Anggaran Pemulihan Sawah Akibat Banjir di Agam Cair Setelah Lebaran
afrizal March 22, 2026 03:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan tingkat kerusakan lahan sawah paling parah akibat bencana banjir yang melanda Sumatera Barat pada akhir November 2025 lalu.

Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar, Afniwirman, menyebut tingkat kerusakan di Agam paling tinggi jika dilihat dari luasan maupun kategori kerusakan.

“Kalau yang paling parah itu Kabupaten Agam. Setelah itu disusul Kabupaten Solok, Padang Pariaman, Kota Padang, Tanah Datar dan Pesisir Selatan,” ujarnya saat diwawancarai, Minggu (22/3/2026).

Baca juga: Anggaran Cair, Pemulihan Sawah Terdampak Banjir di Sumbar Sasar Ribuan Hektare Lahan Petani

Meski menjadi wilayah terdampak terparah, proses pemulihan lahan sawah di Agam justru masih menghadapi kendala, terutama dalam hal administrasi pencairan anggaran.

Afniwirman menjelaskan, untuk kategori rusak sedang, pencairan dana memerlukan dokumen perencanaan seperti Detail Engineering Design (DED) sederhana, sehingga prosesnya lebih panjang dibanding rusak ringan.

“Di Agam sebenarnya pekerjaan sudah mulai berjalan, administrasi juga sudah disiapkan. Namun karena keterlambatan memasukkan persyaratan pencairan, dan bertepatan dengan libur Lebaran, pencairan belum bisa dilakukan,” jelasnya.

Ia memperkirakan, pencairan anggaran untuk Kabupaten Agam baru dapat dilakukan setelah libur Lebaran, tepatnya pada minggu kedua usai hari raya.

Baca juga: Lebaran Tak Lagi Sama: Menanti Huntap di Tengah Lumpuhnya Ekonomi Pasca Banjir Bandang Padang

“Karena bank sudah tutup menjelang Lebaran, kemungkinan pencairan dilakukan setelah Lebaran,” katanya.

Sementara itu, daerah lain dengan tingkat kerusakan lebih ringan justru menunjukkan progres pemulihan yang lebih cepat. 

Untuk lahan kategori rusak ringan, sebagian besar daerah bahkan telah menerima anggaran dan sedang menyelesaikan pekerjaan di lapangan.

“Rusak ringan sudah berproses semua. Anggaran sudah ditransfer ke kelompok tani dan sekarang tinggal penyelesaian pekerjaan,” ujarnya.

Afniwirman menegaskan, pemerintah tetap berkomitmen melakukan pemulihan secara menyeluruh di seluruh wilayah terdampak, termasuk Agam yang menjadi prioritas karena tingkat kerusakannya paling tinggi.

Diketahui, bencana banjir yang terjadi pada akhir 2025 menyebabkan ribuan hektare sawah di Sumatera Barat mengalami kerusakan dengan berbagai kategori, mulai dari ringan hingga berat.

Pemerintah menargetkan pemulihan lahan untuk kategori rusak ringan dan sedang dapat diselesaikan sepanjang 2026 agar petani bisa kembali berproduksi secara normal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.