TRIBUNKALTIM.CO - Jumat (20/3/2026) adalah malam Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026.
Setelah satu bulan penuh berpuasa Ramadhan, Umat Islam akan segera menyambut datangnya Hari Kemenangan, Idul Fitri 1447 H.
Ada sejumlah amalan sunah yang dianjurkan untuk ditunaikan di malam Idul Fitri untuk menyambut datangnya 1 Syawal 1447 H.
Bukan hanya di malam takbiran, namun sebelum berangkat shalat Id esok pagi, Sabtu (21/3/2026), ada juga amalan sunnah yang bisa ditunaikan.
Baca juga: 85 Template Kartu Ucapan Selamat Idul Fitri 2026 Siap Pakai, Share ke Grup WA atau Jadikan Story IG!
Pada malam Idul Fitri, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam takbiran sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus sebagai refleksi atas amal yang telah dilakukan selama bulan suci.
Menghidupkan malam takbiran bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi.
Dikutip dari Tribunnews, berikut amalan yang dianjurkan untuk menghidupkan malam takbiran:
1. Memperbanyak Takbir
Memperbanyak bacaan takbir menjadi amalan utama pada malam takbiran.
Bacaan ini merupakan bentuk pengagungan kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan.
Dengan melantunkan takbir, suasana malam Idul Fitri menjadi lebih khusyuk dan penuh makna spiritual.
Bacaan Takbir Idul Fitri Lengkap Berikut adalah urutan bacaan takbir yang umum dilantunkan di Indonesia:
1. Bacaan Takbir Pendek
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar, lā ilāha illā Allāh, wallāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamd.
Artinya: “Allah Maha Besar (3x). Tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.”
2. Bacaan Takbir Lengkap
Setelah membaca versi pendek sebanyak tiga kali, dilanjutkan dengan lafaz:
Allāhu akbar kabīrā, wal-ḥamdu lillāhi katsīrā, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā, lā ilāha illā Allāh wa lā na’budu illā iyyāhu, mukhliṣīna lahud-dīna walau karihal-kāfirūn, lā ilāha illā Allāhu waḥdah, ṣadaqa wa’dah, wa naṣara ‘abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah, lā ilāha illā Allāh wallāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamd.
Artinya: “Allah Maha Besar dengan segala kebesaran. Segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya pujian. Maha suci Allah di waktu pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya... Tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.”
2. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Selain takbir, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan istighfar.
Melalui dzikir, hati menjadi lebih tenang dan selalu mengingat kebesaran Allah.
Sementara itu, istighfar menjadi sarana untuk memohon ampunan atas kesalahan selama Ramadhan.
3. Melaksanakan Salat Sunnah
Salat sunnah seperti tahajud atau salat hajat dapat dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ibadah ini juga menjadi kesempatan untuk memohon agar seluruh amal ibadah selama Ramadhan diterima dengan baik.
4. Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an pada malam takbiran menjadi salah satu amalan yang dianjurkan.
Kegiatan ini membantu umat Islam memperdalam pemahaman terhadap ajaran agama sekaligus menjaga kedekatan dengan firman Allah.
5. Berdoa Memohon Ampunan
Malam takbiran juga menjadi waktu yang tepat untuk memanjatkan doa.
Umat Islam dianjurkan untuk memohon ampunan, keberkahan, dan kebaikan dalam kehidupan.
Dengan doa yang tulus, malam tersebut menjadi momen penuh harapan.
Selain amalan tersebut, terdapat beberapa alasan mengapa umat Islam dianjurkan menghidupkan malam takbiran dengan ibadah.
Alasan Menghidupkan Malam Takbiran:
Perayaan malam takbiran sebaiknya dilakukan secara sederhana dan tidak berlebihan.
Hal ini penting agar nilai ibadah tetap terjaga dan tidak tergeser oleh hal-hal yang bersifat seremonial semata.
Malam takbiran memiliki keutamaan besar dalam ajaran Islam.
Pada malam ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak takbir sebagai simbol kemenangan setelah menjalani ibadah puasa.
Keutamaan Malam Takbiran
Selain itu, terdapat hikmah yang bisa diambil dari menghidupkan malam takbiran.
Hikmah Menghidupkan Malam Takbiran
Dikutip dari Tribunnews, Kementerian Agama menyebutkan beberapa hal yang dapat dilakukan ketika berangkat untuk melaksanakan salat Idul Fitri.
1. Mandi sebelum berangkat salat Id
Umat Islam dianjurkan mandi terlebih dahulu sebelum berangkat salat Idul Fitri sebagai bentuk menjaga kebersihan dan menghormati hari raya.
2. Memakai pakaian terbaik dan berhias
Idul Fitri menjadi momen bagi umat Islam untuk berhias dan menampilkan penampilan terbaik sebagai wujud kebahagiaan di hari raya.
Hal ini dapat dilakukan dengan membersihkan diri, memotong kuku, memakai wewangian, serta mengenakan pakaian terbaik atau pakaian baru.
Anjuran berhias berlaku bagi semua orang, termasuk yang tidak mengikuti salat Id.
Namun bagi perempuan, berhias tetap harus memperhatikan batasan syariat seperti menutup aurat dan tidak menarik perhatian laki-laki yang bukan mahram.
3. Makan terlebih dahulu sebelum berangkat
Pada Idul Fitri dianjurkan makan sebelum salat, biasanya dengan beberapa butir kurma dalam jumlah ganjil.
Pada hari raya Idul Fitri, umat Islam diharamkan berpuasa sehingga dianjurkan berniat untuk tidak berpuasa pada hari tersebut.
Sebelum berangkat salat Id, Rasulullah SAW juga mencontohkan makan kurma terlebih dahulu dengan jumlah ganjil, seperti tiga, lima, atau tujuh butir.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad dan Bukhari.
4. Memperbanyak takbir
Umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, dan tasbih sejak malam hingga sebelum salat Id dimulai.
Takbir Idul Fitri dianjurkan sejak malam terakhir Ramadan hingga pagi 1 Syawal, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 185.
Takbir terbagi menjadi dua jenis, yaitu takbir muqayyad yang dibaca setelah salat dan takbir mursal yang dapat dibaca kapan saja.
Takbir dapat dikumandangkan di berbagai tempat dan waktu kesunahan takbir berlangsung hingga dimulainya salat Id atau hingga waktu salat Id dianjurkan ketika matahari mulai naik.
5. Berangkat menuju tempat salat Idul Fitri
Disunahkan berangkat menuju tempat salat Id dengan penuh kegembiraan untuk melaksanakan ibadah bersama kaum Muslim.
Rasulullah SAW melaksanakan salat Idul Fitri bersama keluarga dan para sahabat, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak.
Beliau juga mencontohkan mengambil rute jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari tempat salat.
Selain itu, pelaksanaan salat Idul Fitri biasanya diakhirkan hingga matahari naik setinggi tombak agar umat Islam memiliki waktu untuk menunaikan zakat fitrah.
Salat Idul Fitri merupakan salat sunnah dua rakaat yang dianjurkan dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid maupun di rumah.
1. Niat sebagai Imam
Ushallī sunnatan li‘īdil fiṭri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”
2. Niat sebagai Makmum
Ushallī sunnatan li‘īdil fiṭri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”
3. Niat Salat Sendiri
Ushallī sunnatan li‘īdil fiṭri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”
Pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram dibaca doa iftitah, kemudian tujuh kali takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah dan surat Al-A’la, lalu dilanjutkan dengan rukun salat seperti rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud.
Pada rakaat kedua dilakukan lima kali takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah dan surat Al-Ghasyiyah, kemudian dilanjutkan dengan rukun salat hingga tasyahud akhir dan salam.
Setelah salat selesai, dianjurkan menyampaikan dua khutbah Idul Fitri.
Baca juga: Doa Setelah Shalat Idul Fitri Lengkap Arab, Latin, dan Arti serta Keutamaannya
(*)