Qeshm 'Kapal Induk' Iran yang Tak Akan Pernah Tenggelam
Hasanudin Aco March 22, 2026 12:19 PM

TRIBUNNEWS.COM, IRAN - Pada 7 Maret 2026 lalu,  militer Amerika Serikat  (AS) secara  khusus menyerang Pulau Qeshm di Teluk Persia.

Pemerintah Iran berang dan menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terhadap 148.000 warga sipil yang tinggal di sekitar wilayah itu.

Di Qeshm terdapat  gua-gua atau terowongan di bawah tanah yang berliku-liku menyerupai labirin.

Dahulu, para wisatawan berbondong-bondong mengunjungi "museum geologi terbuka" ini untuk melihat formasi batuan surealisnya.

Di masa perang ini, gua-gua itu sangat strategi sebagai benteng pertahanan bawah tanah bagi pasukan Iran dan susah ditembus oleh lawan.

Karena letaknya berada di bawah tanah dekat laut maka Qeshm dijuluki 'kapal induk' militer Iran yang tak pernah tenggelam.

PENUTUPAN SELAT HORMUZ - Iran mengumumkan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz dan menyiarkan peringatan radio kepada kapal tanker “Dilarang melintas
PENUTUPAN SELAT HORMUZ - Iran mengumumkan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz dan menyiarkan peringatan radio kepada kapal tanker “Dilarang melintas" pada 1 Maret 2026. Selat Hormuz menjadi krusial karena jalur ekspor paling vital dunia, bahkan disebut sebagai "Nadi Energi Dunia". TRIBUNNEWS/AKBAR PERMANA (Tribunnews.com)

Posisi yang strategis

Ukurannya yang sangat besar – sekitar 1.445 km persegi (558 mil persegi).

Saat ini, 148.000 penduduk pulau itu – yang sebagian besar adalah Muslim Sunni yang berbicara dialek Bandari yang unik.

Mereka saat ini hidup diantara keindahan alam peninggalan kuno dengan ancaman serangan dari Israel dan AS.

Wilayah itu adalah zona industri perdagangan bebas sejak tahun 1989.

Benteng  tersembunyi di bawah tanah

Di atas tanah, terlihat komunitas nelayan, pasar, dan rumah-rumah penduduk.

Dahulu, wisatawan datang ke  Qeshm untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk kota.

Namun di bawah tanah, terdapat terowongan yang membentang seperti labirin.

Laporan menunjukkan bahwa terowongan ini menyimpan rudal anti-kapal, ranjau laut, dan bahkan armada drone yang dirancang untuk menargetkan kapal-kapal di Teluk.

Belum diketahui pasti berapa  jumlah persenjataan Iran yang berada di bawah tanah Qeshm.

Infrastruktur tersembunyi inilah yang memungkinkan Iran menyerang dengan cepat, terutama terhadap kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.

Dan tentu saja, letak geografisnya memberikan waktu reaksi yang sangat singkat bagi sistem pertahanan mana pun.

Lokasi dan kerahasiaan—inilah yang telah mengubah Qeshm menjadi aset militer yang ampuh.

Pensiunan Brigadir Jenderal Lebanon Hassan Jouni, seorang ahli militer dan strategis, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Qeshm menampung “kemampuan Iran yang luar biasa”.

Dia menyebutnya sebagai “kota rudal” bawah tanah.

Jaringan luas ini, kata Jouni, dirancang untuk satu tujuan utama yakni untuk secara efektif mengendalikan atau menutup Selat Hormuz.

Kabarnya Iran atau AS bisa menguasai Selat Hormuz jika mampu merebut pulau itu.

Sejarah Qeshm Sejak Agresi Inggris

Dikenal dalam bahasa Arab sebagai Jazira-al-Ṭawila (Pulau Panjang), identitas Qeshm dibentuk oleh serangkaian kekaisaran.

Menurut Encyclopaedia Iranica , penjelajah Yunani Nearchus menyebutnya sebagai Oaracta dan melihat makam legendaris Erythras, yang namanya menjadi asal nama Laut Erythraean, di sana.

Pada abad kesembilan, ahli geografi Islam menyebutnya sebagai Abarkawan, sebuah nama yang kemudian secara etimologis diterjemahkan sebagai Jazira-ye Gavan atau "Pulau Sapi".

Pulau itu dianggap sangat penting secara strategis sehingga para penguasa Hormuz memindahkan seluruh istana mereka ke sana pada tahun 1301 untuk menghindari serangan Tartar.

Selama berabad-abad, pulau itu berfungsi sebagai "lumbung air", menyediakan air minum yang sangat penting bagi Kerajaan Hormuz yang gersang di sisi timur Teluk.

Kekayaan pulau itu begitu melegenda sehingga pada tahun 1552, komandan Ottoman Piri Reis menyerbu pulau itu, digambarkan oleh catatan kontemporer sebagai "hadiah terkaya yang dapat ditemukan di seluruh dunia".

Sejarah kolonial pulau ini juga sama bergejolaknya.

Bangsa Portugis membangun benteng batu besar di Qeshm pada tahun 1621.

Dan setahun kemudian, pasukan gabungan Persia dan Inggris mengusir Portugis dari benteng itu dalam pertempuran yang merenggut nyawa navigator Arktik terkenal Inggris, William Baffin.

Pada abad ke-19, Inggris telah mendirikan pangkalan angkatan laut di Basidu (Bassadore), yang tetap menjadi pusat Angkatan Laut India Britania hingga tahun 1863.

Baru pada tahun 1935 stasiun pengisian batu bara Inggris tersebut akhirnya ditinggalkan atas permintaan Reza Shah Pahlavi, yang saat itu menjabat sebagai shah Iran.

Sumber: Al Jazeera/File

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.