TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN- Seorang warga Kota Medan bernama David Gordon Sigalingging mendatangi Polda Sumut, Jumat (6/3/2026).
Ia datang didampingi kuasa hukum dan rekannya ke gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut.
Mengenakan kemeja motif garis-garis berwarna abu-abu, ia tampak lemas duduk di depan gedung.
Saat diwawancarai, David mengatakan kedatangannya ke Polda Sumut untuk menanyakan laporannya yang sudah dilayangkan sejak 4 Desember 2023 lalu.
Ia menyebut, laporannya soal dugaan penipuan yang diduga dilakukan BHP, ketua Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Medan.
Total kerugian ditaksir mencapai Rp 2 Miliar lebih, karena saat itu ia menjual emas batangan milik keluarga.
Uang sebesar Rp 2 Miliar itu ia transfer ke rekening BHP langsung beberapa kali pada Januari 2023.
"Akhirnya saya memberikan uang sebesar Rp 2 miliar kepada Boydo ini. Yang dimana uang ini berasal dari emas keluarga, emas orang tua saya yang saya gadaikan di Pegadaian. Kemudian uang itu saya berikan pada Boydo, dan disini ada bukti transfernya semua, lengkap sebesar Rp 2 miliar,"kata David Gordon Sigalingging, di Polda Sumut, Jumat (6/3/2026).
David menjelaskan, dugaan penipuan bermula pada Januari 2023 lalu, ketika ia dihubungi saudaranya yang berprofesi sebagai pendeta untuk mendanai proyek konser di Pemko Medan.
Namun, bukan temannya yang melaksanakan proyek, tetapi BHP, yang saat itu menjabat sebagai sekretaris DPC Partai PDIP Kota Medan.
Singkat cerita, David bertemu langsung dengan BHP usai dipertemukan rekannya.
Disini ia mengaku dijanjikan fee sebesar 10 persen dari proyek, apabila memberikan uang sebesar Rp 2 Miliar.
Kemudian, uang itu akan dikembalikan pada bulan Maret 2023, beserta keuntungan yang dijanjikannya.
Nyatanya, sesampainya bulan Maret, uang maupun janji keuntungan tak diberikan.
Sampai akhirnya pada Desember 2023 David melapor ke Polda Sumut karena merasa ditipu.
Mengenai upaya menagih, ia sudah berupaya, tapi tak kunjung dibayarkan.
Alasan BHP, katanya, proyek tidak mendapat keuntungan.
Kemudian, BHP juga bekerjasama dengan pihak lain.
"Sekarang posisinya Ketua GAMKI Kota Medan. Setelah tanggal 4 Desember saya lapor ke Polda, sampai saat ini posisinya masih dalam penyelidikan, belum naik ke penyidikan,"ungkapnya.
"Sudah berulangkali kita meminta uang kita, namun alasan dia tidak ada keuntungan dalam proyek tersebut,"sambungnya.
Terpisah, ketua Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Medan Boydo Harris K Panjaitan membantah menipu David.
Ia menyebut uang sebesar Rp 2 Miliar milik David itu sebagai bentuk investasi di acara Festival Deliland.
Setelah diterima Boydo, uang itu diserahkan kembali kepada pihak event organizer, yang bekerjasama dengan Pemko Medan.
Ternyata, selesai konser, pihak event juga tidak mengembalikan uang.
Belakangan, pihak Event organizer yang menerima uang dari Boydo meninggal dunia.
"Dia investasi ke Deliland festival. Mau nanam Rp 2 Miliar, dapat untung Rp 200 juta. Tetapi pihak event tidak membayarnya karena katanya rugi,"kata Boydo, dihubungi melalui telepon.
Boydo mengatakan dirinya juga merasa dirugikan akibat peristiwa ini.
Ia juga beberapa kali membayar bunga emas batangan yang digadaikan David kurang lebih Rp 150 juta.
Bahkan, Boydo juga telah melaporkan Aditya Nuryahya, sebagai pihak event organizer.
Namun belakangan, Aditya Nuryahya meninggal dunia, sehingga David menagih ke dirinya.
"Saya transfer ke penyelenggaranya. Aditya Nuryahya sudah saya laporkan juga ke Polrestabes Medan, namun meninggal dunia."
(Cr25/Tribun-medan.com)