Detik-detik Dedi Mulyadi Skakmat Mahasiswi yang Demo Soal Banjir Bekasi, Sampai Tidak Tatap Mata
Ardhi Sanjaya March 11, 2026 07:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membuat seorang mahasiswi tak berkutik saat demo di kantor Wali Kota Bekasi.

Mahasiswi tersebut demo menggunakan kacamata hitam, namun tidak memiliki data.

Padahal Dedi Mulyadi hanya memberi pertanyaan perihal tuntutan yang mereka bawa untuk Kepala Daerah di Bekasi.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menghadiri acara ulang tahun Bekasi beberapa waktu lalu.

Sepulang dari acara, mobil Dedi dicegat massa aksi yang sedang demo di depan kantor Wali Kota Bekasi.

KDM tidak menghindar, ia justru berhenti.

Dia keluar dari mobil untuk menemui massa aksi.

Sejumlah petugas berusaha memberi pengamanan.

Namun begitu Dedi tetap meminta pemimpin massa tersebut untuk maju.

KDM mendengarkan tuntutan dari massa aksi.

"Pak Gubernur, Pak Dedi di Kota Bekasi kemarin banjir masih terus terjadi padahal hari ini pak wali kota itu punya program strategis yaitu diberi nama polder air, tapi tidak menjawab," katanya.

Baca juga: Dedi Mulyadi Semprot Istri Pelaku Pembunuhan Pencuri Labu : Orang Miskin Ngebunuh Harus Diproses

Program Polder Air memang dicanangkan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto.

Hal tersebut bertujuan untuk mengatasi masalah banjir yang selama ini menjadi persoalan.

Pemerintah Kota Bekasi melakukan pembangunan Polder Air di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Cijambe.

Namun mahasiswa menilai program itu tidak efektif, karena masih terjadi banjir di Bekasi.

Baca juga: Bongkar Fakta Tewasnya Pria di Cianjur Demi 2 Labu Siam, Dedi Mulyadi: Saya Merasa Sangat Berdosa

"Kami ingin meminta klarifikasi, kami ingin bertemu akan tetapi kami dihindari. Pak Wali Kota Bekasi tidak mau menemui kami massa aksi," katanya.

Dedi Mulyadi mempertanyakan soal Polder Air yang dianggap tidak efektif.

"Polder air yang dimana yang tidak berfungsi ?" tanya KDM.

Namun begitu orator justru tidak dapat menjawab sesuai kajian data.

"Banyak polder air yang dibangun, di belakang sini ada polder tapi banjir tetap terjadi bahkan debit airnya justru meninggi," katanya.

Dedi menilai bahwa mungkin saja program Polder Air itu memang belum optimal dijalankan.

Ia pun mengatakan bakal segera melakukan evaluasi kinerja.

"Mungkin belum optimal nanti saya evaluasi problem dimana saja, kita selesaikan," katanya.

Meski sudah didengarkan, tapi masih ada sejumlah mahasiswa yang berteriak,

Dedi pun menyuruhnya untuk maju ke depan mengutarakan aspirasinya.

Kali ini seorang mahasiswi mengenakan kacamata hitam.

Baca juga: BSF CGM 2026 Masuk Daftar Karisma Event Nusantara, Dedi Mulyadi Ingin Bogor Jadi Ikon Kebudayaan

"Nanti kita evaluasi problemnya dimana saja secara teknis, karena evaluasinya harus teknis harus sama ahli pengairan, nanti saya dan tim akan evaksusi dan cari solusi," katanya.

Tanpa mau bertatap mata dengan Dedi, mahasiswi tersebut mempertanyakan jangka waktu evaluasi kinerja yang dijanjikan.

"Kalau bapak bilang nanti bakal evaluasi, kira-kira kapan ?" katanya.

Dedi Mulyadi memberi pertanyaan yang membuat mahasiswi tersebut tidak bisa berkutik.

"Saya tanya, saya baliki, banjir tahun ini sama tahun kemarin tinggi mana ?" tanya KDM.

"Tahun ini lebih banyak," jawab mahasiswi.

"Gak, tahun kemaren," kata Dedi Mulyadi.

Baca juga: Permintaan Dedi Mulyadi ke Dedie Rachim Saat Cap Go Meh, Kota Bogor Harus Buat Karnaval Pajajaran

Walau begitu mahasiswi tersebut tetap berkukuh mempertanyakan tahapan evaluasi kinerja Wali Kota Bekasi.

"Sama aja, ada gak evaluasi dari," katanya.

"Evaluasi tidak bisa sekaligus nanti secara bertahap," kata KDM.

https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.