Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menjadikan bulan Ramadan menjadi momen untuk menghadirkan berbagai kegiatan sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat. Tahun ini, Ramadan di Kampus (RDK) UAD 1447 H mengusung tema 'Ramadan Berdampak untuk Kemaslahatan Umat'.
Kepala Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) UAD, Rahmadi Wibowo Suwarno menjelaskan tema tersebut lahir sebagai respons atas tantangan zaman yang semakin kompleks.
"Kami ingin menggeser paradigma Ramadan yang sering kali hanya bersifat ritual individual menjadi aksi kolektif yang produktif. Kampus sebagai pusat peradaban harus menjadi motor penggerak perubahan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3/2026).
Rahmadi menjelaskan esensi puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan melahirkan empati dan kepedulian sosial. Oleh karena itu, RDK tahun ini didesain agar seluruh sivitas akademika tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah personal, tetapi juga menghadirkan program nyata yang memberi manfaat luas, baik di dalam maupun di luar kampus.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, RDK 1447 H mengusung pendekatan yang lebih inklusif dan terukur dampaknya. Jika sebelumnya program bersifat umum, kini ada segmen khusus untuk menjangkau kelompok yang selama ini belum banyak terakomodasi.
Segmen ini mengusung semangat implementasi nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) melalui kolaborasi dan aksi nyata. Dengan begitu, kegiatan Ramadan tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan umat.
Secara keseluruhan, terdapat 18 agenda utama yang digelar selama Ramadan di Masjid Islamic Center UAD. Rangkaian itu dimulai dari pengajian Songsong Ramadan, kajian jelang buka puasa, takjil buka puasa setiap hari, hingga ceramah dan salat tarawih berjamaah. Ada pula Kajian Dhuha, Kultum Subuh, Tahsin dan Tasmi' Al-Qur'an, serta program UAD Berbagi dan donor darah.
Hadirkan Masjid Ramah Anak
Salah satu program yang cukup mencuri perhatian adalah konsep Masjid Ramah Anak melalui Tarawih Khusus Anak. Program ini dihadirkan untuk menanamkan kecintaan anak terhadap masjid sejak dini.
Rahmadi mengakui selama ini anak-anak kerap dianggap mengganggu kekhusyukan jamaah dewasa. Padahal, merekalah generasi yang kelak akan memakmurkan masjid.
"Kami menyediakan zona khusus yang aman dan menyenangkan selama salat tarawih berlangsung. Anak-anak tetap beribadah, tetapi dengan pendekatan yang sesuai usia mereka," jelasnya.
Di zona tersebut, anak-anak mengikuti salat Tarawih dengan durasi yang disesuaikan, mendengarkan dongeng Islami, mewarnai, hingga mengikuti permainan edukatif. Melalui pendekatan ini, nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi ditanamkan lewat pengalaman yang menyenangkan. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam penyediaan relawan yang memahami psikologi anak serta pengaturan suara agar tidak mengganggu kekhusyukan jamaah dewasa.
Buka Puasa Ramah Disabilitas
Selain itu, RDK 1447 H juga menghadirkan Buka Puasa HIDIMU, yakni program yang dirancang khusus dengan prinsip aksesibilitas dan inklusivitas. HIDIMU merupakan singkatan dari Himpunan Disabilitas Muhammadiyah. Berbeda dari buka puasa pada umumnya, seluruh aspek kegiatan ini dipastikan ramah bagi penyandang disabilitas, mulai dari akses kursi roda hingga penerjemah bahasa isyarat saat kajian berlangsung.
"Ini bukan sekadar makan bersama, tetapi ruang afirmasi. Kami ingin menghilangkan hambatan-hambatan yang sering kali tidak disadari masyarakat," tambah Rahmadi.
Adapun program ini turut melibatkan mahasiswa sebagai relawan sekaligus sahabat pendamping bagi para tamu disabilitas. Keterlibatan ini menjadi proses pendidikan karakter yang nyata, karena mahasiswa belajar membangun empati, kesabaran, serta komunikasi yang setara.
Tak hanya itu, UAD juga menjadi tuan rumah Silaturahmi dan Buka Bersama Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah se-DIY. Bagi Rahmadi, kegiatan ini memiliki makna strategis sebagai wujud komitmen kampus untuk hadir di tengah anak-anak yang membutuhkan dukungan, sekaligus memperkenalkan lingkungan perguruan tinggi dan peluang beasiswa kepada mereka.
"Kami tidak ingin bantuan yang sifatnya sesaat. Komitmen kami adalah pemberdayaan pendidikan yang berkelanjutan, dari akses masuk hingga pendampingan sampai lulus," tegasnya.
Memasuki 10 hari terakhir Ramadan, RDK juga memfasilitasi Program I'tikaf 10 Hari Terakhir, Tarawih 1/3 Malam, serta Kajian I'tikaf Ba'da Subuh. Momentum Ramadan bahkan dimanfaatkan untuk pelaksanaan salat gerhana bulan serta ditutup dengan salat Idulfitri yang terbuka untuk masyarakat umum.
Seluruh rangkaian kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Masjid Islamic Center UAD agar jangkauannya lebih luas.Melalui konsep tersebut, RDK UAD 1447 H ingin menghadirkan wajah Ramadan yang lebih inklusif, kolaboratif, dan berdampak nyata. Ramadan tidak hanya menjadi ruang peningkatan spiritual pribadi, tetapi juga momentum transformasi sosial demi kemaslahatan umat.







