TRIBUNPEKANBARU.COM, ROHIL - Menjadi guru adalah panggilan hidup seorang Maspan.
Selama 16 tahun lebih ia mengabdi, hingga kini ia hanya menerima gaji Rp 1,5 juta.
Dengan gaji itu ia harus menghidupi istri dan lima orang anaknya.
Maspan adalah kepala sekolah di SMA Muhammadiyah Bangko, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil).
Sebelum menjadi kepala sekolah, Maspan sudah mengabdi menjadi guru semenjak tahun 2010 lalu.
Ia bercerita sudah berulang kali pindah sekolah, mulai dari SMK Rokan, SMP IT dan sekarang di SMA S Muhammadiyah Bangko.
Awal menjadi guru honorer, Maspan bercerita sempat merima bantuan berupa honor dari pemerintah daerah.
"Kalau awal 2010 dulu masih ada honor daerah 800 perbulan cma sampai tahun 2016 setelah itu tak ada lagi, honor dari komite atau yayasanlah," ujarnya.
Baca juga: Ratusan Guru Bantu di Riau Terancam Dirumahkan Akibat Kebijakan Penggajian
Baca juga: Guru Honor di Kuansing Pernah Bergaji Rp 700 Ribu Selama 7 Tahun
Sementara itu gaji dari yayasan tidaklah besar.
Gaji ditentukan berdasarkan jam mengajar dan jabatan.
"Kalau dari yayasan tergantung jam dan jabatan kita, klo hanya jam mengajar kisaran Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu, tambah kalau ada jabatan bisa kadang sampai Rp 1 juta," ujarnya.
Gaji tersebut tidak layak, namun ia tetap terima. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup 1 bulan nilai tersebut sangat tidak cukup.
Karena itu ia harus mencari tambahan lain di luar sekolah dan dibantu sang istri dengan berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Karena gaji yang kecil, Maspan mengaku sempat kehilangan semangat mengajar dan memutuskan berhenti. Namun dunia pendidikan tampaknya masih membutuhkan Maspan, sehingga ia dipanggil kembali untuk mengabdi menjadi kepala sekolah.
(Tribunpekanbaru.com/Bynton Simanungkalit)