Gubernur Bali, Wayan Koster mengumpulkan 11 ribu pecalang guna memberikan arahan terkait pengamanan Hari Raya Nyepi Saka 1948.
"Ini lebih dari 11 ribu yang hadir, pecalang dari seluruh Bali, arahannya agar pecalang seluruh Bali itu solid dan semangat ngayah (mengabdi) dengan penuh disiplin, tanggung jawab, dan dedikasi menjaga wewidangan (wilayah) desa adat agar keamanan Bali terjaga dengan baik," kata Wayan Koster, dikutip dari Antara, Senin (9/3/2026).
Gubernur Wayan Koster memandang pemberian arahan ini penting mengingat tahun ini Hari Raya Nyepi berhimpitan dengan Idul Fitri 1447 Hijriah, bahkan ada potensi malam takbiran jatuh pada hari penyepian, yaitu Kamis 19 Maret 2026.
"Secara spesifik tahun ini dalam rangka pengamanan Hari Raya Nyepi yang berhimpitan dengan Hari Raya Idul Fitri supaya Bali ini tetap kondusif dan citra pariwisata Bali baik," ujar Koster.
Menurut dia, momentum hari raya berhimpitan ini juga untuk menguatkan tekad pecalang dalam menjaga adat, tradisi, seni, budaya, kearifan lokal, dan kerukunan antar-umat.
Ia mengaku senang dengan tema Gelar Agung Pecalang Bali 2026, yaitu Sarana Nincapang Kasukertan Jagad Bali Niskala-Sekala yang berarti sarana meningkatkan ketentraman Bali secara duniawi dan nonduniawi.
Tema ini sejalan dengan visi Pemprov Bali dan program prioritas salah satunya berkaitan dengan keamanan. Pemerintah ingin mewujudkan rasa aman bagi masyarakat dan wisatawan di seluruh Bali.
Untuk itu memantapkan pengamanan di lokasi strategis, termasuk Pura Kahyangan Jagad, destinasi wisata, pusat perekonomian, dan pusat keramaian tetap dilakukan, termasuk memantapkan penyelenggaraan keamanan berbasis Sipandu Beradat.
Selain itu, meningkatkan sarana prasarana pengamanan, membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk bertanggungjawab menjaga keamanan Bali secara bersama, dan mengintegrasikan penyelenggaraan keamanan di seluruh wilayah Bali.
Atas kerja-kerja pecalang desa adat yang membantu keamanan di Bali, Gubernur Koster menyampaikan janjinya untuk segera menyusun skema pemberian insentif bagi mereka.
"Ini sedang dihitung, karena jumlahnya 23 ribu orang pecalang seluruh Bali tentu membutuhkan anggaran cukup besar, sebanyak 1.500 desa adat yang ada di Bali, jadi mesti dihitung betul, tapi komitmen kami dilaksanakan Astungkara 2027," ujarnya.







