Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Di Kabupaten Indramayu, terdapat sajian kuliner khas yang hanya ditemukan saat Ramadan, yakni mi ragit.
Bahkan, momentum untuk berburu mi ragit juga terbatas, yaitu saat ngabuburit, dan hanya di wilayah tertentu yang terdapat banyak penjualnya.
Di antaranya, di sepanjang Jalan Kapten Arya yang termasuk wilayah Kelurahan Karangmalang dan Karanganyar, Kecamatan/Kabupaten Indramayu.
Di luar wilayah tersebut, mi ragit tampaknya cukup sulit ditemukan, sehingga seperti menambah keontetikan salah satu kuliner khas Indramayu itu.
Selama Ramadan, ruas Jalan Kapten Arya sendiri menjadi salah satu sentra takjil setiap sore dari mulai pukul 15.00 WIB hingga menjelang magrib.
Baca juga: Atasi Foodborne Disease, Pelaku Usaha Kuliner Bandung Didorong Pahami Titik Kritis Produksi Makanan
Ratusan warga dari berbagai wilayah Kabupaten Indramayu pun tampak memadati deretan lapak pedagang yang menjajakan aneka takjil di kawasan itu.
Mi ragit sendiri merupakan sajian mi kuning yang dipadukan irisan telur dadar dicampur tepung, kemudian ditaburi udang rebon, dan disiram kuah santan.
Selain itu, kuah santannya juga dibuat menggunakan campuran udang rebon dan aneka rempah, sehingga terasa gurih khas sajian seafood.
Karenanya, bagi masyarakat Indramayu mi ragit menjadi pilihan hidangan yang tepat menjadi pembuka saat berbuka puasa sebagai pengganti gorengan.
Tak sedikit juga warga Indramayu yang menjadikan mi ragit sebagai takjil untuk berbuka puasa meski tampak lebih tepat apabila disebut makanan berat.
Salah satu pedagang yang menjual mi ragit di Jalan Kapten Arya, Sumiyati (53), mengatakan, seporsi mi ragit hanya dibanderol seharga Rp 5 ribu.
Dalam sehari, warga Kelurahan Karangmalang itu biasa membuat adonan mi ragit sebanyak dua kilogram, dan cukup untuk menyajikan hingga puluhan porsi.
"Selain dijual di lapak, alhamdulillah banyak juga yang memesan untuk takjil buka puasa," ujar Sumiyati saat ditemui di Jalan Kapten Arya, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Rabu (11/3/2026).
Namun, ia meminta pemesan mi ragit untuk mengambilnya langsung di lapak dagangannya ketika sore, dan bukan mengambil ke rumahnya.
Sebab, Sumiyati mengaku lebih senang mengemas pesanan mi ragit di lapaknya yang buka dari pukul 15.00 WIB tersebut dibanding menyiapkannya di rumah.
"Mi ragitnya dikemas di lapak biar adonannya segar, dan kalau pesanannya cukup banyak saya buka lapak lebih awal kira-kira dari pukul 14.00 WIB," kata Sumiyati.
Baca juga: Jiwa Sunda, Hati Brasil: Menyesap Kehangatan lewat Kuliner Mix Sunda-Brasil di Ambara Biru Bandung
Sumiati yang di hari biasa berjualan nasi bungkus itu mengaku sudah puluhan tahun menjual mi ragit di kawasan Jalan Kapten Arya saat Ramadan tiba.
Saat itu, Sumiyati yang mengenakan daster hijau tua tampak cekatan mengemas mi ragit dalam bungkus kertas seperti nasi bungkus di lapaknya.
Pengemasan dadakan di lapak itu seperti menjadi pertunjukan open kitchen ala restoran ternama, dan dilakukan sambil melayani pembeli yang datang.
Puluhan bungkus mi ragit tersebut terlihat dikemas dalam plastik hitam, dan disimpan di meja berukuran kira-kira 2 × 2 meter yang terdapat di lapaknya.
"Hari ini, ada yang memesan 40 bungkus mi ragit untuk buka puasa bersama, dan disimpan di meja agar bisa diambil ketika orangnya datang," ujar Sumiyati.
Pedagang mi ragit lainnya, Muhammad Iman (53), tampaknya memilih cara berbeda dibanding Sumiyati yang menjajakan langsung saat sore.
Warga Desa Tambak, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, itu, memilih untuk menjual ke reseller yang tersebar hingga wilayah Kecamatan Sindang, Indramayu.
Di dapur rumahnya yang baru ditempati sejak beberapa tahun terakhir, aroma santan dan kaldu udang khas mi ragit mulai mengepul sejak siang.
Dari dapur itulah, harapan keluarga Iman terlihat diracik secara perlahan dalam seporsi mi ragit yang resepnya diturunkan langsung dari orang tuanya.
Iman sendiri lahir dan tumbuh di Kelurahan Karanganyar meski kini menetap di Desa Tambak bersama istri dan kedua anaknya.
Terlebih, bagi sebagian warga Kabupaten Indramayu tampaknya mi ragit bukan sekadar takjil, tetapi tradisi, kenangan, dan penantian setahun sekali.
Pasalnya, mencari pedagang mi ragit selain Ramadan di Indramayu ibarat seperti menegakkan benang basah, karena mustahil untuk ditemukan.
"Mi ragit hanya ada di bulan puasa, dan di luar Ramadan hampir mustahil untuk menemukan penjualnya, karena tradisinya setahun sekali," kata Muhammad Iman.
Baca juga: PRIME PARK Hotel Gelar Showcase Iftar Ramadan 2026, Hadirkan Ragam Kuliner Nusantara & Internasional
Iman sendiri memasak kuah mi ragit dari campuran santan segar, bawang putih, daun jeruk, dan udang rebon yang menjadi sumber rasa gurih alami.
Seluruh bahan tersebut diolah tanpa menggunakan tambahan penyedap instan, tetapi cita rasanya justru terasa semakin kuat dan membekas di lidah.
Saat Ramadan, ia banting setir menjadi penjual aneka takjil termasuk mi ragit di rumahnya, karena pada hari biasa membuka kantin di instansi pemerintah.
"Selama Ramadan ini, mi ragit sudah habis dipesan sebelum dijual depan rumah, sehingga tetangga mengira enggak bikin, karena enggak ada di lapak," ujar Muhammad Iman.