Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Arsitektur unik penuh makna tampak jelas di Masjid Merah Kedung Menjangan yang berdiri di perbatasan Kota dan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Bangunan ini tak sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi akulturasi budaya sejak masa kerajaan.
Nuansa Majapahit berpadu dengan sentuhan Tiongkok dan kearifan lokal Cirebon, menghadirkan simbol toleransi yang masih terjaga hingga kini.
Dari luar, gapura bata merah dengan pola khas Majapahit langsung mencuri perhatian.
Ornamen piring keramik Tiongkok menempel di sejumlah sudut bangunan, memperkuat jejak sejarah yang konon berkaitan dengan masa dakwah Sunan Gunung Jati.
Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Nurbuwat ini memiliki filosofi mendalam pada setiap detailnya.
Muadzin Masjid Kedung Menjangan, Juhana menuturkan, bahwa struktur bangunan dibuat menyerupai keraton.
“Desainnya kan ini boleh dikatakan Gusti Sunan, kan anaknya sebagai Raja ya, Raja Kesepuhan. Akhirnya ya dibikinlah strukturnya seperti keraton. Adapun pernak-pernik dari piring, kan ada seleranya Gusti Sunan yang dari negeri seberang itu, dari China ya, Lie Lanying,” ujar Juhana saat diwawancarai, Rabu (4/3/2026).
Baca juga: Sehelai Rambut Jadi Amal di Bulan Ramadhan, Seniman Cukur Garut Baksos Cukur Bayar Suka-suka
Menurutnya, pembangunan masjid yang berlokasi di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti itu memiliki kisah tersendiri.
Konon, masjid dibangun setiap malam selama 100 hari oleh jumlah warga yang tak banyak.
“Dapat dua hari ini harus dibikinnya 100 hari. Selesai dan tidak selesainya, cuma sedikit lagi Pak yang belum selesai,” ucapnya.
Filosofi Angka dan Warna
Masuk ke bagian dalam, suasana berubah menjadi dominan putih, mencerminkan sentuhan Keraton Cirebon sekaligus simbol kesucian batin.
Jumlah tiang pun bukan tanpa makna. Terdapat 33 tiang berwarna merah dan 17 tiang berwarna putih.
“Kalau yang ini 17 (anak tangga), berarti menandakan 17 rakaat. Kalau di dalam 9, Sembilan Wali. Kalau disebut Masjid Merah, merah itu ‘berani untuk kebenaran’, membela yang benar. Kalau yang di dalamnya putih, itu untuk suci atau kebersihan batin,” jelas dia.
Menara pagoda sembilan tingkat dengan atap ala Tiongkok menjadi ikon tersendiri.
Bentuknya menjulang dan berbeda dari masjid pada umumnya.
Baca juga: Daftar Ruas Tol dan Non-Tol yang Batasi Operasional Truk Berat di Jabar Pada 13-29 Maret
“Pagoda itu menandakan ketinggian ilmu ya. Itu kan ada sembilan tahap, semuanya sembilan. Makanya Sembilan Wali. Sembilan pagoda juga menuruti arahan-arahan beliau (Sunan Gunung Jati),” katanya.
Tak hanya itu, di bawah mimbar terdapat batu besar yang kini tertutup keramik.
“Kalau yang di mimbar itu ada batu juga sebesar mobil, cuma kan ditutup keramik. Karena kalau diperlihatkan nanti juga musyrik ya, kan persepsinya beda, akhirnya ditutup,” ujarnya.
Sumur Wasiat yang Tak Pernah Kering
Bergeser ke area tempat wudu, terdapat lima gentong air.
Meski satu di antaranya pecah, jumlah lima tetap dipertahankan sebagai simbol lima waktu salat wajib.
Tak jauh dari situ, terdapat sumur yang dikenal dengan nama Sumur Wasiat. Airnya jernih dan dipercaya tak pernah habis meski kerap digunakan.
Juhana menyebut, sumur tersebut diyakini sebagai lokasi tapa atau semedi pada masa lampau.
“Kalau sumur itu yang di situ tempat mandi sama wudu. Kalau di sini sebenarnya sumur itu tempatnya tapa beliau, semedi. Akhirnya mengeluarkan air, ada mata air. Makanya ada batunya di bawahnya itu. Masih ada batunya, cuma airnya agak penuh jadi tidak kelihatan,” ucap Juhana.
Baca juga: Satu Unit Mobil Rusak Tertimpa Pohon Tumbang di Dago
Warga setempat, Sobari (63) mengatakan, sumur tersebut sering didatangi pengunjung dari berbagai daerah untuk mencari keberkahan.
“Kalau ini untuk pengobatan, untuk mandi. Yang dari Palembang, dari mana, terus kadang-kadang dimandiin di sini. Ambil barokahnya ya, alhamdulillah semuanya istilahnya sukses,” jelas Sobari.
Ia menambahkan, sumur itu memiliki sejarah panjang.
“Ini ada sejarahnya. Sejarahnya yang disebut Sumur Wasiat. Sumur Wasiat itu sumur titipan dari zaman perwalian,” katanya.
Sentuhan Khas Kudus dan Toleransi Budaya
Detail lain yang tak kalah menarik adalah hiasan genting kecil menyerupai kubah yang dikenal sebagai 'memolo', identitas arsitektur khas Kudus.
Perpaduan Majapahit, Tiongkok, Keraton Cirebon, hingga sentuhan Kudus membuat Masjid Merah Kedung Menjangan menjadi simbol nyata akulturasi budaya Nusantara.
Di tengah modernisasi, masjid ini tetap berdiri kokoh, menyimpan jejak sejarah sekaligus pesan toleransi lintas zaman.
Bagi sebagian orang, ia bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga ruang untuk menelusuri warisan peradaban yang masih hidup hingga hari ini. (*)