TRIBUNNEWS.COM - Akademisi sekaligus salah satu pendiri Setara Institute, Rocky Gerung, menanggapi respons Presiden RI Prabowo Subianto tentang kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Adapun Andrie Yunus disiram air keras oleh orang tak dikenal (OTK) di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026) malam.
Menurut keterangan resmi dari KontraS, peristiwa ini terjadi tak lama setelah aktivis berusia 27 tahun itu rampung melakukan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bertajuk "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia."
Saat ini Andrie masih menjalani perawatan intensif di ruang High Care Unit (HCU) di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, akibat luka bakar yang dideritanya.
Sementara itu, hasil pemeriksaan medis yang dipaparkan oleh Manajer Hukum dan Humas RSCM, Yoga Nara, mengungkap bahwa Andrie Yunus mengalami luka bakar sekitar 20 persen yang tersebar di wajah, leher, dada, punggung, serta kedua lengan.
Dampak paling serius terjadi pada mata kanan yang mengalami trauma kimia tingkat tiga pada fase akut sehingga menyebabkan penurunan tajam kemampuan penglihatan dan kerusakan pada permukaan kornea.
Kasus serangan terhadap Andrie pun mendapat perhatian langsung dari Prabowo yang menyebutnya sebagai aksi terorisme dan harus segera diusut tuntas.
Tanggapan Prabowo soal kasus Andrie Yunus membuat Rocky Gerung senang.
"Saya senang karena Presiden Prabowo akhirnya memutuskan dengan kalimat yang enteng, usut tuntas dan sesegera mungkin, itu semacam pembalikan moral," kata Rocky Gerung dalam program Indonesia Lawyer's Club (ILC) di kanal YouTube tvOneNews, Kamis (19/3/2026).
Lantas, Rocky Gerung yang pernah menjadi dosen filsafat di Universitas Indonesia (UI) selama 15 tahun itu menyebut masyarakat ingin memberi kesempatan kepada Prabowo agar berdiri bersama rakyat untuk mencegah kekuasaan yang totaliter dan dikuasai oleh militer.
Baca juga: Pakar Desak Oknum TNI Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Dihukum Tegas: Salah Ya Sikat!
"Justru kita beri kesempatan pada Presiden Prabowo untuk datang bersama masyarakat sipil, membentak mereka yang masih berupaya bermimpi tentang masyarakat yang totaliter, di mana tentara menjadi sangat eksklusif," ucap tokoh kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 20 Januari 1959 ini.
Ia ingin Prabowo tahu bahwa para aktivis ingin membangun masyarakat yang berbasis pada supremacy of civilian value atau supremasi nilai-nilai sipil.
Supremasi sipil sendiri merupakan sebuah prinsip penting dalam negara demokrasi modern, di mana kekuasaan politik berada di tangan pemerintah yang dipilih secara demokratis, dan militer berada di bawah kendali otoritas sipil.
Sehingga, Rocky Gerung mengaku ingin mengkritik Prabowo yang beberapa kali mengatakan pihak-pihak yang mengkritik pemerintah adalah peralatan asing.
"Tapi, seringkali dianggap kalau kita keluarkan peralatan kita itu dianggap itu adalah peralatan asing. Presiden sering bilang begitu juga," papar Rocky Gerung.
"Di sini saya mau kritik Presiden Prabowo bahwa kami ada di dalam tekad dan nekat untuk menghasilkan peradaban yang basisnya adalah the supremacy of civilian value. Jelas itu."
Prabowo menegaskan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus merupakan tindakan kriminal serius yang tergolong sebagai terorisme.
Mantan Menteri Pertahanan RI itu mendesak agar kasus ini harus diusut tuntas hingga ke dalang di baliknya.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat sesi tanya jawab bersama jurnalis di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, sebagaimana dikutip dari rilis Badan Komunikasi (Bakom) RI, Kamis (19/3/2026).
“Ini adalah terorisme. Ini tindakan biadab. Harus kita kejar. Harus kita usut. Harus kita usut!” ucap Prabowo.
Prabowo menekankan, penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku di lapangan, melainkan harus mampu mengungkap aktor intelektual di balik peristiwa tersebut.
“(Termasuk) siapa yang menyuruh, siapa yang membayar,” ujarnya.
Ketua Umum Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) ini juga menegaskan, negara tidak akan menolerir segala bentuk kekerasan terhadap warga negara, termasuk terhadap aktivis yang menyuarakan kritik.
Ia memastikan jika ada keterlibatan aparat dalam kasus kekerasan itu, proses hukum harus berjalan tanpa pandang bulu.
“Ya jelas dong (kalau itu dari aparat). Tidak akan! (ada impunitas). Saya menjamin!” kata Prabowo.
“Saya ingin menegakkan hukum. Saya ingin Indonesia yang beradab. Tidak boleh ada tindakan seperti ini."
(Tribunnews.com/Rizki A./Dodi Esvandi)