Trump Klaim Kekuatan Udara Iran Lumpuh, Pentagon: Pasukan AS Masih dalam Bahaya
Heriani AM March 05, 2026 06:19 AM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kekuatan militer Iran telah dilumpuhkan setelah empat hari gempuran besar-besaran. 

Ia menyebut pertahanan udara, angkatan laut, hingga struktur kepemimpinan Teheran dalam kondisi hancur.

Namun pernyataan optimistis tersebut berbanding terbalik dengan pengakuan pejabat tinggi militernya sendiri.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengingatkan bahwa pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah masih berada dalam ancaman serangan balasan, termasuk dari drone dan rudal Iran.

Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran Berdampak ke MotoGP 2026, Pengiriman Logistik Terkendala Penerbangan

Meski mengklaim AS mulai menguasai wilayah udara Iran, Hegseth tidak berani menjamin bahwa serangan udara Iran ke fasilitas militer AS dan sekutu akan berhenti.

Ia mengatakan meskipun pertahanan udara ditingkatkan secara maksimal, risiko serangan drone atau rudal Iran yang menembus pertahanan tetap ada dan berpotensi menimbulkan korban jiwa di pihak AS.

Senada dengan Menhan, Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, menegaskan tentara AS di Timur Tengah masih dalam kondisi sangat rentan.

"Militer AS tetap berada dalam bahaya, kita harus sadar bahwa risikonya masih sangat tinggi," tegas Caine.

Ketidaksesuaian juga terlihat dari estimasi durasi konflik.

Jika Trump memprediksi kampanye militer ini hanya akan memakan waktu empat hingga lima minggu, Hegseth justru mensinyalir kemungkinan perang atrisi yang lebih panjang, bahkan bisa sampai delapan minggu atau lebih.

Baca juga: Trump Ancam Embargo, Spanyol Tetap tak Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militernya untuk Perang Iran

Saat ini, situasi di lapangan tetap mencekam. Laporan Bulan Sabit Merah menyebutkan sedikitnya 780 orang tewas di Iran sejak Sabtu lalu akibat ledakan yang terus bergulir.

Meski Trump mengklaim lawan sudah lumpuh, Teheran justru membalas dengan meluncurkan rudal dan drone mematikan ke arah Israel serta negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.

Bahkan, Teheran bersumpah untuk menghancurkan total infrastruktur militer dan ekonomi di Timur Tengah.

Itu merupakan sinyal kuat bahwa klaim Trump yang menyebut kekuatan udara Iran lumpuh, masih terlalu dini.

Di sisi lain, Pentagon terus mendatangkan jet tempur dan pesawat pengebom tambahan ke wilayah tersebut.

Langkah tersebut, bisa diduga sebagai persiapan perang besar daripada perayaan kemenangan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.