SERAMBINEWS.COM – Ramadan telah berlalu, umat Muslim kini memasuki bulan Syawal.
Meski bulan puasa sudah berakhir, masih ada amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan, yakni puasa Syawal.
Puasa sunnah di bulan Syawal ini dikenal dengan sebutan puasa Syawal.
Di tengah masyarakat Indonesia, amalan ini juga kerap disebut sebagai puasa enam, merujuk pada jumlah hari pelaksanaannya yang berlangsung selama enam hari.
Puasa Syawal hukumnya sunnah. Artinya, tidak wajib dikerjakan, namun sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan besar bagi yang menjalankannya.
Pelaksanaan puasa Syawal bisa dimulai pada hari kedua bulan Syawal, yakni sehari setelah Hari Raya Idul Fitri, dan dapat dilakukan hingga akhir bulan Syawal.
Baca juga: Kontroversi Tahanan Rumah Gus Yaqut, Ketua KPK Setyo Budiyanto Disorot, ICW Desak Pemeriksaan Dewas
Hal ini karena pada hari pertama Syawal, umat Muslim diharamkan untuk berpuasa.
Anjuran menjalankan puasa Syawal bersandar pada hadits yang diriwayatkan Abu Ayub Al Anshari. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر
Artinya: "Barang siapa berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu setara dengan puasa sepanjang tahun." (HR Muslim. Imam Ahmad juga meriwayatkan dari hadits Jabir).
Puasa Syawal dimulai dari hari kedua hingga hari ketujuh bulan Syawal apabila dilakukan secara berurutan.
Namun, pelaksanaannya tidak harus berturut-turut. Umat Muslim tetap diperbolehkan menjalankannya secara terpisah selama masih berada dalam bulan Syawal.
Mengutip tayangan YouTube Tribunnews.com Tanya Ustaz, Ustadz Dr H Ferry Muhammadsyah Siregar MA, selaku pengasuh Pesantren Binsa Insan Mulia menjelaskan puasa syawal dianjurkan untuk dilakukan mulai hari kedua di bulan Syawal, apabila memungkinkan.
Baca juga: Anomali KPK Soal Status Penahanan Yaqut: Awalnya Tahanan Rumah, Usai Dikritik Dijebloskan ke Rutan
Bila tidak memungkinkan, boleh di tanggal lain, selama itu masih di bulan Syawal. Puasa syawal ini dianjurkan untuk dilakukan terus menerus, dalam kurun waktu yang berturut-turut.
Tetapi jika merasa berat diperbolehkan untuk tidak melakukannya dalam hari yang berturut-turut.
Puasa syawal juga sama seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib.
Dilansir dari Buku Pintar Panduan Lengkap Ibadah Muslimah, dijelaskan bahwa ada beberapa pandangan terkait waktu pelaksanaan puasa syawal ini.
Menurut Imam Ahmad, puasa enam hari pada bulan Syawal dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut. Sedang menurut golongan Hanafi dan Syafi'i lebih utama melakukannya secara berturut-turut yaitu sesudah hari raya Idul Fitri.
Berikut ini adalah tata cara melakukan puasa Syawal beserta doa dalam bahasa Arab, Latin, dan artinya:
Sebelum memulai puasa, niatkan dalam hati untuk berpuasa Syawal dengan niat sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.
Puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari pada bulan Syawal setelah Idul Fitri, bisa berturut-turut, bisa juga terpisah.
Puasa Syawal sama seperti puasa lainnya, disunnahkan makan sahur sebelum fajar.
Doa Puasa Syawal dapat dibaca setiap kali akan memulai puasa atau pada saat berbuka puasa.
Berikut ini adalah doa Puasa Syawal dalam bahasa Arab, Latin, dan artinya:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى صِيَامِ هَذِهِ الأَيَّامِ الْمَشْهُودَةِ ، وَاجْعَلْهَا مِنَ الْقَبُولِ ، وَأَعِنِّي عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ فِيهَا ، وَاجْعَلْهَا لِي فَرْحًا وَمَغْفِرَةً وَعِتْقًا مِنَ النَّارِ
"Allahumma a'inna ala shiyami hadzihil ayyamil masyhudati, waj'alhaa minal qobuuli, wa a'inna ala qiyamil laili fiihaa, waj'alhaa li farhan wa maghfiratan wa 'itqon minan naar."
Artinya: "Ya Allah, tolonglah aku dalam menjalankan puasa enam hari yang mulia ini, jadikanlah puasaku diterima, tolonglah aku untuk menjalankan ibadah malam di dalamnya, jadikanlah itu sebagai kesenangan, pengampunan, dan pembebasan dari neraka bagi saya."
Ketika melaksanakan puasa sunnah Syawal, umat muslim juga akan dihadapkan dengan puasa Senin Kamis.
Lantas bagaimana hukum menggabungkan puasa sunnah Syawal dengan puasa Senin Kamis tersebut?
Dikutip dari bali.kemenag.go.id, menurut para ulama, menggabungkan niat puasa Syawal dengan niat puasa hari Senin atau hari Kamis hukumnya adalah boleh dan sah.
Hal ini disebabkan karena puasa Syawal dan puasa hari Senin atau hari Kamis memiliki kesamaan dalam jenis dan bentuk ibadahnya, yaitu puasa sunnah.
Sehingga pelaksanaan keduanya dapat digabung dan dilakukan secara bersamaan, dengan membaca niat kedua puasa sebelum menjalankannya.
Syaikh Abu Bakar Syatha dalam Kitab I'anatut Thalibin mengatakan, seseorang yang berniat menggabungkan dua puasa sunnah, maka dia mendapatkan keduanya.
Ia mengibaratkan hal ini seperti bersedekah kepada keluarga yang niat sedekah dan silaturahmi.
"Ketahuilah terkadang ditemukan dua sebab dalam puasa, seperti puasa Arafah atau Asyura bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, atau hari Senin atau Kamis bertepatan dengan puasa enam hari Syawal. Dalam keadaan ini, sangat dianjurkan berpuasa untuk menjaga dua sebab tersebut. Jika seseorang berniat melakukan keduanya, maka dia mendapatkan keduanya" jelasnya.
Menurut para Ulama, menggabungkan niat puasa Syawal dengan niat puasa hari Senin atau hari Kamis hukumnya adalah boleh dan sah.
Ini disebabkan karena puasa Syawal dan puasa hari Senin atau hari Kamis memiliki kesamaan dalam jenis dan bentuk ibadahnya, yaitu keduanya sama-sama berupa ibadah puasa sunnah.
Sehingga keduanya boleh digabung dan dilakukan secara bersamaan.
Berikut bacaan niat puasa sunah Syawal dan puasa sunah Senin Kamis atau menggabungkan keduanya.
Untuk membaca niatnya, adalah dengan membaca niat puasa Syawal sekaligus Senin Kamis secara bergantian.
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ِﺳﺘَﺔٍ ِﻣﻦْ ﺷَﻮَﺍﻝٍ ﺳُﻨَﺔً ِﻟﻠَﻪ ﺗَﻌَﺎﻟَﻲ
Nawaitu Shauma Ghadin ‘Ansittatin Min Syawaali Sunnatan Lillaahi Ta’aalaa.
Artinya: “Aku niat berpuasa sunnah 6 Hari bulan Syawal karena Allah Ta’ala.”
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu sauma yaumal itsnaini sunnatan lillahi ta'ala. Saya niat puasa hari Senin, sunah karena Allah ta'ala.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Senin, sunnah karena Allah Taala."
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu sauma yaumal khomiisi sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Kamis, sunnah karena Allah Taala."
Puasa Syawal memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri bagi yang melakukannya.
Mengutip tayangan YouTube Tribunnews.com Tanya Ustaz, Ustadz Dr H Ferry Muhammadsyah Siregar MA, selaku pengasuh Pesantren Binsa Insan Mulia menjelaskan bahwa ada banyak keutamaan yang didapatkan dari puasa Syawal.
Ustadz Dr H Ferry Muhammadsyah Siregar MA menjelaskan bahwa, melaksanakan puasa Syawal ganjarannya diibaratkan seperti berpuasa selama 1 tahun.
Hal ini dikarenakan, satu hari puasa di bulan Ramadhan dan puasa di bulan Syawal, diibaratkan seperti berpuasa 10 hari.
"Siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan selama 30 hari penuh, kemudian diikuti 6 hari di bulan Syawal, maka ia seolah berpuasa selama 1 tahun penuh" (HR. Muslim no. 1164)
Dijelaskan juga bahwa dalam hukum Islam selama 1 tahun terdapat 365 hari, dan dalam satu tahun terdapat 5 hari yang diharamkan untuk menjalankan puasa.
"Ada 5 hari yang diharamkan untuk berpuasa, yaitu dua hari pada Idul Fitri dan Idul Adha serta tiga hari saat musim haji pada tanggal 11,12,13 Zulhijjah."
Maka apabila menjalankan puasa Ramadan selama 30 hari dan enam hari di bulan Syawal, maka dikalikan 10 menjadi 360 hari.
Jumlah tersebut kurang lebih sama dengan jumlah hari dalam satu tahun.
Berikut beberapa keutamaan puasa syawal:
1. Pahala yang Besar
Melakukan puasa Syawal akan mendapat pahala yang besar dari Allah SWT.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian mengikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun."
2. Menghapus Dosa
Puasa Syawal dapat membantu menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya.
Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Muslim, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti ia telah berpuasa sepanjang tahun.
3. Menambah Ketakwaan
Puasa Syawal dapat meningkatkan ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT dan membantu memperkuat ikatan dengan-Nya.
Dengan berpuasa, seseorang akan lebih menyadari pentingnya menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik.
(Serambinews.com/Bangkapos.com)