Atas Permintaan Yordania, Liga Arab Gelar Pertemuan Darurat Bahas Serangan Iran, Mau Ikut Perang?
TRIBUNNEWS.COM - Atas permintaan Yordania dan negara-negara Arab lainnya, Dewan Liga Arab dilaporkan akan mengadakan pertemuan luar biasa para menteri luar negeri melalui konferensi video pada Minggu (8/3/2025) untuk membahas serangan terang-terangan Iran.
"Pertemuan tingkat menteri ini diadakan atas permintaan Yordania, Arab Saudi, Bahrain, Oman, Qatar, Kuwait, dan Mesir, untuk membahas serangan Iran terhadap negara-negara Arab yang melanggar hukum internasional, konvensi, dan prinsip-prinsip bertetangga baik," kata laporan Khbrn, Jumat (6/3/2026).
Baca juga: Buktikan Ucapan, Garda Revolusi Iran Luncurkan Gelombang Besar Rudal Balistik ke Jantung Israel
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, menggambarkan serangan Iran terhadap negara-negara Arab sebagai "berbahaya".
"Serangan yang dilakukan oleh Iran sepenuhnya dikutuk, dan bukan hanya pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, tetapi juga serangan terhadap prinsip-prinsip bertetangga baik," kata Aboul Gheit.
Aboul Gheit memperingatkan bahwa serangan Iran "menciptakan keadaan permusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Iran dan negara-negara Arab tetangga, dan menciptakan keretakan yang dalam antara Iran dan kawasan ini, yang akan meninggalkan dampak besar di masa depan."
Ia menekankan bahwa "tidak ada yang meremehkan kengerian perang yang dihadapi Iran.
"Tetapi pada saat yang sama tidak ada pembenaran yang dapat diterima bagi Iran untuk menargetkan negara-negara Arab tetangga dengan tujuan menyeret mereka ke dalam perang yang bukan perang mereka, terutama karena sejumlah negara Arab telah bekerja tanpa lelah untuk menghindari perang yang mengerikan ini," kata dia.
Agenda pertemuan darurat ini memantik spekulasi kalau kondisi yang makin tidak terkendali memaksa negara-negara Arab untuk ikut menyerang Iran.
Iran diketahui menyerang negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah dengan menyasar lokasi-lokasi yang menampung aset-aset Amerika Serikat (AS).
Selain aset-aset AS di kawasan Teluk, Iran juga secara langsung menargetkan negara pendudukan, Israel.
Serangan ini sebagai balasan atas agresi gabungan AS dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei dan sejumlah petinggi militer, termasuk para pimpinan komando Pasukan Garda Revolusi.
Sejauh ini, serangan Iran tidak berbalas serangan ofensif oleh negara-negara Arab.
Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi, misalnya. Dua negara tersebut sejauh ini hanya bersikap defensif dengan hanya mencegat rudal dan drone-drone Iran yang masuk menyerang.
Sebagian rudal dan drone Iran itu tidak mampu diintersep, seperti contohnya di Bahrain, Dubai, dan Arab Saudi.
Kekhawatiran terjadinya perang yang lebih luas yang mengoyak perekonomian dan stabilitas kawasan menjadi pertimbangan utama negara Arab untuk tidak membalas secara ofensif serangan Iran meski terus mendapat dorongan dari AS dan bahkan negara-negara Eropa.
(oln/khbrn/*)