Al Quran kuno berusia 170 tahun masih tersimpan dengan baik di Pondok Pesantren (Ponpes) As Sholichiyah, pondok pesantren tertua di Mojokerto, Jawa Timur.
Pondok pesantren yang berada di Penarip 2, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto itu menyimpan warisan sejarah Islam yang sangat berharga berupa Al-Qur'an tulisan tangan yang umurnya sekitar 170 tahun.
Manuskrip Al-Qur'an kuno ini disimpan dengan baik di sebuah lemari yang terletak di ruang tamu rumah sepuh atau kediaman pengasuh Ponpes As Sholichiyah. Tamu tak sembarangan bisa memegangnya. Sebab kondisi kitab suci ini sudah lapuk dimakan usia.
"Kalau menyentuh minimal harus pakai hand sanitizer supaya tidak ada bakteri yang menempel yang menambah kecepatan rusaknya manuskrip Al-Qur'an ini," kata Pengasuh Ponpes As Sholichiyah, Mochammad Ilyasin (28) di lokasi, Rabu (4/3).
Saking rapuhnya, Al-Qur'an kuno yang panjangnya 32 cm dan lebarnya 20 cm ini tak bisa diangkat dari lemari. Nampak kerusakan di bagian bawahnya. Untuk membalik setiap halaman harus dengan lembut agar tak merobeknya.
"Kondisinya banyak yang rusak, lapuk, hancur. Seperti halaman awal dimulai Surah Al Baqarah kisaran ayat 170an, bukan mulai Al Fatihah. Kemudian di juz 27 juga ada halaman yang hilang karena usia," terang Gus Ilyasin.
Gus Ilyasin merupakan generasi keempat yang mengasuh Ponpes As Sholichiyah. Menurutnya, manuskrip Al-Qur'an ini tulisan tangan kakek buyutnya, Kiai Sholeh Ilyas sekitar tahun 1850-1860.
Manuskrip Al-Quran Kuno Koleksi Pesantren Tertua di Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto
|
Kala itu, Kiai Sholeh masih menimba ilmu di Pesantren Tegalsari, Desa Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Kiai Sholeh diketahui lahir di Kesesi, Pekalongan, Jateng awal abad 19 atau sekitar tahun 1810-1820.
Setelah menimba ilmu di berbagai daerah, Kiai Sholeh mendirikan pesantren di Penarip 2 yang kini dikenal sebagai Ponpes As Sholichiyah sekitar tahun 1880an. Sehingga pesantren ini diyakini sebagai yang tertua di Mojokerto.
"Al-Qur'an ini bukti sejarah yang cukup tua karena penulisannya tahun 1850 sekian. Kami meyakini ini betul-betul tulisan tangan kakek buyut saya. Karena menurut abah saya (Kiai Rofi'i Ismail), Al-Qur'an ini paling cocok dengan tulisan tangan Mbah Sholeh," jelasnya.
Al-Qur'an berumur 170 tahun ini, kata Gus Ilyasin, ditulis secara manual oleh Kiai Sholeh menggunakan pena celup dan tinta dengan pelarut air. Sang kakek buyut membutuhkan waktu sekitar 2 tahun untuk menyelesaikan manuskrip dari Surah Al Fatihah sampai An Nas.
Warisan bersejarah milik Ponpes As Sholichiyah ini mengundang banyak peneliti. Menurut para peneliti, kitab suci ini ditulis menggunakan Rasm Utsmani, yakni cara penulisan mushaf Al-Qur'an pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Namun, ditemukan pula campuran rasm yang lain dalam mushaf ini.
"Dari penelitian yang suda ada, Al-Qur'an ini insyaallah dari serat kayu. Memang zaman itu kertas sangat mahal. Yang paling mudah didapatkan serat kayu," ungkapnya.
Al-Qur'an kuno ini, tambah Gus Ilyasin, hanya secuil manuskrip kuno warisan Kiai Sholeh Ilyas yang bisa diselamatkan dari banjir bandang tahun 2004 silam. Sebab tinggi banjir yang merendam Ponpes As Sholichiyah ketika itu sekitar 120 cm.
Sehingga manuskrip Al-Qur'an ini satu-satunya karya Kiai Sholeh Ilyas yang tersisa untuk saat ini. Bagi keluarga Pesantren As Sholichiyah, kitab suci ini warisan yang amat berharga dari leluhur mereka.
"Makanya oleh abah saya yang menyelamatkan ini dari banjir, apapun alasannya tidak boleh keluar dari rumah sepuh ini. Karena itu bukti kalau kakek buyut kami orang yang tekun dan memperjuangkan Islam, juga bukti kalau di Penarip ini pondok yang sepuh (tua)," tandasnya.
Perawatan manuskrip Al-Qur'an kuno ini dilakukan secara sederhana. Yaitu sebatas diberi silica gel untuk mengurangi kelembaban, serta dibersihkan dari debu secara berkala.








