Sindrom Anak Tunggal, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasan dan Cara Mengasuhnya
Mursal Ismail March 06, 2026 12:36 AM

SERAMBINEWS.COM - Sindrom anak tunggal sebenarnya tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. 

Penelitian menunjukkan bahwa kepribadian anak lebih dipengaruhi pola asuh, lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi, bukan jumlah saudara.

Dengan pengasuhan yang tepat, anak tunggal dapat tumbuh percaya diri, mandiri, dan memiliki keterampilan sosial yang baik.

Label sindrom anak tunggal sering dipakai untuk merangkum berbagai karakter buruk yang diyakini menempel pada anak-anak tanpa saudara.

Dengan asumsi bahwa mereka akan tumbuh menjadi sosok yang egois, manja, dan canggung bersosialisasi. 

Namun, benarkah sindrom anak tunggal nyata, atau sekadar mitos belaka?

Baca juga: Satpol PP-WH Banda Aceh Warning Remaja Balap Liar, Ini Perintah Kasatpol ke Tim Kalong

Sindrom anak tunggal, mitos atau fakta?

Dikutip dari Parents, Rabu (4/3/2026), sindrom anak tunggal dan stigma yang mengelilingi anak tunggal sama sekali tidak terbukti, dan tidak memiliki landasan sains yang dapat dipercaya. 

Berbagai riset membuktikan, anak-anak ini cenderung memiliki ambisi, pandai mengatur sesuatu, serta penuh percaya diri.

Kemungkinan mereka tumbuh menjadi pribadi yang terlalu dimanjakan pun sama saja dengan anak-anak bersaudara.

Alih-alih berisiko tinggi mengidap sifat buruk seperti narsisme seperti yang dipercayai masyarakat, kepribadian anak-anak nyatanya jauh lebih dipengaruhi oleh faktor penting lain, seperti status sosial ekonomi dan gaya pengasuhan keluarga.

Selain itu, fokus perhatian dan dukungan emosional dari orangtua yang tidak terbagi bisa menumbuhkan jati diri yang tangguh, kedewasaan, dan harga diri yang tinggi.

Baca juga: Wali Kota Banda Aceh Imbau Masyarakat Tenang soal BBM, Tidak Perlu Panic Buying, Ini Alasannya

Bahkan, sebuah studi pada tahun 2022 membuktikan, anak semata wayang justru memiliki keunggulan dalam hal regulasi emosi, interaksi sebaya, keterampilan berbahasa, hingga rasa percaya diri.

"Anak tunggal biasanya memiliki kepribadian yang kuat dan tahu siapa diri mereka sendiri karena kebutuhan mereka tidak diabaikan, dan mereka tidak bersaing untuk mendapatkan perhatian," jelas konsultan pendidikan di Chapel Hill, North Carolina, Amerika Serikat (AS), Erika Karres.

Di sisi lain, intensitas waktu yang dihabiskan sendirian juga membuahkan hasil positif.

Sering kali, anak tunggal menjadi kreatif dan fokus, karena mereka belajar menghibur diri sendiri.

Tips membesarkan anak tunggal

Selayaknya orangtua pada umumnya, ayah dan ibu dari anak semata wayang juga tanpa sadar bisa memicu efek yang lebih membahayakan ketimbang memberi manfaat.

Menyadari potensi jebakan pengasuhan ini sangatlah esensial, agar anak tidak memunculkan karakter negatif, yang selama ini diasosiasikan dengan sindrom anak tunggal.

Berikut ragam tips membesarkan anak tunggal.

1. Gunakan gaya pengasuhan otoritatif

Gaya pengasuhan terbukti menjadi penentu utama dalam pembentukan karakter, terlepas dari berapa jumlah anak yang kamu miliki.

Karena dukungan dan perhatian positif adalah kunci tumbuh kembang yang sehat, kamu punya kuasa untuk membentuk si kecil.

Gaya pengasuhan otoritatif lebih direkomendasikan untuk mencetak anak yang stabil, aman, dan percaya diri.

Tujuan utamanya adalah orangtua tidak bersikap terlalu mengekang (otoriter) maupun terlalu longgar (permisif).

Orangtua harus memadukan sikap tegas sekaligus suportif.

Berikan cinta, perhatian, serta kebebasan sambil mendengarkan keluh kesahnya, tetapi tetap barengi dengan batasan yang tegas dan ekspektasi yang masuk akal.

Pastikan kamu konsisten menegakkan aturan saat si kecil mencoba mengetes batasan tersebut.

2. Jangan terlalu melindungi si kecil

Psikolog Susan Newman, PhD, mengatakan, membiarkan anak berbuat salah juga krusial untuk melatih ketangguhan dan rasa tanggung jawab.

 Insting untuk selalu siaga dan melindungi itu alami, tetapi memberi ruang gerak tidak kalah pentingnya.

"Ketika seorang anak tunggal mulai berjalan, orangtuanya terus mengawasinya dan tidak membiarkannya jatuh.

Ketika seorang anak tunggal bertengkar dengan temannya, orangtuanya menyelamatkannya," ucap Newman.

"Ia tidak dapat belajar bagaimana mengarungi dunia jika orangtuanya selalu ikut campur atau memperjuangkan pertempurannya," lanjut dia.

Sebisa mungkin, beri jeda waktu dan ruang bagi anak untuk mengelola emosi, memecahkan masalahnya, atau bahkan "mencicipi" kegagalan sebelum kamu campur tangan.

Kamu juga bisa berdiskusi dengan teman yang memiliki banyak anak mengenai batasan yang mereka terapkan saat menghadapi situasi pelik, guna menemukan titik keseimbangan antara sikap melindungi dan overprotektif.

3. Dorong interaksi sosial

Mengingat anak tunggal adalah pusat dunia orangtuanya, kadang kala mereka bisa kesulitan saat harus berinteraksi dengan rekan seumurannya.

Tentu saja ini hanyalah generalisasi, karena banyak anak tunggal yang sangat supel.

Akan tetapi, riset memang menemukan bahwa anak yang memiliki saudara kandung umumnya lebih mahir dalam keterampilan sosial kelompok, seperti halnya kerja sama dan kolaborasi.

Untuk memfasilitasi keterampilan tersebut, kamu dapat menjadwalkan waktu bermain dengan anak sepantarannya atau menghabiskan waktu di lokasi yang ramai anak kecil, seperti taman dan museum anak.

"Sosialisasi dini membantu mereka belajar bagaimana berbagi, bergiliran, dan menyelesaikan konflik," ungkap parent educator sekaligus mantan wakil direktur Barnard College Center for Toddler Development di New York City, AS, Patricia Henderson Shimm.

4. Jangan menetapkan ekspektasi yang tidak realistis

Cegah anak agar tidak tumbuh menjadi perfeksionis hanya demi membahagiakan orangtuanya.

Keinginan ayah dan ibu agar semuanya berjalan dengan "sempurna", kerap berujung pada ekspektasi tidak realistis yang membebani sang anak. 

Tuntutan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan ini hanya akan menghasilkan masalah perilaku, kekecewaan, hingga frustrasi.

Sesuaikanlah harapanmu dengan usia dan kemampuan alami si kecil, sembari meyakinkan bahwa mereka tidak harus menjadi yang terbaik dalam segala hal.

Jika anak senang menggambar, jangan menuntutnya menjadi "Picasso kecil" atau seniman hebat. Cukup fokus pada kegembiraannya.

5. Biarkan anak membuat keputusan

Terakhir, izinkan anak membuat pilihan sendiri pada situasi yang aman guna menajamkan kemandirian dan cara berpikir kritisnya.

Jika orangtua selalu mengendalikan segala aspek kehidupan, anak akan terus bergantung pada instruksimu.

"Jika kamu selalu melakukan dan berpikir untuk anakmu, mereka tidak akan belajar untuk melakukan dan berpikir untuk diri mereka sendiri," kata Shimm.

Saat anak bermain, misalnya, tahan diri agar tidak terlalu banyak mendikte, seperti mengatur warna krayon yang harus digunakan atau di mana potongan puzzle harus diletakkan.

Biarkan anak memecahkan masalahnya sendiri jika memungkinkan.

Berkat curahan cintamu dan bantuan dari lingkungan, anak semata wayang akan tumbuh menjadi sosok kecil yang peduli, mampu beradaptasi, dan sangat cakap, terlepas apakah ia memiliki saudara atau tidak.

Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2026/03/05/103000220/mitos-sindrom-anak-tunggal-yang-tak-terbukti-ini-cara-mengasuhnya-agar

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.