Di Tengah Konflik, Jepang Dapat 'Lampu Hijau' dari Iran di Selat Hormuz
Sri Juliati March 21, 2026 06:24 PM

TRIBUNNEWS.COM - Iran menyatakan akan mengizinkan kapal-kapal Jepang melintas di Selat Hormuz.

Hal ini menandai indikasi terbaru, Teheran mulai menerapkan blokade selektif di jalur pelayaran strategis tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan, Selat Hormuz pada dasarnya masih terbuka, tetapi akses dibatasi bagi negara-negara yang dianggap sebagai musuh Iran.

"Kami tidak menutup selat. Menurut kami, selat tetap terbuka. Selat hanya tertutup bagi kapal-kapal milik musuh kami, negara-negara yang menyerang kami."

"Untuk negara lain, kapal masih bisa melintas," ujar Araghchi dalam wawancara dengan Kyodo News, Jumat (20/3/2026) waktu setempat.

Ia menambahkan, Iran siap memberikan jalur aman bagi kapal-kapal Jepang, asalkan ada komunikasi terlebih dahulu dengan pihak berwenang Iran untuk mengatur mekanisme pelayaran.

"Kami sedang berbicara dengan mereka untuk menemukan cara agar bisa melintas dengan aman. Kami siap memberikan jalur aman. Mereka hanya perlu menghubungi kami untuk membahas bagaimana rute ini akan dijalankan," katanya, dikutip dari Al Jazeera.

Jepang sangat bergantung pada jalur ini. Lebih dari 90 persen impor minyak mentah Jepang berasal dari Timur Tengah, dan sebagian besar ekspor energinya bergantung pada pelayaran melalui Selat Hormuz.

Meski secara resmi tidak ditutup, jalur tersebut praktis terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, ketegangan meningkat dan aktivitas pelayaran menurun drastis.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya sempat mengancam akan menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas, sehingga lalu lintas laut hampir berhenti total. 

Namun dalam sepekan terakhir, Iran mulai melunakkan sikapnya dengan menyatakan bahwa pembatasan hanya berlaku bagi negara-negara yang dianggap musuh.

Baca juga: Trump Tolak Gencatan Senjata, Konflik AS-Israel vs Iran Kian Memanas

Sejumlah negara seperti China, India, dan Pakistan dilaporkan telah lebih dulu mendapatkan izin melintas dari Iran. Jepang berpotensi menjadi negara berikutnya yang memperoleh akses serupa.

Layanan informasi maritim Lloyd’s List melaporkan,  setidaknya 10 kapal telah berhasil melintas dengan mengambil jalur dekat garis pantai Iran, yang kini mulai dianggap sebagai "koridor aman".

Salah satu kapal terbaru, kapal curah asal Yunani, dilaporkan melintas pada Jumat dengan rute dekat Pulau Larak, sambil menyiarkan pesan "Cargo Food for Iran".

Meski pelayaran masih dilakukan secara terbatas dan kasus per kasus, Iran disebut tengah mengembangkan sistem verifikasi dan registrasi yang lebih terkoordinasi untuk mengatur kapal yang diizinkan melintas.

Memasuki pekan ketiga konflik, sejumlah negara termasuk sekutu Amerika Serikat mulai melobi Iran agar membuka kembali akses Selat Hormuz atau setidaknya memberikan jaminan jalur aman bagi kapal mereka.

Jepang bersama Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Inggris sebelumnya juga telah mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan kesiapan untuk mendukung upaya memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Selain itu, beberapa negara seperti Irak, Malaysia, China, India, dan Pakistan dilaporkan telah melakukan komunikasi langsung dengan Teheran untuk membahas kelanjutan akses jalur tersebut.

Pernyataan Araghchi ini juga menyusul pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, pada Selasa (17/3/2026) lalu. 

Dalam percakapan tersebut, Jepang menyampaikan kekhawatiran atas banyaknya kapal Jepang yang saat ini tertahan di kawasan Teluk akibat situasi keamanan yang belum stabil.

Tentang Selat Hormuz

JALUR VITAL - Pemandangan udara Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan dunia. Iran dilaporkan bergerak untuk menutup jalur ini sebagai langkah balasan atas serangan Amerika Serikat ke fasilitas nuklir mereka, Minggu (22//6/2025).
JALUR VITAL - Pemandangan udara Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan dunia. (RNTV/TangkapLayar)

Selat Hormuz adalah jalur pelayaran maritim paling strategis di dunia, terletak antara Iran di utara dan Oman/Uni Emirat Arab di selatan.

Jalur sempir selebar 33 kilometer ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. 

Selat ini sangat vital karena menjadi jalur tunggal keluar-masuk bagi sekitar 20-25 persen ekspor minyak dan gas alam cair global, menjadikan gangguan di sini berpotensi mengguncang ekonomi global. 

Untuk melintasi Selat tersebut, kapal-kapal melewati perairan teritorial Iran dan Oman berdasarkan ketentuan jalur transit Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Setiap harinya, jutaan barel minyak melewati perairan ini dari negara-negara Teluk ke seluruh penjuru dunia.

Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati selat ini, atau sekitar 20 juta barel per hari (bpd) minyak, kondensat, dan bahan bakar.

Bukan hanya minyak, Selat Hormuz juga menjadi jalur perdagangan gas alam cair (liquid natural gas). 

Di sekitar Selat Hormuz terdapat dua dari 10 eksportir gas alam terbesar di dunia, yakni Qatar dan Oman. 

Gabungan produksi gas alam kedua negara itu hampir 90 juta metrik ton per tahun. Setiap bulan, ada sekitar 3.000 lebih kapal pengangkut LNG mondar-mandir melewati selat tersebut.

Tidak hanya terbatas pada minyak dan gas, Selat Hormuz juga berfungsi sebagai koridor penting bagi perdagangan internasional dan pengiriman laut yang lebih luas. 

Selat Hormuz menangani kargo nonenergi dalam jumlah besar, karena kapal-kapal kontainer besar yang memuat barang-barang manufaktur, bahan mentah, dan pasokan makanan penting melintasi selat ini. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.