Iran Ingatkan Fasilitas Penyulingan Air AS dan Israel jadi Target Sah Jika AS Membom Listrik Teheran
Ansari Hasyim March 22, 2026 07:37 PM

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus meningkat. Teheran memperingatkan bahwa fasilitas penyulingan air (desalinasi) milik Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah akan menjadi target jika infrastruktur energi Iran diserang.

Peringatan tersebut disampaikan oleh unit komando operasional tertinggi Iran. Mereka menegaskan akan melakukan pembalasan langsung terhadap kepentingan AS dan Israel apabila terjadi agresi terhadap sektor bahan bakar dan energi negara itu.

Ancaman ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Trump menuntut Teheran membuka kembali Selat Hormuz untuk seluruh kapal internasional dalam waktu 48 jam.

Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik Iran. Pernyataan tersebut menjadi eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung selama tiga minggu terakhir, sekaligus mencerminkan tekanan domestik akibat lonjakan harga energi di AS.

Baca juga: Kapal Selam Nuklir Inggris Siaga di Teluk Pasca Rudal Iran Hantam Pangkalan Militer Diego Garcia

Pemerintah Iran sebelumnya telah menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastrukturnya akan dibalas dengan serangan terhadap fasilitas strategis di kawasan.

Di sisi lain, Israel dilaporkan terus melancarkan serangan ke Teheran. Aksi ini terjadi setelah Iran menembakkan rudal ke kota Dimona dan Arad, yang menyebabkan puluhan warga sipil terluka. Iran menyebut serangan tersebut sebagai respons atas serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz Nuclear Facility.

Ketegangan juga meluas ke kawasan Teluk. Arab Saudi dilaporkan mengusir sejumlah staf kedutaan Iran, termasuk atase militer, dengan menetapkan mereka sebagai persona non grata dan memberikan waktu 24 jam untuk meninggalkan negara tersebut.

Risiko Eskalasi Lebih Luas
Analis regional dari Arab Perspectives Institute, Zeidon Alkinani, menilai ancaman terhadap sektor energi Iran berpotensi memicu eskalasi yang jauh lebih luas.

“Jika serangan seperti itu dilakukan, kita akan melihat dua tingkat eskalasi: ekonomi-energi dan ekologi,” ujarnya.

Menurutnya, dampak konflik tidak hanya terbatas di kawasan Timur Tengah, tetapi juga dapat mengguncang perekonomian global, termasuk Amerika Serikat. Ia juga menyoroti adanya perubahan pola serangan dari kedua pihak.

“Pada awal konflik, target terlihat lebih jelas dan terbatas. Kini respons menjadi lebih kacau dan meluas, termasuk serangan Iran ke negara-negara Teluk,” katanya.

Kritik dari Dalam Negeri AS
Di dalam negeri AS, kritik terhadap kebijakan Trump terus menguat. Senator Demokrat, Chris Murphy, menilai presiden telah kehilangan kendali atas konflik dengan Iran.

Murphy, yang merupakan anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menyebut operasi militer gabungan AS-Israel sebagai “perang gila”. Ia juga menilai kebijakan tersebut mulai berdampak pada perekonomian AS, terutama akibat melonjaknya harga bahan bakar.

Selain itu, Murphy menilai Trump berada dalam “mode panik” di tengah meningkatnya ketegangan dan tekanan ekonomi yang kian terasa.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.