Pandemi COVID-19 ternyata tidak hanya mengubah kebiasaan manusia. Salah satu jenis burung, diketahui mengalami perubahan cepat pada paruhnya selama pandemi. Burung jenis apa?
Burung tersebut yaitu junco bermata gelap (), sejenis burung pipit kecil berwarna abu-abu gelap yang berasal dari Amerika Utara. Dalam sebuah penelitian, ilmuwan menemukan paruh burung junco bermata gelap menjadi lebih panjang selama pandemi.
Kemudian baru-baru ini, jauh setelah pandemi, paruh kembali ke ukuran semula. Studi temuan ini telah terbit di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 15 Desember 2025 lalu.
Perubahan karena Faktor Manusia
Dalam temuannya, peneliti menjelaskan bahwa perubahan paruh pipit kecil Amerika Utara tersebut dipengaruhi makanan sisa yang dibuang manusia. Perubahan ini sekaligus menunjukkan betapa "cepat dan kuatnya" manusia dapat memengaruhi hewan.
Biasanya, selama musim dingin burung junco akan kerap mampir di tempat makan burung lain untuk mencari remahan sisa di bawahnya. Kemudian pada musim panas dan semi, mereka berada di hutan konifer untuk berkembang biak.
Sekitar 25 tahun lalu, burung junco kemudian masuk wilayah Los Angeles. Mereka beradaptasi di lingkungan baru, memiliki sayap lebih pendek, dan paruh lebih tumpul dibanding burung sejenisnya yang hidup di hutan dan pegunungan, demikian dilansir Smithsonian Magazine.
Adaptasi ini yang kemudian menjadi sorotan para ilmuwan. Mereka menilai perubahan paruh lebih pendek dan tebal dipengaruhi pola sisa makanan cepat saji yang dibuang manusia.
"Namun ketika pandemi melanda dan lebih sedikit orang yang berjalan-jalan di sekitar universitas, burung junco bermata gelap yang hidup di kampus tiba-tiba kehilangan makanan mudah mereka, yang tampaknya telah memengaruhi generasi berikutnya," kata laporan para peneliti.
Paruh Memanjang saat Lockdown, Kembali Menebal Setelahnya
Saat pandemi melanda pada 2020 dan diberlakukan, pola makan burung janco berubah. Mereka kehilangan sumber makanan instan mereka yang menyebabkan perubahan struktur paruh pada generasi setelahnya.
Diketahui jika burung janco yang lahir tahun 2020, memiliki struktur paruh yang pendek dan tebal seperti burung perkotaan kebanyakan. Sementara, keturunan mereka yang lahir pada 2021 dan 2022, memiliki bentuk paruh lebih ramping dan panjang seperti burung liar.
Uniknya, setelah selesai pada 2023 dan 2024, paruh khas burung janco yang tebal dan pendek kembali seperti semula.
"Sejujurnya, kami cukup terkejut ketika melihat betapa kuatnya perubahan itu," kata Eleanor Diamant, salah satu penulis studi dan ahli ekologi di Bard College.
Para peneliti belum memastikan penyebab pasti dari perubahan struktur paruh tersebut. namun diketahui bahwa burung janco dengan paruh panjang dan ramping, akan lebih mudah bertahan hidup dan berkembang biak saat manusia menghilang. Sifat itu yang kemudian diwariskan pada keturunannya.
"Burung-burung dengan paruh yang meningkatkan keberhasilan mereka dalam mencari biji-bijian mungkin mendapatkan lebih banyak makanan dan membesarkan lebih banyak anak," lanjut Diamant.
Terlepas dari berbagai kemungkinan, studi ini jelas memperkuat pemahaman tentang manusia yang memengaruhi fisiologi satwa liar. Selain itu, studi ini juga memberikan pandangan baru bahwa evolusi hewan bisa cepat terjadi dan tak perlu bertahap selama ribuan tahun.
Dalam kasus lain, perubahan fisik menjadi lebih gelap terjadi pada ngengat berbintik. Hal ini disebabkan karena polusi udara selama revolusi industri. Hal serupa lainnya juga terjadi pada paruh burung kolibri Anna yang tumbuh lebih panjang dan besar.
Rakun perkotaan bermoncong pendek, beruang sekitar pedesaan di Italia bertubuh kecil dan kurang agresif, serta beberapa gajah Afrika berhenti tumbuh gadingnya. Perubahan fisiologis hewan-hewan tersebut, jelas karena pengaruh aktivitas manusia.







