Amerika Serikat Longgarkan Sanksi Minyak Iran, Kran Impor 140 Juta Barrel Minyak Dibuka
Adrianus Adhi March 22, 2026 12:32 PM

SURYA.co.id - Amerika Serikat melonggarkan sanksi minyak Iran yang sudah berada di laut untuk sementara waktu.

Langkah ini bertujuan menekan lonjakan harga energi global di tengah konflik Timur Tengah dan menjaga stabilitas pasokan.

Kebijakan ini muncul di tengah lonjakan harga energi global akibat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran serta gangguan besar pada pasokan minyak dunia.

Departemen Keuangan AS mengeluarkan otorisasi jangka pendek yang memungkinkan penjualan, pengiriman, dan pembongkaran minyak mentah Iran yang sudah dimuat ke kapal sebelum 20 Maret 2026.

Langkah tersebut diperkirakan dapat membuka akses sekitar 140 juta barrel minyak Iran ke pasar dunia.

Melalui platform media sosial X, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan kebijakan itu dirancang untuk sementara membuka pasokan yang sudah ada bagi dunia.

Informasi lain menyebut kebijakan ini berlaku hingga 19 April 2026 dan bertujuan meredakan tekanan pada pasar energi global.

“Dengan membuka sementara pasokan yang ada ini untuk dunia, Amerika Serikat akan dengan cepat membawa sekitar 140 juta barrel minyak ke pasar global, memperluas jumlah energi di seluruh dunia dan membantu mengurangi tekanan sementara pada pasokan yang disebabkan oleh Iran,” kata Bessent.

“Pada intinya, kita akan menggunakan barel minyak Iran untuk melawan Teheran guna menjaga harga tetap rendah saat kita melanjutkan Operasi Epic Fury,” tambahnya.

Baca juga: Pernyataan Donald Trump yang Ingin Akhiri Operasi Militer di Iran, Singgung Pengamanan Selat Hormuz

Dampak Pasar Energi dan Respons Asia

Pelunakan sanksi ini muncul ketika harga minyak melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Konflik di Timur Tengah telah mendorong harga minyak naik lebih dari 50 persen hingga menembus 100 dollar AS per barrel, level tertinggi sejak 2022.

Ketegangan geopolitik juga menyebabkan gangguan pada jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, salah satu chokepoint utama perdagangan energi global. Gangguan lalu lintas kapal tanker berdampak langsung pada pasokan minyak dunia.

Pelunakan sanksi memicu respons cepat dari sejumlah kilang di Asia.

Laporan dari KOMPAS.com menyebut perusahaan penyulingan di India dan negara Asia lainnya mulai mengevaluasi kemungkinan kembali membeli minyak Iran guna mengatasi krisis energi regional.

Wilayah Asia sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, dengan sekitar 60 persen kebutuhan minyaknya dipenuhi dari kawasan tersebut.

Baca juga: Donald Trump Pertimbangkan Akhiri Operasi Militer Setelah Buat Iran Porak Poranda

Namun, para pelaku industri masih menghadapi kendala administratif dan logistik, termasuk keterbatasan armada tanker serta mekanisme pembayaran yang sesuai dengan ketentuan sanksi.

Trump dan Keinginan Mengakhiri Perang

Donald Trump menegaskan bahwa kebijakan pelonggaran sanksi minyak Iran merupakan bagian dari strategi lebih luas untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Ia menyebut langkah ini sebagai cara menekan Iran sekaligus membuka jalan bagi stabilitas kawasan.

“Amerika Serikat akan selalu berada di posisi untuk bereaksi cepat dan kuat, tetapi tujuan kami adalah mengakhiri perang dan memastikan sekutu kami terlindungi,” tegas Trump melalui akun media sosialnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Washington tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pada penyelesaian konflik yang telah lama membebani kawasan.

Trump menekankan bahwa operasi militer besar akan segera ditutup, dengan prioritas menjaga keamanan sekutu dan mencegah Iran mendekati kemampuan nuklir.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.