Kultum Ramadan: Menuju Keutamaan 10 hari Terkhir Bulan Ramadhan
Pipit Maulidya March 06, 2026 06:32 PM

Kultum Ramadan oleh Ustad Sholih Sulaiman, Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PCNU Surabaya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau.

Saudara-saudara dimanapun Anda berada, semoga Allah merahmati kita semua.

Alhamdulillah sebentar lagi kita sudah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Ini adalah hari-hari yang sangat krusial dan sangat penting dalam pelaksanaan ibadah puasa kita.

Selain di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, di sanalah juga merupakan puncak dari ibadah puasa kita. Bahkan karena begitu pentingnya, disebutkan bahwa 10 hari terakhir di bulan Ramadan merupakan pembebasan diri dari api neraka.

Pada 10 hari terakhir bulan Ramadan inilah Baginda Rasulullah SAW selalu melakukan i’tikaf sampai beliau wafat.

Rasulullah SAW selalu melakukan i’tikaf pada akhir bulan Ramadan, yaitu 10 hari terakhir, hingga beliau wafat. Kemudian para istri beliau juga melakukan hal yang sama setelah kewafatan beliau.

Saudara-saudara yang dimuliakan Allah, i’tikaf adalah salah satu ibadah dalam syariat Islam yang sangat dianjurkan, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadan ini.

I’tikaf berarti menahan diri atau menetap di suatu tempat. Sedangkan menurut syariat, i’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan memenuhi beberapa syarat tertentu.

Tujuan dari i’tikaf sendiri adalah membersihkan hati dari kesibukan dunia dan memusatkan penghambaan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, ketika seseorang melakukan i’tikaf dengan benar dan diterima oleh Allah SWT, maka orang tersebut akan mencapai totalitas dalam penghambaan kepada Allah. Akhirnya di dalam jiwanya akan muncul ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Namun untuk mencapai derajat tersebut tidaklah mudah. Dibutuhkan keuletan, kesabaran, serta memenuhi beberapa syarat yang telah disampaikan oleh para ulama, baik syarat lahir maupun batin.

Saudara-saudara yang dirahmati Allah.

Di dalam kitab Fiqih Manhaji ala Mazhab Imam Syafi’i disampaikan bahwa agar i’tikaf seseorang sah, maka harus memenuhi dua syarat utama.

Syarat yang pertama adalah niat.
Niat ini sangat penting. Jika seseorang berdiam diri di masjid tanpa niat i’tikaf, maka i’tikafnya tidak sah.

Jika i’tikaf itu sunnah, maka cukup berniat i’tikaf karena Allah. Sedangkan jika i’tikaf itu karena nazar, maka niatnya disesuaikan dengan nazarnya.

Syarat yang kedua adalah berdiam diri di dalam masjid.

Para ulama menjelaskan bahwa seseorang yang berniat i’tikaf tetapi tidak berada di dalam masjid, misalnya di kamar, di ruang lain, atau di tempat yang bukan bagian dari masjid, maka menurut mazhab Syafi’i i’tikafnya tidak sah.

Selain itu, kata “masjid” juga mengecualikan orang-orang yang diharamkan masuk masjid, seperti wanita yang sedang haid. Maka secara otomatis orang yang sedang haid tidak sah melakukan i’tikaf di dalam masjid.

Saudara-saudara yang dimuliakan Allah.

Untuk mencapai derajat ketenangan jiwa yang saya sebutkan tadi, seseorang juga harus memenuhi syarat-syarat lain secara batiniah.

Artinya, jika seseorang sudah memenuhi dua syarat tadi, maka i’tikafnya sah secara fikih. Namun agar i’tikaf itu benar-benar memberi dampak spiritual dan diterima oleh Allah SWT, maka ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan.

Yang pertama adalah meninggalkan penyakit-penyakit hati.

Contohnya adalah takabur. Jika seseorang i’tikaf tetapi di dalam hatinya masih ada kesombongan, maka i’tikafnya tidak bernilai di sisi Allah.

Penyakit hati lainnya adalah riya, yaitu melakukan ibadah agar dipuji orang lain. Jika seseorang i’tikaf dengan niat seperti itu, maka pahala i’tikafnya akan hilang.

Selain itu ada juga adu domba atau menjelekkan orang lain. Hal-hal seperti ini juga merusak nilai ibadah i’tikaf.

Yang kedua adalah meninggalkan perkara makruh dan hal-hal yang sia-sia.

Contohnya, ketika i’tikaf seseorang malah sibuk dengan hal-hal yang tidak perlu. Misalnya merokok, terlalu banyak makan atau ngemil, atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Termasuk juga kegiatan yang melalaikan, seperti i’tikaf tetapi sibuk main HP, bermain game, atau berbincang tentang urusan dunia. Hal-hal seperti ini akan mengurangi nilai i’tikaf.

Yang ketiga, ketika i’tikaf seseorang harus memperbanyak ketaatan kepada Allah.

Misalnya dengan berzikir, membaca Al-Qur’an, membaca kitab-kitab ilmu syariat, atau bermuzakarah ilmu.

Dengan cara seperti ini, maka tujuan i’tikaf akan lebih cepat tercapai.

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang i’tikaf itu seperti seseorang yang sedang menghadap raja. Tentu ketika kita menghadap raja, kita harus bersikap sopan, menjaga perilaku, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas di hadapan raja tersebut.

Saudara-saudara yang dirahmati Allah.

Itulah beberapa pesan dari para ulama tentang bagaimana agar i’tikaf kita benar-benar memiliki nilai dan kualitas. Sehingga akhirnya kita bisa menjadi orang yang selamat, baik di dunia maupun di akhirat, serta menjalani kehidupan dengan ketenangan jiwa.

Kurang lebihnya mohon maaf.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.