Hobi Menjadi Bisnis, Eva Susana Bangun BunQee Craft di Tengah Badai Pandemi Covid-19
Robertus Didik Budiawan Cahyono March 07, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Di sebuah galeri yang dipenuhi tumpukan kerajinan khas Lampung, seorang wanita dengan pakaian wastra memegang slimbag sambil menceritakan perjalanan jatuh bangunnya dalam merintis usaha. 

Momen tersebut berlangsung di Galeri BunQee yang berlokasi di daerah Kemiling, Bandar Lampung, pada Jumat (6/3/2025).

Eva Susana pemilik BunQee Craft and Fashion menceritakan usahanya dimulai dari hobi menjahit. Hobi tersebut ia dapatkan sebab sering melihat sang ibu menjahit baju.

Hobi itu terus ia tekuni hingga berkembang menjadi bisnis kerajinan dengan puluhan produk dan jaringan penjualan ke berbagai daerah.

Nama BunQee sendiri memiliki cerita tersendiri. Awalnya berasal dari panggilan untuk anaknya, Saskia, yang biasa dipanggil “BunKi”. Dari situlah nama usaha tersebut kemudian dimodifikasi menjadi BunQee.

Baca juga: Fesyen Kain Tappan Sony Oktaria, Potensi Wastra Lampung yang Belum Tergarap

Sebelum menekuni kerajinan khas Lampung, Eva sempat mencoba berbagai usaha kuliner, mulai dari soto, pecel, hingga mie ayam. 

Namun, usaha tersebut tidak bertahan lama. Pada 2019 ia membuka usaha kopi dan kuliner di kawasan Gunung Kucing, tetapi pandemi Covid-19 memaksanya menutup usaha tersebut.

“Awalnya ini cuma hobi menjahit di rumah. Tapi waktu pandemi, orang banyak butuh masker. Saya coba buat sendiri, ternyata pesanan sampai seribu pcs/hari,” ujar Eva Jumat (6/3/2025).

Ia mengatakan bahwa masker yang ia produksi adalah masker kain dengan sentuhan motif tapis.

Permintaan masker yang melonjak saat itu menjadi titik balik dari usahanya.

Dari rumah, Eva mulai menerima pesanan dalam jumlah besar, bahkan dari instansi pemerintah yang membutuhkan masker untuk kegiatan pelatihan.

Awalnya ia mengerjakan pesanan sendiri. Namun ketika pesanan mencapai ratusan dalam waktu singkat, ia mulai menggandeng penjahit lain sebagai mitra produksi.

“Kalau pesanan kecil masih bisa sendiri. Tapi kalau sudah 100 dalam dua atau tiga hari, tidak mungkin dikerjakan sendiri. Sekarang saya punya dua penjahit tetap, kalau pesanan banyak bisa sampai sepuluh orang,” katanya.

Seiring waktu, BunQee Craft tidak lagi hanya memproduksi masker, namun juga ke kain tapis hingga pengembangan lainnya.

Eva mulai mengembangkan berbagai produk kerajinan dan souvenir berbahan kain, seperti dompet, tas, kopiah, tanjak, kotak tisu, hingga gantungan kunci.

Saat ini, produk yang dibuat dan dijual oleh Eva mencapai lebih dari 20 jenis. Beberapa di antaranya menggunakan teknik bordir, tapis, dan sulam usus yang merupakan kerajinan khas Lampung.

“Yang paling banyak dipesan itu peci dan clutch. Kalau di toko oleh-oleh biasanya kotak tisu,” ujarnya.

Harga produk BunQee Craft cukup beragam, mulai dari Rp.10.000 untuk gantungan kunci hingga jutaan rupiah untuk produk tapis dengan benang emas.

Meski begitu, proses produksi tidak selalu mudah. Eva mengaku tantangan terbesar adalah mencari pengrajin yang konsisten. 

Banyak pengrajin kini memilih pekerjaan dengan penghasilan tetap dibandingkan sistem borongan yang umum di kerajinan tangan.

“Kalau pengerjaan cepat mereka bisa dapat uang cepat, tapi kalau lama ya tidak ada pemasukan. Itu yang membuat kadang sulit mencari pengrajin,” katanya.

Dalam sebulan, omzet BunQee Craft rata-rata mencapai Rp.10 juta hingga Rp.15 juta. Penjualan datang dari berbagai jalur, mulai dari pesanan instansi pemerintah, pameran UMKM, hingga pemasaran digital melalui Instagram dan TikTok.

Produk BunQee Craft juga telah dipasarkan di sekitar 10 toko oleh-oleh, bahkan dua di antaranya berada di Jakarta.

Tak hanya itu, 3 tahun belakang ini Eva selalu menerima pesanan dari custumernya di Papua. 

Menurutnya, untuk pasar Papua mereka menyukai motif yang lebih ramai dan warna emas yang mencolok.

“Kalau di sana mereka suka yang ramai, warna emas, yang mencolok. Jadi kita sesuaikan,” ujarnya.

Disela-sela menjelaskan berbagai produknya, Eva juga menceritakan bagaimana perjalanan membangun usaha juga tidak selalu mulus. 

Eva mengaku sempat di pandang sebelah mata ketika menawarkan produknya dari satu dinas ke dinas lain. 

Namun ia tetap bertahan dan tidak menyerah dan tetap memanfaatkan berbagai pelatihan serta program pembinaan UMKM dari pemerintah.

Dari situ ia mendapatkan berbagai fasilitas, mulai dari pelatihan usaha, Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga sertifikat merek dan bantuan mesin jahit.

“Awalnya saya datang sendiri ke dinas-dinas, menawarkan produk. Lama-lama mereka kenal dan percaya,” katanya.

Kini, selain kerajinan, Eva juga menjalankan usaha kuliner rumahan bernama Dapur BunQee, yang biasanya ramai pesanan saat Ramadan dan hari raya.

Meski masih berstatus UMKM, Eva berharap usahanya bisa terus berkembang dan membuka lebih banyak peluang kerja bagi pengrajin lokal.

“Yang penting kita terus berusaha dan tidak takut mencoba. Dari hobi saja bisa jadi usaha kalau kita tekuni,” ujarnya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.