Lebaran dan Ilusi Kemenangan
AS Kambie March 20, 2026 10:22 AM

Oleh: Rahmat Muhammad

Dosen Sosiologi Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Setiap tahun, Idul Fitri selalu dimaknai sebagai hari kemenangan. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah di Bulan Suci Ramadhan, umat Islam merayakan keberhasilannya dalam menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Takbir berkumandang dari masjid ke mesjid, keluarga berkumpul, dan tradisi saling memaafkan menjadi simbol kembalinya manusia pada fitrah. Namun, di tengah suasana yang penuh sukacita ini, muncul sebuah pertanyaan reflektif “kemenangan seperti apa yang sebenarnya kita rayakan?”

Di saat sebagian masyarakat menikmati hidangan lebaran dan kehangatan berkumpul Bersama keluarga, realitas di belahan dunia lain justru menunjukkan wajah yang kontras. Konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat terus mengalami eskalasi. Serangan militer, ketegangan geopolitik, dan ancaman perang yang meluas tidak hanya berdampak pada negara-negara tersebut, tetapi juga mengguncang stabilitas global. Di tengah situasi ini, ribuan warga sipil harus menghadapi banyak kehilangan, seperti rumah yang hancur, keluarga yang tercerai-berai, bahkan nyawa yang melayang. Bagi mereka, tidak ada ruang untuk merayakan kemenangan melainkan hanyalah upaya bertahan hidup dari hari ke hari.

Fenomena ini memperlihatkan adanya jurang antara makna simbolik kemenangan dalam konteks religius dengan realitas sosial global. Dalam perspektif sosiologi, kemenangan yang dirayakan dalam Idul Fitri sering kali bersifat individual dan spiritual. Ia diukur dari keberhasilan personal dalam menjalankan ibadah. Namun, jika merujuk pada gagasan solidaritas sosial yang dikemukakan oleh Émile Durkheim, agama sejatinya bukan hanya soal relasi individu dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai kolektif dibangun untuk menciptakan keterikatan sosial yang lebih luas.

Di sinilah letak problematisnya, ketika kemenangan direduksi menjadi pengalaman personal, maka dimensi sosial dari ibadah berpotensi terabaikan. Ramadhan yang seharusnya melatih empati terhadap penderitaan orang lain, sering kali berhenti pada pengalaman simbolik semata, sekadar merasakan lapar tanpa benar-benar memahami struktur ketidakadilan yang menyebabkan jutaan orang hidup dalam penderitaan yang nyata. Dalam konteks konflik global, empati yang muncul pun kerap bersifat sesaat, terbatas pada konsumsi informasi di media sosial tanpa diiringi kesadaran kritis maupun tindakan nyata.

Lebaran tahun ini, berisiko menjadi sebuah “ilusi kemenangan”, dimana sebuah perayaan yang seharusnya memberi rasa pencapaian, tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi dunia yang sesungguhnya. Ilusi ini bukan berarti bahwa kemenangan spiritual tidak penting, melainkan bahwa makna kemenangan tersebut perlu diperluas. Kemenangan tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai keberhasilan menahan diri, tetapi juga sebagai kemampuan untuk membangun kepedulian yang melampaui batas-batas geografis dan identitas.

Dalam dunia yang semakin terhubung ini, penderitaan di satu wilayah tidak lagi dapat dianggap sebagai realitas yang jauh dan terpisah. Konflik antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat bukan sekadar isu politik internasional, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang menuntut respons moral dari masyarakat global. Dalam konteks ini, Idul Fitri dapat dimaknai ulang sebagai momentum untuk merefleksikan posisi kita sebagai bagian dari komunitas global, apakah kita hanya menjadi penonton, atau turut menghidupkan nilai-nilai solidaritas yang diajarkan oleh agama.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi “apakah kita telah menang?”, tetapi “kemenangan seperti apa yang ingin kita wujudkan?”. Jika Ramadhan adalah proses pembentukan diri, maka Idul Fitri seharusnya menjadi titik awal untuk menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan nyata. Sebab di tengah dunia yang masih diliputi konflik dan ketidakadilan, kemenangan sejati barangkali bukan terletak pada perayaan, melainkan pada keberanian untuk tidak menjadi acuh. Sesungguhnya harapan kemanusiaan yang tertinggi wujud kemenangan adalah suasana perdamaian di hari lebaran yang membahagiakan umat manusia, semoga!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.