Geopolitik Memanas, Dharma Jaya Optimalkan Ketersediaan Sapi Lokal Demi Jaga Kestabilan Pasokan
Ferdinand Waskita Suryacahya March 06, 2026 01:52 PM

 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Perumda Dharma Jaya menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga daging sapi di Jakarta di tengah situasi geopolitik global yang memanas.

Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, mengatakan konflik internasional berpotensi memengaruhi rantai pasok pangan, khususnya komoditas daging sapi yang sebagian besar masih bergantung pada impor.

Menurut Raditya, Jakarta sebagai daerah konsumsi sangat rentan terhadap gejolak global karena bukan wilayah penghasil sapi.

"Geopolitik memang bikin pusing ya. Seperti kita tahu Jakarta itu bukan daerah penghasil, tapi daerah konsumsi. Untuk sapi terutama daging sapi, sekitar 95 persen kebutuhan Indonesia dipenuhi dari impor," kata Raditya, Kamis (5/3/2026).

DAMPAK MEMANASNYA GEOPOLITIK - Direktur Utama Dharma Jaya Raditya Endra Budiman mengatakan, situasi geopoltik berpotensi mempengaruhi pasokan sapi impor, pihaknya berupaya optimalkan ketersediaan sapi lokal untuk jaga pasokan. (Yusuf/TribunJakarta). (TribunJakarta/Yusuf Bachtiar)

Ia menjelaskan, pasokan daging sapi dan sapi hidup selama ini didatangkan dari sejumlah negara, seperti Australia, Brasil, hingga India.

Sapi hidup umumnya diimpor dari Australia, sementara daging sapi berasal dari Australia dan Brasil. Selain itu, Indonesia juga mengimpor daging kerbau dari India.

Seluruh transaksi impor tersebut menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat, sehingga gejolak geopolitik yang berdampak pada penguatan dolar dapat memicu kenaikan harga.

"Semua pembayarannya menggunakan US Dollar. Jadi kalau geopolitiknya gonjang-ganjing dan dolar menguat, maka harga pasti ikut terpengaruh," ujarnya.

Raditya juga menyoroti potensi gangguan rantai pasok global akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya jika jalur perdagangan utama seperti Selat Hormuz terdampak.

Menurut dia, jalur tersebut memiliki peran penting dalam distribusi energi dunia.

"Kalau Selat Hormuz sampai ditutup, itu mempengaruhi sekitar 25 persen pasokan minyak dunia. Sekarang saja harga minyak sudah mulai naik. Ini tentu bisa berdampak pada biaya logistik dan distribusi," jelasnya.

Meski demikian, Dharma Jaya telah menyiapkan langkah mitigasi dengan mulai memperkuat pasokan dari peternak lokal.

Perusahaan daerah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu kini menjalin kerja sama dengan sejumlah peternakan di Pulau Jawa dan Lampung untuk memastikan ketersediaan sapi lokal.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pasokan apabila harga sapi impor melonjak akibat kondisi global.

"Kami sudah mulai membeli sapi-sapi lokal. Jadi sebagai antisipasi, kami bekerja sama dengan beberapa peternakan di Jawa maupun Lampung untuk memastikan stok tetap aman," ungkap Raditya.

Ia berharap keberadaan sapi lokal dapat menjadi pilihan bagi masyarakat Jakarta jika harga daging impor mengalami kenaikan.

"Mudah-mudahan sapi lokal tidak ikut-ikutan naik harganya. Jadi ini bisa menjadi pilihan bagi masyarakat di Jakarta," pungkasnya.

BERITA TERKAIT

  • Baca juga: Target Pemasukan 10.000 Ekor Sapi, Dharma Jaya Siapkan Kandang Baru di Ciangir Tangerang
  • Baca juga: Dharma Jaya Bangun Kandang Raksasa di Ciangir, Daya Tampung Capai 1.000 Ekor Sapi
  • Baca juga: Stok Daging Aman hingga Idulfitri 2026, Dharma Jaya Siapkan Tambahan 600 Sapi Impor
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.