TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Harga minyak goreng bersubsidi MinyaKita di tingkat pengecer di Kabupaten Tana Tidung Kalimantan Utara dijual jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang tercantum pada kemasan, yakni Rp15.700 per liter.
Pantauan TribunKaltara.com Selasa (10/3/2026) hanya sebagian kecil pedagang sembako yang menyediakan MinyaKita di toko masing-masing.
Meskipun tidak banyak, namun para pedagang yang menyediakan MinyaKita menjual minyak goreng subsidi tersebut Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu.
Pasca dilakukan Inspeksi Dadakan ( Sidak ) belum ada perubahan harga di kalangan pedagang eceran lantaran MinyaKita yang tersedia merupakan stok lama sebelum dilakukan sidak.
Baca juga: Kapolres Tana Tidung Perintahkan Jajaran Selidiki Lonjakan Harga MinyaKita yang Dijual Rp20.000
Para pedagang mengaku tingginya harga jual tersebut disebabkan harga pembelian dari agen yang sudah lebih dulu berada di atas ketentuan HET.
Edi, pedagang sembako eceran di Jalan Trans Kaltara, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara mengatakan, pengecer sebenarnya tidak memiliki banyak pilihan karena bergantung pada harga dari pemasok.
“Kalau kita ini tergantung penyedia saja. Kalau ada pasokan kita jual, tapi sekarang Minyakita juga jarang ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, biasanya membeli Minyakita dari agen dengan harga sekitar Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per liter.
Dengan modal tersebut, pengecer terpaksa menjual kembali dengan harga sekitar Rp 22 ribu agar masih mendapatkan keuntungan.
Baca juga: Bupati Tana Tidung Kaget Harga MinyaKita Tembus Rp22.000, Polisi tak Tinggal Diam
“Kita ambil itu modalnya biasanya Rp17 ribu atau Rp18 ribu, memang sudah di atas HET, makanya kami pengecer jual Rp22 ribu juga,” katanya.
Menurutnya, jika pengecer menjual sesuai HET yang tertera pada kemasan, maka mereka justru akan mengalami kerugian.
Sementara itu, Nayla pedagang sembako eceran di Jalan Jenderal Sudirman, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, juga menyebut harga dari agen sudah berada di atas harga yang seharusnya.
“Harga yang tertera di bungkus sekitar Rp15 ribuan, tapi agen saja jual Rp18 ribu sampai Rp19 ribu. Baru kami jual Rp22 ribu,” ujarnya.
Ia menambahkan, keuntungan yang diperoleh pengecer dari penjualan MinyaKita sebenarnya tidak terlalu besar.
“Untung kami paling Rp 2 ribu atau Rp 3 ribuan saja,” jelasnya.
Selain itu, keterbatasan pasokan juga menjadi salah satu penyebab MinyaKita jarang tersedia di tingkat pengecer.
Menurut para pedagang, minyak goreng subsidi tersebut mulai sulit didapat sejak awal tahun 2026.
“Memang MinyaKita sudah lama tidak ada. Kalau tidak salah mulai awal 2026 sudah susah didapat,” kata Nayla.
Para pedagang pun mengaku hanya menjual barang yang tersedia dari agen atau pemasok.
“Kalau sekarang pengecer jarang sediakan MinyaKita, pokoknya tergantung di agen tersedia apa, itu yang kita jual juga,” pungkasnya.
(*)
Penulis : Rismayanti