AS Desak Israel Teruskan Perang, Iran Bersumpah Tak Akan Menyerah untuk Habisi Amerika dan Zionis
SERAMBINEWS.COM - Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin tinggi dan memanas setelah Washington secara terbuka mendorong Tel Aviv untuk melanjutkan operasi militernya hingga akhir.
Sementara Teheran menegaskan tidak akan menghentikan perang sebelum memberikan “pukulan telak” kepada AS.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menyatakan telah melakukan pembicaraan via telepon dengan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, guna membahas potensi serangan udara terhadap Iran pada Rabu (4/3/2026).
Dalam percakapan tersebut, Hegseth memuji “kerja sama yang belum pernah terjadi sebelumnya antara militer kedua negara serta kemampuan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).”
Ia juga menyampaikan dukungan penuh Washington kepada Tel Aviv.
“Teruslah berjuang sampai akhir, kami bersama kalian,” ujar Hegseth.
Katz turut menyampaikan apresiasi kepada Presiden AS, Donald Trump, atas dukungannya terhadap Israel.
Ia menekankan bahwa koordinasi antara Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam menghadapi Iran disebutnya sebagai langkah yang “sedang mengubah sejarah regional dan global.”
Di pihak lain, Iran menunjukkan sikap yang sama kerasnya.
Jenderal Kioumars Heydari, Wakil Komandan Komando Pusat Khatam al-Anbia dari Angkatan Darat Iran, menegaskan bahwa Teheran tidak akan mundur.
“Bagi kami, tidak masalah berapa hari perang ini berlangsung,” kata Heydari saat konflik memasuki hari keenam.
Ia mengingatkan pengalaman Iran dalam perang delapan tahun sebelumnya, dan menyatakan bahwa perang saat ini hanya akan berakhir ketika tujuan Iran tercapai serta musuh ditinggalkan dalam penyesalan dan keputusasaan.
"Kami pernah melewati perang delapan tahun sebelumnya, dan kami hanya akan mengakhiri perang ini ketika kami telah mencapai tujuan kami, meninggalkan musuh dengan penyesalan dan keputusasaan,” tegasnya.
Dalam perkembangan terakhir, AS dan Israel dilaporkan meningkatkan serangan rudal terhadap sejumlah target strategis di wilayah Iran.
Sebagai balasan, Teheran menyerang sejumlah fasilitas militer AS serta infrastruktur energi di sembilan negara di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang terus meluas ini dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.100 orang di kedua belah pihak, memperdalam kekhawatiran internasional atas potensi eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut.
Di tengah perang yang berkecamuk di Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan khawatir pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump menjalin pembicaraan rahasia dengan Iran.
Menurut laporan Axios, Netanyahu mendekati Gedung Putih setelah menerima intelijen yang menyebut pemerintahan Trump berbicara dengan Iran mengenai kemungkinan gencatan senjata.
Gedung Putih menegaskan kepada Netanyahu bahwa tidak ada pembicaraan semacam itu.
Kecurigaan ini menyinggung potensi gesekan antara sekutu yang baru saja melancarkan serangan bersama terhadap rezim Iran.
Netanyahu diyakini khawatir perang berakhir sebelum Israel mencapai tujuan militernya.
The New York Times melaporkan bahwa intelijen Iran sempat menghubungi CIA untuk membahas syarat mengakhiri perang, namun tawaran itu dipandang skeptis oleh AS.
Netanyahu kemudian kembali mendekati Gedung Putih dan diyakinkan bahwa tidak ada komunikasi dengan Teheran.
Seorang pejabat AS menyebut utusan perdamaian Steve Witkoff dan Jared Kushner berbicara dengan Netanyahu hampir setiap hari. Mereka menegaskan: “Kami tidak berbicara dengan Iran.”
Trump sendiri menolak pembicaraan dengan rezim Iran.
Di Truth Social ia menulis: “Pertahanan udara, angkatan udara, angkatan laut, dan kepemimpinan mereka sudah hancur. Mereka ingin berbicara. Saya bilang ‘terlambat!’”
Pemerintahan Trump menyatakan tujuan perang adalah menghancurkan program nuklir, kemampuan rudal balistik, dan angkatan laut Iran, serta melemahkan kelompok proksi mereka di Timur Tengah.
Meski tidak secara eksplisit menyebut ingin mengganti rezim, Trump menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan: “Itu akan menjadi milik kalian.”
Israel, sebaliknya, menargetkan tokoh-tokoh utama rezim. Pada Sabtu pagi, Israel membunuh Ayatollah Ali Khamenei dengan menjatuhkan puluhan bom di kompleksnya di pusat Teheran.
Hingga Rabu, Gedung Putih menyebut 49 tokoh senior Iran telah tewas sejak konflik dimulai.
Trump kemudian menyebut skenario “sempurna” baginya adalah sistem seperti Venezuela, di mana Delcy Rodriguez mengambil alih setelah AS menangkap Nicolas Maduro.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)