BBWS Ungkap Penyebab Banjir Bandar Lampung, 44 Titik Sempat Tergenang
Daniel Tri Hardanto March 09, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji-Sekampung memaparkan penyebab banjir yang terjadi di Bandar Lampung dan Lampung Selatan pada Maret 2026.

Paparan tersebut disampaikan Kepala BBWS Mesuji-Sekampung Elroy Koyari dalam rapat pembahasan penanganan banjir di Kantor Gubernur Lampung, Senin (9/3/2026).

Dia menjelaskan, banjir di Bandar Lampung menyebabkan genangan di 44 titik yang tersebar di 10 kecamatan, yakni Sukarame, Rajabasa, Sukabumi, Tanjung Senang, Enggal, Tanjungkarang Barat, Tanjungkarang Pusat, Way Halim, Labuhan Ratu, dan Kedamaian.

Beberapa titik yang terdampak di antaranya Jalan Pulau Singkep Sukarame, Jalan Pangeran Senopati Korpri Jaya, Jalan Taurus Rajabasa Nunyai, Jalan Gatot Subroto, Jalan Ratu Dibalau, hingga kawasan Way Halim dan Labuhan Ratu.

Elroy Koyari mengatakan, banjir dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama di wilayah Bandar Lampung.

“Intensitas curah hujan yang tinggi dengan durasi cukup lama menyebabkan sungai-sungai di kawasan perkotaan meluap,” kata Elroy.

Sejumlah wilayah mengalami curah hujan cukup tinggi, seperti di Sukarame mencapai 168 mm dan di Sumber Rejo mencapai 80 mm.

Selain itu, kondisi drainase perkotaan juga dinilai belum mampu menampung debit air hujan.

“Drainase tidak mampu menampung debit air hujan, salah satunya karena adanya penumpukan sampah pada saluran,” ujarnya.

Akibat banjir tersebut, ketinggian air di sejumlah lokasi bervariasi mulai dari 50 cm hingga 1,2 meter.

Dalam peristiwa ini juga dilaporkan terdapat dua korban jiwa.

Salah satunya seorang anak berusia 10 tahun serta orang dewasa yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Selain di Bandar Lampung, banjir juga terjadi di sejumlah wilayah Lampung Selatan.

Elroy menjelaskan banjir di wilayah tersebut dipicu oleh curah hujan tinggi di Kecamatan Tanjung Sari serta adanya kiriman debit air dari hulu dan putusnya tanggul Sungai Way Galih.

“Genangan di perumahan warga dan area pertanian dengan ketinggian air berkisar 30 sampai 50 cm,” kata dia.

Solusi Penanganan Banjir

Dalam paparannya, BBWS Mesuji-Sekampung juga menyampaikan sejumlah rekomendasi penanganan banjir, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Untuk penanganan jangka pendek, langkah yang disarankan antara lain normalisasi sungai dan drainase melalui pengerukan sedimentasi serta pembongkaran hambatan aliran seperti vegetasi maupun bangunan yang tidak sesuai dimensi sungai.

Selain itu juga dilakukan peninggian dan perkuatan tanggul di titik-titik rawan limpasan serta penertiban bangunan di sempadan sungai.

Sementara untuk penanganan jangka panjang, BBWS mengusulkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti embung di daerah aliran sungai (DAS) Way Kandis.

“Dalam kajian kami terdapat potensi pembangunan sekitar 13 embung dengan kapasitas tampungan antara 7.500 hingga 80.000 meter kubik per lokasi,” jelas Elroy.

Selain pembangunan embung, program sumur resapan dan biopori juga dinilai penting diterapkan secara masif di kawasan permukiman untuk mengurangi limpasan air hujan.

BBWS juga meminta dukungan pemerintah daerah dalam pembebasan lahan pembangunan embung serta penertiban bangunan di sempadan sungai guna menekan risiko banjir di masa mendatang.

“Kami juga membutuhkan dukungan pemerintah daerah dalam penataan sempadan sungai serta operasi dan pemeliharaan rutin drainase dan gorong-gorong,” pungkasnya.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.