TRIBUNNEWS.COM - Di tengah invasi AS dan Israel ke Iran yang masih berlangsung , Presiden Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah videonya bersama sejumlah pendeta viral.
Adapun video tersebut memperlihatkan sejumlah pendeta mendoakan Trump.
Sementara Trump tampak duduk di tengah meja yang berada di Gedung Oval, Washington DC, AS.
Video itu pertama kali diunggah oleh Wakil Kepala Staf Bidang Komunikasi dan Direktur Media Sosial Gedung Putih, Daniel Scavino di akun X pribadinya.
"Sekarang sedang berlangsung di Gedung Oval di Gedung Putih. Tuhan bersama Amerika Serikat," tulisnya dalam unggahan video berdurasi 48 detik itu.
Hingga Jumat (6/3/2026) pukul 19.42 WIB, video tersebut telah ditonton sebanyak 7,9 juta kali dan dikomentari sebanyak kurang lebih 20 ribu warganet.
Salah satu pendeta mendoakan agar Trump dibimbing dalam 'masa sulit' yang dihadapi AS saat ini.
"Kami berdoa agar berkat dan kasih karunia-Mu senantiasa menyertainya. Kami berdoa agar hukmat dari surga memenuhi hati dan pikirannya, dan Tuhan, Engkau akan membimbingnya di masa-masa sulit yang kita hadapi saat ini," kata salah satu pendeta.
Baca juga: Dewan Iran Rapat Soal Pemimpin Baru, Kecam Trump yang Mau Ikut Campur
Pendeta tersebut juga meminta kepada Tuhan agar memberikan perlindungan kepada seluruh angkatan bersenjata AS saat ini.
"Saya berdoa memohon berkat dan perlindungan-Mu atasnya. Saya berdoa memohon berkat dan perlindungan-Mu atas pasukan kita, dan semua pria dan wanita yang mengabdi pada angkatan bersenjata kita," ucap pendeta yang sama.
Hingga kini belum diketahui maksud dari kegiatan doa yang dilakukan Trump bersama sejumlah pendeta tersebut.
Terlepas dari kegiatan doa tersebut, ada satu sosok yang disorot warganet yakni seorang pendeta wanita yang mengenakan setelan berwarna merah dan berada di samping kiri Trump.
Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com, ia merupakan televangelist kelahiran Mississippi, dan kini berusia 59 tahun bernama Paula Michelle White-Cain.
Adapun televangelist merupakan pengkotbah yang rutin melakukan ajaran agama melalui program di televisi.
Dikutip dari Associated Press (AP), White merupakan salah satu penasehat spiritual Trump dan kini menjabat sebagai Kepala Kantor Kepercayaan Gedung Putih.
Dia juga merupakan pendeta di Gereja StoryLife dan Gereja City of Destiny Church di Florida AS.
Sementara, Trump dan White saling mengenal sejak tahun 2002. Kala itu, Trump menonton salah satu acara khotbah White di televisi.
Lalu, Trump menghubungi White dan memujinya terkait ajaran yang disampaikannya dalam acara tersebut.
Setelah mengenal lama, Trump menunjuk White sebagai ketua dewan penasihat evangelis dirinya selama kampanye Pilpres AS pada tahun 2016.
Baca juga: Donald Trump Menggoda Soal Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Jawabannya Tetap Lionel Messi
Dikutip dari The Guardian, White pernah dikecam karena mematok harga hingga 1.000 dolar AS untuk tiap doa yang ditujukan kepada umat pada Maret 2025 lalu.
Adapun uang itu dianggap oleh White sebagai 'uang untuk berkat'. Dia memang dikenal dengan ajaran 'teologi kemakmuran' yang turut dikecam berbagai kritikus karena dianggap menyesatkan.
Teologi kemakmuran adalah ajaran di mana berdoa bakal menghasilkan keuntungan finansial.
Juru bicara Paula White Ministries membantah tuduhan tersebut dan menyatakan permintaan sumbangan adalah untuk kebutuhan pelayanan.
"Cerita ini adalah fitnah yang menyesatkan. Pendeta White secara khusus mengatakan dalam video yang sama, ‘kamu tidak melakukan ini untuk mendapatkan sesuatu,’ dan permintaan sumbangan, yang muncul kemudian dalam program, dengan jelas menyatakan bahwa setiap sumbangan kepada pelayanan ini hanya boleh ‘sesuai dengan pimpinan Roh Kudus."
"Selain itu, sumbangan kepada pelayanan tersebut tidak secara langsung menguntungkan Pendeta White," katanya.
Bahkan, dalam pernyataannya, White turut mengutip salah satu ayat di Alkitab.
"Ada seseorang yang Tuhan sedang berbicara kepadanya untuk mengklik tombol donasi dengan meminimalkan layar. Dan ketika kamu melakukannya berilah 1.144 dolar AS."
"Tidak sering saya meminta secara spesifik, tetapi Tuhan telah menginstruksikan saya dan saya ingin Anda mendengarnya. Ini bukan untuk semua orang tetapi ini untuk seseorang. Ketika Anda menanam 1.144 dolar AS berdasarkan (Injil) Yohanes (bab) 11 (ayat) 44, saya percaya untuk kehidupan kebangkitan," katanya dalam sebuah forum.
Baca juga: Diduga Selingkuh dengan Ajudan, Donald Trump Copot Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem
Pada kesempatan tersebut, White juga mengatakan orang yang ingin menerima 'benih kebangkitan' dengan membayar 144 dolar AS atau 44 dolar AS jika tidak mampu membayar seluruhnya.
Jauh sebelumnya yakni pada tahun 2007-2011, Komite Kuangan Senat menyelidiki enam pendeta televangelis termasuk White yang diduga menyalahgunakan dana amal yang bebas pajak.
Gereja Without Walls International Church yang sempat dipimpin White diduga menggunakan dana amal untuk kepentingan pribadi seperti pembelian jet pribadi, membeli tiket ke Kepulauan Cayman dan pertandingan tinju di Las Vegas, serta membeli sebuah mansion seluas 8000 meter persegi di Florida.
Selain itu, dana amal itu diduga juga digunakan untuk membeli sebuah kondominium senilai 3,5 juta dolar AS di Trump Tower, New York.
Namun hingga kini tidak diketahui perkembangan penyelidikan yang telah dilakukan.
Selain terkait uang, White juga pernah memicu kontroversi dengan menyebut gerakan Black Lives Matter sebagai gerakan 'anti Kristus'.
Black Lives Matter (BLM) adalah gerakan sosial dan politik internasional yang dimulai pada tahun 2013 dan memiliki tujuan untuk melawan rasisme terhadap kelompok kulit hitam.
Adapun gerakan ini awal mula muncul buntut dibebaskannya George Zimmerman yang melakukan penembakan terhadap remaja Afrika-Amerika, Trayvon Martin pada tahun 2013 lalu.
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)