TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mengalami peningkatan intensitas hujan dan angin kencang meski telah memasuki masa peralihan musim.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan ada tiga fenomena atmosfer utama yang menjadi pemicunya pada periode 23-25 Maret 2026.
Pengaruh Siklon Tropis "Narelle"
Pemicu utama cuaca ekstrem di NTT saat ini adalah munculnya Siklon Tropis Narelle di Pesisir Utara Queensland. Meski pusat badai berada di Australia, dampaknya terasa hingga ke wilayah Indonesia Selatan.
Siklon ini menyebabkan terbentuknya daerah pertemuan angin (konvergensi) dan belokan angin di wilayah NTT. Kondisi inilah yang menarik massa udara basah dan menciptakan tumpukan awan hujan yang masif di langit Flores, Timor, Sumba, hingga Alor.
Baca juga: Banjir di Tanawawo Sikka Belum Ada Penanganan, Warga Viralkan di Media Sosial
Interaksi MJO dan Gelombang Atmosfer
Selain siklon, atmosfer di wilayah Indonesia Timur sedang mengalami aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif secara spasial.
Fenomena ini juga didukung dengan adanya interaksi dua gelombang atmosfer sekaligus yakni Gelombang Kelvin yang bergeser ke arah timur melintasi wilayah NTT. Kemudian, Gelombang Rossby Ekuatorial yang menambah labilitas atmosfer di bagian tengah dan timur Indonesia.
Kombinasi kedua gelombang ini meningkatkan aktivitas konvektif, sehingga awan hujan (Cumulonimbus) tumbuh lebih cepat dan kuat.
Baca juga: Diduga Cinta Ditolak, Pria di Kupang NTT Aniaya Seorang Mahasiswi
Labilitas Lokal dan Kelembapan Tinggi
Faktor lokal juga memegang peranan penting. Suhu muka laut di sekitar perairan NTT yang masih hangat menyebabkan kelembapan udara tetap tinggi.
Udara yang lembap dan tidak stabil ini mudah terangkat ke atas membentuk hujan lebat yang seringkali disertai kilat, petir, dan angin kencang secara mendadak.
BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca di wilayah Indonesia bagian tengah hingga timur cenderung lebih dominan terjadi aktivitas konvektif dibandingkan wilayah barat seperti Sumatra yang justru mulai mengering.
BMKG mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, terutama bagi warga yang sedang melakukan perjalanan Mudik Lebaran 2026.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap pohon tumbang akibat angin kencang dan selalu memantau info peringatan dini melalui aplikasi InfoBMKG.
Sumber: BMKG