TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan global, pelaku usaha Jawa Barat diminta segera menyiapkan strategi mitigasi.
Pengamat Perdagangan Internasional dari Universitas Widyatama Dwi Fauziansyah Moenardy, menilai meski dampak signifikan belum terlihat, langkah antisipatif harus segera dilakukan, terutama dengan memperluas pasar non-tradisional.
“Dampaknya besar, tapi dalam jumlah persentase belum bisa saya sebutkan, karena ini masih analisis awal. Tapi strategi yang paling tepat saat ini adalah fokus ke pasar-pasar yang berada jauh di luar wilayah konflik,” ujar Dwi saat dihubungi, Kamis (5/3/2026).
Selama ini, pasar tradisional ekspor Jawa Barat didominasi negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan India.
Ketiganya masuk dalam daftar mitra dagang utama provinsi ini.
Namun menurut Dwi, ketergantungan pada pasar tradisional berisiko tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik.
Baca juga: Miris, Mayoritas Pekerja Migran Subang di Arab Berstatus Ilegal, Disnakertrans: Rentan Masalah
“Kalau kita bicara konsep market itu ada pasar tradisional dan non-tradisional. Strategi yang perlu dikembangkan Jawa Barat adalah menyiapkan langkah mitigasi untuk pasar non-tradisional,” jelasnya.
Ia menyarankan kawasan Indo-Pasifik dan Pasifik Selatan menjadi alternatif tujuan ekspor. Negara-negara seperti Australia, Selandia Baru, hingga wilayah Pasifik dinilai bisa menjadi penyangga ketika pasar besar mengalami perlambatan.
“Mungkin permintaannya tidak sebesar Amerika atau Eropa, tapi tetap bisa kita jaga. Itu untuk mengurangi ketergantungan pada pasar yang terdampak konflik,” katanya.
Selain ekspor, sektor investasi juga dinilai berpotensi terdampak. Jawa Barat selama ini menjadi salah satu tujuan utama investasi asing di Indonesia, khususnya di sektor industri manufaktur dan otomotif.
“Kalau eskalasi terus meningkat dan tidak ada kepastian berhenti, ini bisa mempengaruhi tingkat penyerapan investasi dan penundaan ekspansi pabrik. Investor pasti akan wait and see,” ujar Dwi.
Ia menilai arus modal global cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian. Negara-negara sumber investasi Indonesia seperti Singapura pun memiliki keterkaitan erat dengan negara-negara Barat.
“Singapura itu penyokong dari negara-negara Western seperti Amerika, Inggris, Prancis. Jadi kalau mereka terdampak, aliran modal juga bisa terpengaruh,” jelasnya.
Selain itu, volatilitas pasar saham dan nilai tukar rupiah juga menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
“Kalau permintaan menurun dan tekanan global meningkat, nilai tukar rupiah bisa melemah. Ini akan berpengaruh lagi ke biaya impor bahan baku industri,” katanya.
Dalam situasi seperti ini, ia menekankan pentingnya diversifikasi pasar serta penguatan daya saing produk.
“Jawa Barat harus mulai mengganti arah perdagangan ke pasar non-tradisional untuk mengantisipasi penurunan permintaan di pasar tradisional. Itu strategi yang cukup tepat saat ini,” tegasnya.
Meski belum ada dampak signifikan yang terukur, Dwi mengingatkan bahwa provinsi dengan basis industri besar seperti Jawa Barat harus bergerak cepat membaca dinamika global.
“Sekali lagi, ini baru analisis awal. Tapi kalau eskalasinya meningkat, dampaknya pasti besar bagi provinsi dengan tingkat industri terbesar seperti Jawa Barat,” ucapnya.