- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyoroti kemampuan pemerintah Iran dalam mengelola anggaran negara di tengah konflik dengan negara lain. Dikatakan Dedi Mulyadi, Iran tetap berdiri kokoh meski dihimpit oleh situasi embargo ekonomi yang berat selama bertahun-tahun.
Menurutnya, dengan anggaran sebesar itu, pemerintahan Iran mampu melahirkan keberpihakan yang sangat tinggi pada urusan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur warga. Anggaran pertahanannya pun, kata Dedi, hanya sekitar Rp132 triliun, namun karena terkena embargo maka negara tersebut bisa membuat teknologi drone, hulu ledak, dan memperkuat seluruh armada perang mereka.
Menurutnya kemampuan Iran menjaga kedaulatan tidak akan terjadi jika pemerintahannya tidak efisien dalam mengelola anggaran, sulit terjadi jika perguruan tinggi mereka tidak fokus melahirkan lulusan-lulusan hebat dengan penelitian yang kuat. Dari Iran, Dedi belajar bagaimana Jawa Barat di bawah kepempimpinannya, mampu membuat APBD Rp37 triliun menjadi surplus.
Desentralisasi atau otonomi, kata dia, bukan hanya dipahami dalam pembagian kewenangan atau sebagai bagian pembagian keuangan antara pusat daerah sampai desa. Saat ini, Pemerintah tengah dihadapkan pada kebijakan fiskal yang ketat. Salah satunya penundaan Dana Bagi Hasil (DBH).
Dalam kondisi tersebut, Dedi mengaku berupaya tetap memprioritaskan anggaran untuk kepentingan warga mulai dari pembangunan jalan, jaminan sosial hingga biaya pendidikan. Dirinya mengaku sudah paham bagaimana mengelola keuangan lewat efisiensi dan mengatur ritme kerja pegawai lewat kebijakan work from home (WFH).
Pihaknya juga mengorkestrasi efisiensi lewat pengurangan anggaran-anggaran umum di masing-masing dinas namun tetap melahirkan produktivitas yang tinggi. Dalam situasi keuangan saat ini, kata Dedi, pemimpin didorong untuk mencari jalan keluar agar urusan pelayanan publik dan pembangunan tetap dirasakan oleh warga. Sesuai ajaran Islam, pemimpin dituntut untuk mengutamakan kepentingan umat di atas segalanya.