Pernah Terjebak Situasi Pengeboman di Tunisia, Chiki Fawzi Tak Kapok Kembali Jadi Relawan di Gaza
Ulfa Lutfia Hidayati March 06, 2026 12:34 AM

Grid.ID – Bayang-bayang ledakan drone dan ketegangan pangkalan militer ternyata tak cukup untuk menyurutkan langkah Chiki Fawzi. Aktivis sekaligus putri dari musisi Ikang Fawzi ini menceritakan pengalaman mengerikannya saat terjebak di tengah memanasnya konflik Timur Tengah dalam misi kemanusiaan beberapa waktu lalu.

Alih-alih kapok, Chiki justru menyatakan kesiapannya untuk kembali berlayar menembus blokade Gaza pada 12 April mendatang.

Trauma Pengeboman di Tunisia

Dalam sesi wawancara di kawasan Kemang, Jakarta Selatan (4/3/2026), Chiki mengenang momen mencekam saat dirinya berada di Tunisia dalam misi pelayaran sebelumnya. Kala itu, pelabuhan Sidi Bou Said tempatnya bersandar menjadi sasaran serangan drone.

"Kondisi geopolitik itu selalu fluktuatif. Saya ingat banget pelabuhan Sidi Bou Said di Tunisia itu dibom dari drone, yang ternyata berasal dari pangkalan udara militer Amerika di Malta," ungkap Chiki.

Ia menggambarkan jarak serangan drone dengan lokasinya saat itu cukup dekat.

"Malta sama pelabuhan itu jaraknya cuma kayak Jakarta-Bandung saja, deket banget. Jadi setiap kita mau melakukan pelayaran bersama-sama, tekanan internasionalnya memang luar biasa," tambahnya.

Meski misi sebelumnya tertahan di Tunisia dan rekan perjalanannya, Kawanda, hanya bisa mencapai Sisilia sebelum akhirnya juga terhenti, Chiki tidak mundur satu langkah pun.

Chiki menyadari bahwa keberhasilan misi ini sangat kecil secara hitungan matematis, namun ia percaya misi ini patut diperjuangkan. Ia bergabung dalam Global Summit Flotilla, sebuah gerakan pelayaran non-kekerasan (non-violence sailing) internasional yang telah eksis sejak tahun 1980-an.

Alasannya memilih jalur laut pun sangat spesifik: jalur darat menuju Gaza saat ini hanya bisa diakses secara legal oleh tenaga medis profesional seperti dokter atau perawat dari organisasi seperti MER-C.

"Orang biasa kayak kami memang nggak bisa lewat jalur darat yang legal. Jadi mendobrak via jalur laut itu tantangannya besar. Tingkat keberhasilannya memang kecil, tapi patut diusahakan. Rencananya kalau berhasil landing, kami akan stay di sana untuk membuat semacam barikade manusia (human barricade)," jelas Chiki.

Ujian Akidah di Tengah Geopolitik Global

Menjelang keberangkatan April nanti, Chiki mengaku terus memantau situasi global, terutama ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang kian memanas. Persiapan fisik dan mental kini menjadi fokus utamanya.

Bagi Chiki, keberaniannya ini bukan sekadar nekat, melainkan bentuk manifestasi dari keimanan dan rasa kemanusiaan yang mendalam.

"Hati saya di sana. Ini bukan cuma soal kemanusiaan, tapi ada ujian akidah di sini. Kita punya kewajiban memperjuangkan Baitul Maqdis. Apa yang terjadi di sana sudah benar-benar bukan manusiawi sama sekali," tegasnya.

Di bawah koordinasi Indonesia Global Peace Convoy, Chiki Fawzi bersiap mengarungi samudra selama kurang lebih satu minggu dari titik keberangkatan di Tunisia, demi satu tujuan: membuka koridor kemanusiaan yang telah lama tertutup bagi warga Gaza.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.