Selama ini Jadi Pencari Rongsok, Mbah Kastini Tak Malu Baru Belajar Ngaji karena Dulu Tidak Sekolah
Ani Susanti March 05, 2026 09:32 PM

TRIBUNJATIM.COM - Nenek Kastini tampak semangat belajar mengaji di bulan Ramadan ini.

Meski sudah berusia 75 tahun, nenek asal Desa Tegalurung, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat ini baru mulai mengenal huruf-huruf hijaiyah.

Tekadnya tak pudar meski penglihatannya mulai buram dan pendengarannya menurun.

Dengan terbata-bata, ia mengeja setiap huruf yang tertulis di buku Iqro yang dibacanya.

“Seneng ikut ngaji. Kalau tidak diajarin tidak bisa-bisa,” kata Kasniti, Kamis (5/3/2026).

Baca juga: Bertahan Hidup, Musa Jaga Sapi Orang dan Buka Toko Kelontong, Ngajar Ngaji Tak Dihonor Apalagi Gaji

Kasniti merupakan satu dari sekitar 45 lansia yang mengikuti kegiatan Pesantren Ramadan Lansia yang digelar Relawan Rumah Zakat di Desa Tegalurung, Kecamatan Balongan, Indramayu.

Di usia 75 tahun, ia mengesampingkan rasa malu untuk belajar Iqro.

Ramadan tahun ini menjadi tahun kedua bagi Kasniti belajar mengenal kalam Al Quran melalui buku Iqro.

Dalam kesehariannya, Kasniti diketahui bekerja sebagai pencari barang rongsokan. Ia mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal sejak kecil.

Karena itu, kesempatan mengikuti pesantren lansia dan belajar mengaji menjadi sesuatu yang sangat ia syukuri.

Ia tidak menampik bahwa menghafal huruf hijaiyah seperti Alif, Ba, dan Ta terasa sulit di usianya sekarang.

Namun Kasniti tidak ingin menyerah dan terus mencoba, bahkan tidak malu bertanya ketika ada huruf yang belum bisa ia lafalkan.

Meski belum bisa membaca Al Quran secara lancar, Kasniti mengaku telah hafal beberapa surat pendek yang biasa ia baca saat shalat.

“Kalau shalat kan sudah kewajiban setiap waktu, malam juga suka ikut tarawih. Alhamdulillah, bacaan shalat mah bisa,” tuturnya.

Selain belajar Iqro, Kasniti juga senang mengikuti pengajian dan mendengarkan ceramah untuk memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam.

Kegiatan Berlangsung Selama 5 Tahun

Relawan Rumah Zakat, Lastri Mulyani mengatakan, kegiatan Pesantren Ramadan Lansia ini telah berlangsung selama lima tahun.

Kegiatan tersebut biasanya digelar selama 10 hari di pertengahan bulan puasa.

“Pesantren lansia ini dilaksanakan setiap tahun, dan alhamdulillah tahun ini menginjak tahun kelima,” ujar Lastri.

Selain belajar mengaji, para peserta juga mendapatkan bimbingan keagamaan melalui ceramah tujuh menit serta kegiatan sosial seperti sedekah sampah.

Menurut Lastri, dari sekitar 45 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, hampir setengahnya masih belajar Iqro dengan berbagai tingkatan, mulai dari Iqro 1 hingga Iqro 3.

Ia menjelaskan sebagian besar lansia belum bisa membaca Al Quran karena saat kecil tidak memiliki kesempatan untuk belajar.

“Mereka juga rata-rata itu tidak sekolah atau tidak tamat SD,” ungkap Lastri.

Melalui kegiatan Pesantren Ramadan Lansia ini, diharapkan para peserta tidak hanya mengisi waktu luang selama bulan suci, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk belajar membaca Al Quran di usia senja.

Baca juga: 20 Tahun Jadi Guru Ngaji, Abdul Sentil Pemerintah soal Kesejahteraan: Negara Ini kan Punya Semuanya

Berita Lain

Inilah kisah perjuangan Titin Maryantin, guru ngaji difabel asal Desa/Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Wanita berusia 35 tahun itu tiap hari keliling mengajar ngaji dari rumah ke rumah.

Titin dikenal luas sebagai sosok guru mengaji yang berdedikasi di kampung halamannya.

Ia mengajar di sebuah madrasah diniyah, tapi juga berkeliling memberikan les privat dari rumah ke rumah.

Pada pagi hari, Titin akan mengurusi urusan rumah, mulai dari menyapu, mengepel, cuci piring, cuci pakaian, dan lain sebagainya.

Setelah semua beres, pukul 10.00 WIB ia berangkat mengajar menggunakan sepeda listrik roda tiganya dan baru kembali ke rumah sekitar pukul 22.00 WIB.

Titin mengungkapkan bahwa menjadi seorang guru adalah cita-citanya sejak kecil.

"Waktu kecil saya sangat semangat, Pak. Bahkan, cita-cita saya ingin menjadi guru," ujar Titin saat ditemui di madrasah diniyah tempatnya mengajar belum lama ini, melansir dari Kompas.com.

Baca juga: 12 Tahun Abdul Karim Ngajar Ngaji Tanpa Gaji, Andalkan Jualan Telur Gulung untuk Cari Uang

Titin sendiri adalah anak ke-8 dari sembilan bersaudara.

Kondisi kakinya yang mengecil diketahui sudah bawaan sejak lahir.

Titin kecil juga sempat mengenyam bangku sekolah, walau pada akhirnya tidak bisa ia tamatkan.

Bukan karena faktor bullying, melainkan karena keterbatasan ekonomi orang tuanya.

"Bukan karena di-bully, Pak. Alhamdulillah tidak ada yang mem-bully saya," katanya pelan.

Walau begitu, Titin kecil tumbuh di lingkungan dengan agama yang kental dan kemudian menjadi bekalnya kini untuk mengajar ngaji anak-anak di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Saat mengajar, Titin juga selalu berusaha tampil berwibawa di hadapan murid-muridnya dengan harapan mereka tumbuh menjadi anak berakhlak mulia.

Di balik sosoknya yang tegar itu, Titin juga manusia biasa, batinnya terkadang juga rapuh.

Pertanyaan polos dari anak-anak kecil seputar kondisi kakinya sering kali mengusik batinnya tanpa sengaja.

"'Bu, kenapa kakinya kecil?' Dalam hati saya cuma bisa, 'Ya Allah, kenapa saya seperti ini? Kenapa tidak seperti yang lain?'" ucapnya pelan.

Ujian hidup Titin rupanya tak berhenti pada persoalan fisik saja.

Ia harus menelan pil pahit kehidupan dengan kehilangan tiga sosok paling berharga dalam hidupnya dalam rentang waktu yang berdekatan.

Sang ibu meninggal dunia tak lama setelah menjodohkan Titin dengan seorang pria.

"Itu sangat berat sekali bagi saya, seperti kehilangan pegangan hidup," ungkapnya.

Walau masih punya ayah, sosok ibunya punya tempat paling istimewa di hati Titin.

Di tengah duka itu, sang suami yang bekerja sebagai nelayan hadir sebagai penguat.

Sepulang melaut, ia akan memanjakan Titin, membuatnya bagaimana ratu di rumah kecil mereka, yang pada akhirnya perlahan menumbuhkan cinta di hati Titin.

Nahas, belum kering luka kehilangan ibu, sang suami juga meninggal dunia beberapa bulan kemudian.

Tak berselang lama, sang ayah juga ikut menyusul menghadap Sang Pencipta.

Kehilangan tiga sandaran hidup secara beruntun menjadi titik terberat bagi Titin, ia juga sempat putus asa.

Baca juga: Sosok Ustaz Deni Diangkat Gubernur Jadi Pegawai, Ngajar Ngaji Tak Dibayar dan Diusir dari Kontrakan

Namun, dukungan dari lingkungan sekitarnya membuat ia kembali menemukan semangat.

"Saya banyak berkumpul dengan orang-orang yang menyemangati saya. Guru-guru, teman-teman," tuturnya haru.

Dari sana, ia sadar bahwa ada banyak yang baik di tengah takdir kehidupannya tersebut, yang pada akhirnya membuatnya bersyukur.

Titin mencoba berpikir jernih, memupuk lagi semangat di hatinya, dan kembali melangkah untuk tetap menjalani hidup.

Kini, di rumah sederhananya, Titin tinggal bersama adik dan dua keponakannya.

Ia mengisi hari-harinya kegiatan positif, mulai mengurusi rumah hingga berangkat mengajar mengaji, tanpa menyisakan ruang sedikit pun untuk kehampaan.

"Kalau misal kangen, paling baca Yasin, kirim doa untuk orang-orang yang saya sayangi," tutur Titin.

Sosok Titin mengajarkan bagaimana manusia bisa berdamai dengan takdir, mengubah luka menjadi kekuatan, serta dari keterbatasan juga bisa lahir cahaya untuk anak-anak belajar mengenal huruf-huruf Al-Quran.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.