"Allahu Akbar" Jerit Cucum saat Melihat 2 Labu Siam yang Membuat Kakaknya Dihajar hingga Meninggal
TRIBUNJATENG.COM - Hancur hati Cucum Suhendra (50) saat melihat dua labu siam itu.
Labu siam itulah yang membuat kakaknya, Minta (56), dihajar hingga meninggal dunia.
Peristiwa memillukan ini terjadi di Kabupaten Cianjur, pada Sabtu (28/2/2026).
Cucum menyaksikan sendiri saat kakaknya dihajar tanpa ampun, sementara ia hanya bisa terpaku, tak berani melerai.
Pelaku, Ujang Ahmad (40), mempergoki Minta mengambil dua buah labu siam dari kebunnya.
Baca juga: Bocah SD Dibunuh Kakaknya Disabet Golok Berkali-kali, Mayat Ditemukan di Balik Kasur
Baca juga: Sidang Vonis Teguh dan Botok: Tantangan Sumpah Pocong hingga Sosok Saksi Misterius Mulyanto
Emosi, Ujang langsung mengejar korban hingga ke depan rumahnya.
Di sana, Minta dianiaya secara brutal. Ujang menonjok dan menendangnya hingga tersungkur ke tanah.
Cucum mengaku hanya bisa diam saat melihat kakaknya dipukuli. Ia takut jika mencoba membantu, justru akan dianggap ikut campur dan memperkeruh keadaan.
"Kalau misalkan saya membantu takutnya dianggap sabotase, sama pelaku," ucap Cucum.
Ketika Ujang pergi, Cucum langsung berusaha membangunkan Minta yang sudah jatuh tersungkur di tanah.
Akibat penganiayaan itu, Minta menderita luka di dahi, kelopak mata sebelah kanan, leher, lengan, siku, dan kaki.
Bahkan dari hidung Minta mengeluarkan darah dan kepala bagian belakangnya terdapat benjolan.
Tak bisa berbuat banyak saat kakaknya dianiaya, Cucum kini hanya bisa menangis mengungkapkan penyesalan yang mendalam.
"Makanya saya diam saja, itu yang saya..." ucapnya dengan suara bergetar.
"Menyaksikan saya (kakaknya dianiaya), sampai pelakunya pulang. Pas pelakunya pulang saya baru bisa menolong," imbuhnya.
Dengan kondisi luka parah, Minta lalu berjalan sempoyongan ke rumahnya.
"Dia pulang ke rumah sambil berjalan seloyongan, mungkin sakit kepalanya," kata Cucum.
Kepada sang adik, Minta kemudian menunjukkan dua buah labu siam yang sempat diambilnya dari kebun Ujang.
Buruh serabutan itu mengaku ingin memasak labu siam tersebut untuk santapan berbuka puasa.
Mendengar pengakuan itu, air mata Cucum sontak tumpah.
"Bawa labunya 2, 'ini yang saya curi, tadinya mau dimasak buat buka puasa' itu saya menyesal di hati," kata Cucum pilu.
"Puasa dia saat itu, dikasih tau sama korban 'ini yang saya curi', Allahu Akbar," imbuhnya.
Tak lama setelah kejadian, korban muntah-muntah dan pingsan. Dua hari kemudian, Minta dilaporkan meninggal dunia di rumahnya.
Keluarga melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Untuk memastikan penyebab kematian, jenazah korban dibawa ke RSUD Sayang guna dilakukan autopsi.
Tita (43), adik korban yang lain menceritakan bahwa sebelum peristiwa tragis menimpa kakaknya, ibu mereka sempat meminta ingin makan sayur.
Namun karena korban tidak memiliki uang, Minta pergi ke kebun dan diduga mengambil labu siam untuk dimasak.
“Labu itu untuk makan emak. Emak ingin makan sayur."
"Kakak saya bawa dua labu siam."
"Hendak dimasak, pelaku datang ke rumah kami,” kesaksian Tita seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
Tita menyebutkan bahwa selama ini korban tinggal berdua bersama ibu mereka yang sudah jompo.
Kakak Tita lah yang selama ini merawat ibu mereka. Sementara Tita tinggal di tempat lain bersama keluarganya.
Sebelum meninggal, ungkap Tita, korban sempat datang ke rumahnya untuk meminta beras.
Namun Tita justru memberikan nasi beserta lauk pauk agar lebih praktis dibawa pulang.
“Selama ini, yang mengurus emak itu kakak saya. Jadi di rumah ini cuma tinggal berdua."
"Sudah lama kakak mengurus emak, sejak bercerai,” kata dia.
Pasca kejadian ini, Tita akan mengambil alih tanggung jawab merawat ibunya.
Namun, rencananya sang ibu akan dibawa ke Bogor Jawa Barat untuk tinggal bersama saudara tertua mereka.
“Kalau sehari-hari, kakak saya ini tidak bekerja tetap, hanya serabutan. Itu pun kalau ada yang menyuruh,” ujar Tita.
Meski kehilangan saudara kandung yang selama ini menjadi tulang punggung perawatan sang ibu, Tita tidak menaruh dendam terhadap pelaku.
Dia hanya berharap hukum dapat ditegakkan seadil-adilnya dan pelaku menerima hukuman setimpal atas perbuatannya.
Ujang kini telah ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Ia ditangkap di kediamannya setelah polisi menerima laporan dari keluarga korban.
Kapolsek Cugenang, Kompol Usep Nurdin, mengatakan peristiwa itu bermula dari dugaan pencurian dua buah labu siam di kebun milik tersangka.
“Mengetahui buah labunya dicuri, tersangka kemudian mengejar hingga ke depan rumah korban dan langsung melakukan penganiayaan dengan cara memukul dan menendang hingga korban mengalami sejumlah luka pada bagian kepala dan wajahnya,” kata Usep.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian menyatakan keprihatinan atas penganiayaan yang menewaskan seorang warganya terkait dugaan pencurian labu siam.
Menurut Wahyu, peristiwa tersebut tidak lepas dari faktor kemiskinan dan keterbatasan ekonomi korban.
“Tentu di sini ada yang salah, dan kami dari pemerintah daerah memiliki kewajiban dan harus bertanggung jawab. Kami tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi di mana kemiskinan dan ketidakmampuan menjadi bencana bagi masyarakat,” ujar Wahyu di rumah duka, Rabu (4/3/2026) petang.
Wahyu menyebutkan, berdasarkan data pemerintah, korban terdaftar sebagai penerima sejumlah bantuan sosial, mulai dari BLT, BPJS, dan bantuan pangan beras.
Meski demikian, ia meminta jajarannya memperketat pendataan dan pengawasan terhadap warga tidak mampu dan kelompok rentan ekonomi.
“Saya akan menginstruksikan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta instansi terkait lainnya untuk melakukan pendataan dan memverifikasi ulang penerima bantuan, agar penyalurannya bisa tepat sasaran,” tutur dia.
Wahyu juga berharap, pemerintah kecamatan, desa, serta perangkat RT dan RW di lingkungan masing-masing memiliki kepekaan terhadap kondisi warga yang tidak mampu dan memiliki kerentanan ekonomi.
“Untuk ibunya yang sudah jompo dan selama ini dirawat korban, mulai saat ini akan diurus oleh pemda, kami harus hadir dan bertanggung jawab,” ujar Wahyu. (*)
Baca juga: Angin Kencang Terjang Jateng, 3 Tewas, Ratusan Rumah Rusak
Baca juga: Sidang Vonis Teguh dan Botok: Tantangan Sumpah Pocong hingga Sosok Saksi Misterius Mulyanto