Turis Singapura Akhirnya Pulang, Penerbangan Pertama dari Dubai Tiba di Changi
GH News March 05, 2026 04:09 PM
Singapura -

Setelah berhari-hari terjebak di Timur Tengah akibat eskalasi perang Iran, para turis Singapura akhirnya bisa bernapas lega. Penerbangan pertama dari Dubai, Uni Emirates Arab (UEA) mendarat di Bandara Changi, Kamis (5/3/2026) pagi. Penerbangan EK314, dioperasikan oleh Emirates, lepas landas dari Dubai pada Rabu, sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Pesawat itu tiba di Changi pada Kamis, sekitar pukul 08.15.

Pesawat itu sampai di Singapura saat maskapai di seluruh dunia masih membatalkan atau menangguhkan layanan ke dan dari wilayah Timur Tengah, karena konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran belum mereda. Warga Singapura dipulangkan dengan Emirates.

Ya, Emirates memang mengumumkan untuk mengoperasikan sejumlah penerbangan terbatas untuk evakuasi dan pengiriman kargo di tengah krisis yang masih berlangsung. Salah satunya untuk memulangkan warga Singapura dari Dubai.

Salah satu penumpang, Carl Rajoo (43), yang seorang ekonom, terjebak di Dubai selama empat hari akibat pembatalan penerbangan berulang.

"Saya sangat lega bisa kembali," kata Rajoo dikutip .

Rajoo seharusnya terbang kembali ke Singapura pada Sabtu sebelumnya, tapi penerbangannya dibatalkan saat dia sudah berada di bandara.

"Saya bahkan tidak tahu penerbangan dibatalkan, saya sudah sampai di bandara. Jadi agak menegangkan," kata Rajoo.

Setelah mengetahui situasi itu, dia pun memesan kamar hotel terdekat dan menghubungi perusahaannya untuk mencari penerbangan alternatif. Meski akhirnya berhasil naik penerbangan pukul 21.00, Rajoo masih memiliki teman-teman yang terjebak di Timur Tengah.

Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA) bersama perwakilan di UEA meminta warganya yang terjebak dan ingin segera pulang untuk mendaftarkan agar bisa dievakuasi. Di saat bersamaan MFA juga mengimbau agar warga Singapura menunda perjalanan baru ke kawasan tersebut.

Selama penerbangan, Rajoo mengaku cukup tenang.

"Saya merasa aman ketika ruang udara dibuka. Mereka tidak akan membukanya kalau masih ada rudal yang melintas," ujar dia.

Dia tak memungkiri merasa begitu cemas pada awal konflik terjadi, ketika peringatan rudal dan ledakan terdengar di udara.

Di Bandara Changi, dia disambut oleh orang tua Rajoo, Gerald Rajoo dan Teresa Ooi, serta istrinya Geraldine Lin.

"Kami sangat senang dan bersyukur. Kami berdoa setiap hari," kata Ooi.

Lin menambahkan perusahaan suaminya dan MFA sangat mendukung selama proses evakuasi, meski mereka tetap berhati-hati agar tidak terlalu berharap sebelum pesawat benar-benar lepas landas.

Tak hanya Rajoo, pasangan Kapten Ashok K Batura dan istrinya Sarita Batura, Konsul Kehormatan Malta di Singapura, juga akhirnya bisa kembali ke Singapura setelah penerbangan dari Dubai. Mereka disambut hangat oleh putri dan dua cucu mereka yang menyiapkan spanduk sambutan.

"Setiap hari saya khawatir apakah akan bisa pulang," kata Sarita.

Pasangan Batura awalnya melakukan perjalanan kerja ke Malta pada akhir Februari, dengan transit di Dubai. Penerbangan mereka juga sempat dibatalkan. Kemudian, proses pemesanan ulang menjadi tantangan karena sulit menghubungi Emirates di Dubai.

Selama penerbangan, pasangan itu merasa lebih tegang.

"Ketika Anda naik pesawat, hampir penerbangan pertama keluar dari zona perang, Anda tidak tahu apakah akan sampai rumah atau tidak. Segala sesuatu bisa terjadi pada pesawat," ujar Kapten Ashok.

Pada pagi Kamis, CNA juga melihat beberapa penumpang lain sedang melakukan check-in untuk penerbangan Emirates ke Dubai yang dijadwalkan pukul 10.30, menunjukkan bahwa perjalanan perlahan mulai pulih meski ketidakpastian masih membayangi.

Femi Diah
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.