Sekjen PDIP Hasto: Institusionalisasi Organisasi Jadi Kunci Utama Partai Hadapi Guncangan Kekuasaan
Glery Lazuardi March 27, 2026 05:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa institusionalisasi atau pelembagaan organisasi menjadi kunci utama agar sebuah partai politik mampu bertahan menghadapi berbagai guncangan kekuasaan yang luar biasa.

Hasto menyebut, tanpa pelembagaan yang kuat, partai akan rapuh saat menghadapi tekanan politik maupun ambisi kekuasaan yang sistematis.

Hal itu disampaikan Hasto saat menjadi pembicara utama dalam forum internasional Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) di Makati, Filipina, Jumat (27/3/2026).

"Institusionalisasi organisasi menjadi kunci utama sebuah partai politik mampu bertahan menghadapi guncangan kekuasaan yang luar biasa," kata Hasto.

Dalam paparan bertajuk ‘The Institutionalization of Political Parties, Resilience, and Strategic Campaigns’, Hasto membedah fenomena yang ia sebut sebagai Triangle of Authoritarian Populism (Segitiga Populisme Otoriter).

Berdasarkan riset disertasinya di Universitas Indonesia, Hasto menjelaskan segitiga ini dibangun di atas tiga pilar, yakni feodalisme, populisme, dan Machiavellianisme.

"Segitiga ini memanfaatkan penyalahgunaan kekuasaan dan sumber daya negara untuk menciptakan persaingan elektoral yang tidak seimbang," ujar Hasto di hadapan delegasi internasional.

Hasto memberikan bukti empiris melalui apa yang dialami PDI Perjuangan pada Pemilu 2024. Meski harus menghadapi tekanan sistematis, PDIP tetap mampu keluar sebagai pemenang legislatif.

"Inilah bukti nyata dari resiliensi atau daya tahan partai yang telah terinstitusionalisasi," tegasnya.

Pria asal Yogyakarta ini kemudian memberikan analogi menarik dengan membandingkan dunia politik dan korporasi global. 

Ia mencontohkan bank swasta terkemuka yang mampu bertahan ratusan tahun bukan hanya karena faktor individu, melainkan karena core ideology yang terlembagakan.

"Maka seorang pemimpin hebat sekalipun, jika dia tidak percaya pada sistem dan tidak melakukan pelembagaan organisasi, maka kepemimpinannya tidak akan berkorelasi pada ketahanan organisasi tersebut," jelas Hasto.

Lebih lanjut, Hasto membedah kunci resiliensi PDIP yang bersumber pada kepemimpinan strategis Megawati Soekarnoputri. 

Menurutnya, kepemimpinan Megawati bekerja melalui tujuh indikator utama, di antaranya Critical Thinking, Vision, Core Values, hingga Commitment.

Perpaduan antara kepemimpinan strategis dan institusionalisasi inilah yang membuat partai memiliki kapasitas bertahan (survival capacity) yang tinggi.

Hasto juga mengingatkan bahwa kemunduran demokrasi global seringkali dimulai ketika pemimpin yang dipilih secara demokratis mulai melanggar norma-norma tidak tertulis demi memaksakan kehendak.

"Resiliensi partai bersumber dari semangat juangnya untuk menghadapi pemimpin yang ingin menghancurkan demokrasi," tuturnya.

Lebih lanjut, Hasto mengutip pesan mendalam dari Bung Karno pada tahun 1965 untuk menggambarkan perjuangan partai yang tak pernah usai.

"’For fighting a nation, the journey never ends’. Bagi bangsa yang berjuang, perjalanan tidak pernah berakhir. Institusionalisasi partai adalah misi tanpa henti untuk menjaga marwah demokrasi dan kedaulatan rakyat," pungkas Hasto.

Dalam sesi diskusi panel tersebut, Hasto berbagi panggung dengan sejumlah tokoh politik regional seperti mantan Menteri Anggaran Filipina Florencio ‘Butch’ Abad dan Sekjen Singapore Democratic Party (SDP) Chee Soon Juan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.