak. (ndo)