Tradisi Tumbilotohe Jadi Peluang Usaha Warga Gorontalo, Eman Djakaria Aktif Produksi Alikusu
Fadri Kidjab March 08, 2026 04:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Tradisi Tumbilotohe di Provinsi Gorontalo memberikan peluang usaha bagi masyarakat.

Eman Djakaria, warga Kelurahan Buladu, Kecamatan Kota Barat, secara aktif memproduksi Alikusu—pintu gerbang adat tradisional Gorontalo yang biasa dipasang pada malam ke-27 Ramadan.

Alikusu merupakan gerbang tradisional yang terbuat dari rangka kayu dan dihiasi janur kuning atau daun kelapa muda.

Pada bagian atasnya digantung lampu botol (tohe), yang menjadi ciri khas perayaan Tumbilotohe.

Namun, Eman menjelaskan bahwa saat ini bahan hiasan mengalami sedikit perubahan.

Janur kuning diganti dengan kertas berwarna kuning agar lebih praktis dan mudah diperoleh.

Ia mulai membuat Alikusu setelah menerima desain dari Pemerintah Kota Gorontalo dan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata.

“Saya dapat desainnya, lalu konfirmasi ke Dinas Pariwisata, baru mulai bikin,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Eman kini memproduksi Alikusu untuk dijual kepada masyarakat.

Ia bahkan mengklaim menjadi salah satu penjual yang lebih dulu memulai produksi tahun ini.

TRADISI TUMBILOTOHE -- Alikusu buatan Eman Djakaria. Ia rajin memproduksi Alikusu—pintu gerbang adat tradisional Gorontalo.
TRADISI TUMBILOTOHE -- Alikusu buatan Eman Djakaria. Ia rajin memproduksi Alikusu—pintu gerbang adat tradisional Gorontalo. (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Hal tersebut karena di beberapa lokasi yang biasanya menjual Alikusu, belum terlihat aktivitas serupa.

Saat ini, ia telah membuat sekitar 20 unit dari target 50 unit, bahkan bisa lebih jika memungkinkan.

Alikusu tersebut diminati masyarakat sekitar dan juga dipesan oleh sejumlah instansi.

“Dari kemarin sudah ada pesanan dari kantor dan sekolah,” katanya.

Harga satu unit Alikusu Rp125 ribu, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang dijual Rp100 ribu.

“Tahun kemarin terjual sekitar 250 unit,” ujarnya.

Meski penjualan baru dimulai, sudah ada lima unit yang terjual.

Eman memasarkan produknya melalui media sosial dan memajang hasil produksi di depan rumah agar mudah dilihat calon pembeli.

Sebagai pensiunan guru, ia tertarik menekuni usaha musiman ini karena melihat peluang setiap Ramadan.

“Saya melihat peluang, sekaligus ingin membantu masyarakat,” ujarnya.

Dalam proses produksi, Eman dibantu anaknya untuk menyelesaikan setiap unit Alikusu.

Tradisi Tumbilotohe sendiri merupakan budaya khas Gorontalo. Tumbilotohe adalah tradisi menyalakan lampu minyak di malam ke-27 Ramadan sebagai simbol penerangan menjelang malam Lailatul Qadar.

Tradisi ini menjadi daya tarik budaya yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahun.

Selain sebagai simbol penerangan, Tumbilotohe juga melambangkan kebersamaan dan semangat gotong royong.

Masyarakat biasanya bergotong royong memasang lampu di halaman rumah, jalan, hingga masjid.

Lampu-lampu tersebut menciptakan suasana meriah dan penuh kehangatan.

Alikusu sebagai gerbang adat menjadi pelengkap visual dalam tradisi ini.

Gerbang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai simbol penyambutan malam penuh berkah.

Eman menyebutkan bahwa permintaan Alikusu biasanya meningkat menjelang malam ke-27 Ramadan.

Hal ini membuat usaha musiman tersebut cukup menjanjikan.

Ia berharap produksi tahun ini bisa melampaui capaian tahun sebelumnya.

Selain itu, ia juga ingin memperkenalkan kembali nilai budaya Gorontalo kepada generasi muda.

Menurutnya, tradisi Tumbilotohe harus terus dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman.

Dengan adanya Alikusu, masyarakat memiliki sarana untuk menjaga identitas budaya.

Eman menegaskan bahwa usaha ini bukan semata mencari keuntungan, tetapi juga bentuk kontribusi terhadap pelestarian tradisi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.