Oleh : Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik Minggu 22 Maret 2026 dari Pater Fransiskus Funan Banusu SVD Hari Minggu Prapaskah V berjudul : 'Yesus dan Bapa-Nya Memiliki Otoritas yang Sama'.
Renungan Harian Katolik Pater Fransiskus Funan Banusu SVD merujuk pada Bacaan : (Yeh. 37:12-14; Mzm. 130:1-2.3-4ab.4c-6.7-8; Rm. 8:8-11; Yoh. 11:1-45).
"Yesus dan Bapa-Nya memiliki otoritas yang sama membongkar kubur dan menghidupkan orang mati'. "Akulah kebangkitan dan hidup." (Yoh. 11:25).
Peristiswa yang paling mencemaskan dalam hidup adalah kematian. Peristiwa ini membawa duka mendalam, bahkan seringkali orang beriman khalayak ramai mempertanyakan kasih riil Allah ketika maut menimpa orang-orang yang dikasihi.
Kematian adalah kenyataan yang penuh misteri bagi manusia. Manusia memang enggan menerima kematian, namun tak punya untuk menolaknya. Ketika waktunya tiba kematian akan menimpa semua yang hidup.
Dalam kekakutan menghadapi kematian yang menggelisahkan dan tak terelakkan itu, Yesus datang untuk meneguhkan kita bahwa kematian bukanlah akhir segalanya bagi manusia.
Melalui Yesus kita memiliki perspektif baru memahami kematian sebagai kesempatan berahmat untuk mengalami belas kasih Allah yang lebih mendalam.
Dengan membangkitkan Lazarus dari kematian setelah empat hari meninggal dan sudah dikubur, Yesus menyatakan kuasa-Nya dalam menaklukan maut. Dengan demikian maut yang sangat menakutkan itu akhirnya menyerah dan tak berdaya di hadapan Yesus.
Yesus yang menang atas maut kini menjadi jaminan hidup baru kita dalam Dia. Ia yang juga akan menemui maut melalui jalan salib dan wafat di Golgota akan bangkit mulia.
Maut yang semula menjadi musuh, kini bagi orang beriman kepada Yesus menjadi sahabat yang menghantar menuju kepenuhan hidup dalam Allah. Bahkan Santo Fransiskus dari Asisi menyebut maut sebagai saudari.
Melalui kebangkitan Lazarus, Yesus menegaskan diri memiliki otoritas sama seperti Bapa-Nya yakni membangkitkan orang mati sekalipun dalam dunia fana ini.
Orang yang percaya pada Yesus tidak akan dikuasai maut, dipindahkan dari kuasa maut menuju kehidupan, dari kematian menuju keselamatan.
Dalam Kristus, kematian yang penuh misteri itu, kini nyata dan ada sekarang dalam Yesus. Dalam kaitan dengan kematian dan kebangkitan Yesus menyatakan identitas-Nya sebagai Juru Selamat: "Akulah kebangkitan dan hidup. Siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati." (Yoh. 11:25).
Nubuat Yehezkiel menegaskan janji Allah untuk memberi hidup sejati kepada Israel. Bagi mereka yang sudah meninggal Allah akan menghembuskan Roh-Nya supaya mereka hidup kembali, memuji dan mengenal Allah kembali.
"Sungguh, Aku akan membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu dari dalamnya hai umat-Ku." (Yeh. 37:12a). Hidup dalam Allah dan berserulah seantiasa kepada-Nya.
Pemazmur memberi tanggapan dalam madahnya, "Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan, Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian, kepada suara permohonanku." (Mzm. 130:1-2). Doa orang beriman pasti tidak sia-sia di hadapan Tuhan.
Santo Paulus, dalam pengajarannya menekankan bahwa Roh Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati diam di dalam diri kita.
Melalui iman yang kokoh akan Dia, kita datang, dekat, dan bersatu dengan Dia untuk memiliki Roh-Nya supaya berdiam dalam diri.
"Jika Kristus ada di dalam dirimu, maka tubuh akan mati karena dosa tetapi rohmu hidup karena kebenaran." (Rm. 8:10). Kita hidup karena Roh Allah. Roh Allah yang sama akan membangkitkan tubuh kita yang fana dari antara orang mati.
Kejadian kebangkitan Lazarus, selain sukacita iman yang mendalam, banyak orang Yahudi percaya, sementara segelintir orang yang menamakan diri petinggi agama Yahudi merasa diri terpojok, cemburu dan iri hati.
Sifat-sifat busuk inilah yang menicu konflik antara mereka dengan Yesus makin tajam. Dalam dendam membara mereka perketat rencana jahat untuk membunuh Yesus.
Lazarus yang baru bangkit dari kematiannya, dalam ketaktahuannya, ia menjadi target juga. Dalam iri hati dan kebencian yang akut, para pemuka Yahudi mengunci diri dalam kubur kedegilan hatinya yang sulit untuk dibongkar.
Adalah sesuatu yang fatal jika ada asumsi, curiga bahwa Yesus mengajar dan membuat mukjizat dengan tujuan untuk pamer kuasa, cari popularitas diri, mencari dukungan menuju legitimasi kekuasaan.
Yang Yesus buat tujuannya untuk keselamatan manusia dengan cara belajar percaya, rendah hati dan tulus mengandalkan Tuhan dalam hidup.
Yesus dan Bapa-Nya memiliki otoritas yang sama menyelamatkan manusia dari maut menuju keselamatan dan kehidupan abadi bersama Allah dalam kerajaan-Nya. Kita belajar percaya dan terus berserah kepada Anak Allah penakluk maut dan penguasa kehidupan.
Selamat Hari Minggu. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Minggu/Pekan V Prapaskah/A/II, 220326).