SURYA.co.id - Iran mengancam akan menyerang infrastruktur energi Teluk sebagai respons atas ultimatum Donald Trump terkait Selat Hormuz. Ketegangan ini memperpanjang krisis minyak global dan meningkatkan risiko perang meluas ke luar Timur Tengah.
Ancaman ini merupakan respons langsung atas gertakan Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya, yang mengancam akan membombardir pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam waktu 48 jam.
“Segera setelah pembangkit listrik dan infrastruktur di negara kita menjadi sasaran, infrastruktur vital serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai sasaran yang sah dan akan dihancurkan secara permanen," tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melalui akun X miliknya.
Ghalibaf menambahkan, pembalasan Teheran akan memperpanjang krisis minyak dan meningkatkan harga energi untuk waktu lama. Penutupan Selat Hormuz sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari juga telah memicu krisis minyak terburuk sejak 1970-an.
Baca juga: Aturan Iran untuk Kapal yang Boleh Lewat Selat Hormuz dan Tidak, Apa Pengaruhnya pada Harga BBM?
Dilansir dari KOMPAS.com, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga sudah menegaskan bahwa jalur air tetap terbuka bagi negara yang tidak melanggar wilayah Iran.
“Ilusi untuk menghapus Iran dari peta menunjukkan keputusasaan melawan kehendak sebuah bangsa yang sedang menciptakan sejarah. Ancaman dan teror hanya memperkuat persatuan kita,” ujarnya.
Donald Trump sebelumnya memberikan ultimatum keras kepada Iran agar membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Ia menegaskan, jika jalur strategis itu tidak dibuka, AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.
Trump menetapkan tenggat hingga Senin pukul 23.44 GMT (Selasa, 06.44 WIB).
Ultimatum ini muncul hanya sehari setelah ia menyebut sedang mempertimbangkan mengakhiri operasi militer di Iran setelah tiga pekan perang, menunjukkan kontradiksi antara ancaman serangan dan keinginan mengakhiri konflik.
Baca juga: Setelah Longgarkan Impor Minyak Iran, Donald Trump Minta Blokade Selat Hormuz Segera Dibuka
Ancaman tersebut muncul seiring dengan keinginan Amerika Serikat mengimpor 140 ribu barel minyak mentah dari Iran. Keinginan ini merupakan jawaban dari melonjaknya harga minyak dunia beberapa hari terakhir.
Perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat sendiri berlangsung sudah hampir 1 bulan, sejak 28 Februari 2026. Perang itu membuat pimpinan Iran, Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia akibat serangan udara Israel-AS di Teheran.,
Selain Ayatollah Ali Khamenei, sejumlah pimpinan dan tokoh Iran juga meninggal. Korban jiwa juga ada di pihak Amerika Serikat dan Israel.