Oleh: Dr. Muhammad Ihsan, M.Ag (Ihsansulis)
Demikian fenomena kehidupan manusia modern dengan segala kecanggihan teknologi dan kemudahan akses yang ada, namun demikian Keheningan seolah kehilangan makna, dalam ramai mereka merasa sunyi, kesibukan yang terlihat seolah bayang semu, semakin terhubung namun semakin terasa kehilangan ketenangan (awareness).
Pada hakikatnya keheningan adalah ruang kesadaran juga moment dialogis diantara manusia dengan dirinya secara utuh. Dalam kondisi tersebut ia lebih jujur dan mampu mendengar kebenaran yang ada, ibarat air tenang akan memantulkan bayangan sementara air keruh tidak.
Keheningan adalah kondisi batin manusia (bukan kondisi tempat) yang dengannya ia mampu menemukan Oase ditengah kebisingan
Kebisingan era modern tidaklah sama dengan kebisingan di masa lalu, distraksinya menghambat produktivitas dan fokus di segala lini, ia tidak selalu terdengar di telinga, namun mengiang didalam pikiran dan alam bawah sadar manusia
Di era modern yang serba digital, informasi kita dapatkan tanpa perlu dicari, disajikan disetiap detiknya, bahkan Algoritma membaca kebutuhan kita, kondisi ini terasa seolah kita kebanjiran Informasi yang ada, segala Informasi yang didapat tidaklah berhenti begitu saja, jika tanpa kemampuan Mengcounter ia akan merayap ke dalam pikiran juga alam bawah sadar yang imbasnya adalah otak cepat merasa kelelahan dan kehilangan fokus.
Baca juga: Jangan Panic Buying BBM, Ingat Timbun BBM Bisa Dipenjara Serta Denda Capai Rp60 Miliar
Pola kehidupan Digital Modern yang menyajikan segalanya kehadapan publik, membentuk pola perbandingan hidup, Kita tidak lagi sekedar hidup namun terus berusaha menunjukkan kepada sosial bahwa kehidupan kita juga baik, berhasil, sukses dan produktif
Semua orang saling berkomentar, berbicara dan bereaksi. Dunia seolah tidak memberi ruang untuk diam di tengah kebisingan itu manusia modern merindukan sesuatu yang sederhana yaitu keheningan.
Dalam tradisi spiritual Islam jalan menuju keheningan itu dikenal dengan istilah Suluk.
Secara bahasa suluk bermakna menempuh jalan, sementara secara istilah sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Ghazali dalam Raudhatut Thalibin suluk adalah perjalanan batin seorang hamba melalui penyucian hati dan kesadaran diri untuk menjalin kedekatan dengan Sang Khaliq
Suluk bukan sekedar isolasi fisik, namun demikian ia adalah koneksi batin ditengah hiruk pikuk kehidupan, ia membentuk cara berfikir dalam melihat dunia bukan meninggalkannya sebagaimana yang kadang disalah artikan.
Praktik suluk dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya amalan zikir dengan bilangan tertentu, meditasi dan Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs) yang dibimbing oleh seorang Mursyid dengan tujuan hati senantiasa terkoneksi kepada Sang Khaliq.
Baca juga: Iran Serang Kedutaan Israel di Bahrain, Rudal Dicegat Arab Saudi, Timur Tengah Kian Membara
Semakin berkembangnya zaman tentu semakin beraneka ragamnya tantangan yang didapat. Dan tantangan zaman dahulu tentunya tidak sama dengan tantangan di zaman modern. Di era modern yang serba berkembang terutama informasi dan digitalisasi, segalanya dapat diakses dengan sedemikian mudah.
Kenyataan ini juga menimbulkan problematika tersendiri diantaranya adalah Kebisingan informasi yang membuat kita terus dipaksa untuk mengkonsumsi segala informasi yang ada
Disamping itu trend digital sosial menciptakan standar hidup yang tidak realistis, kita selalu ingin terlihat seperti orang lain, tuntutan eksistensi dan pengakuan sosial kita tinggi.
Buahnya lahir kecemasan, overthinking dan kehilangan arah. Manusia kehilangan ruang hening untuk merefleksikan diri dan jiwa kian lelah dengan tuntutan hawa nafsu yang tak henti
Suluk kerap diidentikkan dengan praktik Kuno tradisi Islam, ia dipresepsikan sebagai laku Sang Nabi di awal-awal menerima Wahyu di Gua Hira.
Lakon ini dikenal dengan Khalwat dalam dunia Tarekat. Namun demikian, laku ini jika dikaitkan dengan kehidupan modern sangatlah relevan.
Ditengah pola hidup yang terus bergerak cepat tanpa henti setiap detiknya, jiwa terkadang terasa letih dan kering, maka dalam kondisi inilah suluk dibutuhkan sebagai detoks spiritual bagi jiwa yang lelah, juga menjadi titik renung kesadaran dari bisingnya kehidupan modern, ia juga berfungsi sebagai pemulih dari makna kehidupan yang pelan-pelan terus bergeser.
Suluk bukan sekedar tradisi klasik namun ia adalah kebutuhan bagi manusia modern
Dalam dunia Tarekat, Suluk digambarkan sebagai perjalanan bertahap yang dituntun oleh seorang Mursyid (pembimbing). Dimulai dengan Yaqadzah (keterjagaan), bahwa hidup ini bukanlah tujuan utama, melainkan sarana menuju akhirat.
Dengan kesadaran inilah timbul benih semangat di dalam beramal sholeh. Kemudian tahapan Muhasabah (menginstrospeksi diri), sejauh mana bekal yang telah disiapkan menuju Akhirat.
Kemudian Takhalli (mengosongkan hati) dari segala hal jelek yang membuat diri tidak sampai kepada Allah SWT. Ibarat gelas yang akan diisi, tentunya harus berada di tempat yang lebih rendah, dan alangkan baiknya jika dikosongkan terlebih dahulu.
Setelah itu Tahalli (menghias diri), dengan mengisi ke dalam hati segala sifat-sifat terpuji seperti sabar, syukur, ridha, dll., yang kesemuanya akan memancarkan cahaya batin.
Dan terakhir Tajalli (mengagungkan Allah SWT). Pada tahapan ini seorang Salik (penempuh jalan) akan merasakan kehadiran Tuhan, sehingga hidupnya bergantung semata-mata hanya kepada Allah SWT.
Dalam konteks kekinian, suluk bukan sekedar dimaknai sebagai anti sosial dengan mengisolasi diri dari kehidupan, namun sebaliknya ia dapat dimulai dari rutinitas harian yang kecil ditengah aktivitas sosial, seperti puasa digital (membatasi informasi), tidak semua informasi, trend dan perkembangan harus kita ketahui dan ikuti, menjaga kesehatan jiwa sama pentingnya dengan menjaga kesehatan raga.
Beberapa menit tanpa gadget bisa jadi menjadi sarana pemulihan mental dan sarana Rethingking (berpikir ulang) terhadap tujuan awal dan target utama dalam kehidupan
Selanjutnya isi dengan zikir ringan namun konsisten dalam setiap aktivitas terutama dipagi hari saat akan memulai aktivitas, zikir bukanlah sekedar bacaan biasa tetapi ia adalah latihan menghubungkan diri dengan Ilahi
Menjalakan suluk (laku spritual) dengan benar akan melahirkan efek yang nyata.
Meski tidak terlalu dramatis, laku spritual dari suluk akan melahirkan pikiran yang lebih jernih, sehingga tidak mudah terbawa ke setiap arus yang ada.
Kemudian ia akan melahirkan kejiwaan yang lebih stabil, sehingga tidak mudah terbawa ke dalam konflik-konflik. Juga karena kejernihannya akan melahirkan keputusan yang lebih bijaksana dan hubungan sosial yang lebih akrab.
Keheningan bukanlah membuat seseorang menjadi sepi dan pasif, namun sebaliknya ia melahirkan kesadaran sehingga segala yang ia lakukan terasa lebih bermakna. Seperti air yang tenang memiliki kedalaman, demikian pula jiwa yang tenang memiliki kekuatan.
Keheningan dan kebeningan rasanya sulit diraih di tengah kebisingan kehidupan modern. Di tengah arus informasi dan teknologi yang terus berkembang dunia yang terus menawarkan perubahan namun suluk mengajarkan kita bahwa keheningan dan kebeningan bukanlah sesuatu yang kita tunggu dari dunia namun Ia adalah sesuatu yang kita bangun di dalam diri kita
Rasanya Sesuatu yang mustahil Menjadi Pejalan Sunyi di Dunia yang Ramai. Dunia mungkin tidak akan pernah menjadi lebih tenang. Teknologi akan terus berkembang, informasi akan berkembang semakin cepat, dan kebisingan akan tetap ada.
Namun demikian Setiap orang bisa menjadi salik (Penempuh Jalan) dengan menjalani laku spiritual meskipun di tengah kebisingan, laku spiritual inilah yang melahirkan keheningan dan kebeningan di dalam menjalani kehidupan
Di tengah kebisingan dan keinginan untuk selalu mampu menjangkau segalanya kita akan sadar bahwa ternyata kita perlu berjalan lebih jauh ke dalam relung batin untuk menggapai makna sesungguhnya dari kehidupan yang kita jalani bukan semata-mata keluar melihat segala apa yang ada dari sanalah Keheningan dan kebeningan ini akan ditemukan
*Penulis adalah Penulis dan pengkaji spiritualitas Islam serta aktif menulis isu keislaman dan kemanusiaan)