SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menguasai sepenuhnya Selat Hormuz (Strait of Hormuz), jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi global.
Ia menegaskan bahwa selat tersebut kini berada “di bawah kendali penuh Angkatan Laut Republik Islam Iran” dan menyebut tidak mungkin kapal mana pun dapat melintas tanpa sepengetahuan dan pengawasan Iran.
IRGC bahkan mengklaim lebih dari 10 kapal tanker minyak telah menjadi target di tengah memanasnya konflik.
Baca juga: Gelombang Serangan ke-16 Iran Hancurkan Kota Besar Israel, Pasukan Darat IRGC Turun ke Medan Perang
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati perairan ini setiap harinya.
Gangguan di kawasan tersebut secara langsung memengaruhi rantai pasok energi global, harga minyak, serta stabilitas ekonomi berbagai negara pengimpor energi.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS siap mengawal kapal-kapal tanker yang melintas di kawasan itu.
Dalam unggahannya di media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memastikan “arus bebas energi ke seluruh dunia.”
Ia juga menekankan kekuatan ekonomi dan militer AS sebagai yang terbesar di dunia, serta mengisyaratkan kemungkinan langkah lanjutan dalam waktu dekat.
Langkah ini dinilai sebagai respons atas kekhawatiran bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memperburuk krisis energi global dan memperluas dampak konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Meski IRGC menyatakan penguasaan penuh, laporan dari Reuters menyebut sebuah kapal tanker melakukan pelayaran langka melalui Selat Hormuz menuju pelabuhan Abu Dhabi di Uni Emirat Arab untuk memuat minyak mentah.
Menurut data pelacakan kapal, tanker tersebut mematikan sistem pelacak otomatis (AIS) saat mendekati selat pada Senin malam dan kembali terdeteksi pada Selasa di perairan lepas Abu Dhabi.
Praktik mematikan pelacak AIS sering dilakukan kapal di wilayah berisiko tinggi guna alasan keamanan.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi ancaman dan klaim penutupan, masih terdapat pergerakan kapal dengan pengamanan khusus atau jalur terbatas.
Dampak ketegangan ini terlihat jelas pada aktivitas pelayaran global.
Data Clarksons Research yang dikutip Associated Press memperkirakan sekitar 3.200 kapal—setara 4 persen dari total tonase kapal dunia—saat ini menganggur di kawasan Teluk.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.230 kapal diperkirakan beroperasi secara domestik di wilayah Teluk.
Sementara itu, sekitar 500 kapal atau 1 persen tonase global dilaporkan menunggu di luar kawasan Teluk, termasuk di pelabuhan lepas pantai Oman dan Uni Emirat Arab.
Baca juga: Iran Serang Gedung CIA Amerika Serikat Pakai Drone
Penutupan jalur pelayaran ini juga diperparah oleh penutupan wilayah udara di sejumlah negara Timur Tengah, sehingga penerbangan kargo udara turut terganggu.
Akibatnya, rantai pasok global—mulai dari energi hingga barang konsumsi—mengalami tekanan serius.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent melonjak hingga di atas 82 dolar AS per barel.
Kenaikan ini mencapai lebih dari 13 persen sejak konflik dimulai dan menjadi level tertinggi sejak Juli 2024.
Lonjakan harga tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz.
Para analis memperingatkan bahwa jika eskalasi berlanjut, harga minyak bisa menembus level yang lebih tinggi dan memicu inflasi global.
Sementara itu, Pakistan mengambil langkah cepat untuk mengamankan pasokan energinya.
Pemerintah Islamabad meminta Arab Saudi mengalihkan pengiriman minyak melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah guna menghindari jalur Selat Hormuz.
Kementerian Energi Pakistan menyatakan bahwa otoritas Saudi telah menjamin keamanan pasokan melalui Yanbu, dan satu kapal telah dijadwalkan berlayar untuk memuat minyak mentah bagi Pakistan.
Menteri Perminyakan Ali Pervaiz Malik mengatakan sebagian besar impor energi Pakistan biasanya melewati Selat Hormuz, sehingga pemerintah memantau ketat situasi guna memastikan kelangsungan suplai.
Ancaman terhadap Stabilitas Global
Ketegangan di Selat Hormuz menyoroti betapa vitalnya jalur tersebut bagi perekonomian dunia.
Setiap gangguan, baik akibat konflik militer maupun kebijakan politik, berpotensi memicu dampak berantai terhadap harga energi, inflasi, serta stabilitas geopolitik.
Dengan meningkatnya retorika militer dan langkah pengamanan dari berbagai pihak, komunitas internasional kini menanti apakah diplomasi masih dapat meredakan situasi atau justru kawasan tersebut akan memasuki fase eskalasi yang lebih luas.
Baca juga: Gelombang Penolakan terhadap Turis Yahudi-Israel Menguat di Eropa, Satu Orang Patah Hidung