Konektivitas Meningkat, Malang Jadi Alternatif Wisata Warga Yogyakarta
Muhammad Fatoni March 27, 2026 10:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pertumbuhan pariwisata dan masifnya pembangunan infrastruktur di Malang, Jawa Timur, menunjukkan tren yang kian positif.

Dengan lanskap alam yang lengkap dari pegunungan hingga pesisir, serta ekosistem kota pendidikan yang kental, Malang kini muncul sebagai destinasi wisata alternatif yang banyak dilirik oleh wisatawan lintas provinsi, termasuk warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mencari suasana liburan baru di luar tingginya kepadatan wisata lokal.

Daya tarik Malang sebagai destinasi eskapisme bagi warga DIY salah satunya didorong oleh kemiripan identitas sebagai kota pelajar dan budaya, namun dengan tawaran geografis yang berbeda.

"Saat musim liburan atau long weekend, Yogyakarta biasanya sangat padat oleh wisatawan luar daerah. Malang menjadi alternatif pelarian yang pas bagi kami. Suasananya mirip, sama-sama kota pendidikan yang nyaman dengan banyak kedai kopi, tapi lanskap alamnya berbeda. Kita bisa ke daerah Batu yang dingin, atau turun ke selatan mencari pantai. Akses kereta api dari Stasiun Tugu ke Malang juga kini sangat mudah dan nyaman," ujar Dimas (34), warga Kabupaten Sleman, Jumat (27/3/2026).

Hal senada diungkapkan oleh Raniya (29), warga Kabupaten Bantul.

Menurutnya, perkembangan ekonomi kreatif dan kuliner di Malang memberikan pengalaman wisata perkotaan yang menyegarkan. 

"Banyak pilihan untuk eksplorasi. Selain wisata alamnya, saya tertarik dengan kawasan Kampung Kayutangan Heritage. Konsepnya mengingatkan pada kawasan sumbu filosofis di DIY, tetapi dengan sentuhan arsitektur kolonial yang khas. Belum lagi kulinernya yang sangat beragam dan harganya terjangkau," paparnya.

Tren ini berimbas langsung pada sektor perhotelan.

Platform teknologi perhotelan multi-brand, RedDoorz, mencatat penjualan lebih dari 278.000 kamar (room night stay) dari 164 mitra properti di Malang sepanjang 2025.

Pada periode libur Nataru 2025 (19 Desember–4 Januari), Malang bahkan menduduki peringkat keempat sebagai kota paling diminati dengan total pemesanan lebih dari 11.000 kamar, meningkat 19 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Dari sisi perilaku konsumen, RedDoorz mencatat bahwa wisatawan cenderung melakukan perjalanan singkat (short stay).

Sebanyak 87 persen tamu, atau lebih dari 211.000 pemesanan, memilih menginap selama satu malam. Sementara itu, 62 persen atau lebih dari 155.000 pemesanan dilakukan secara spontan pada hari yang sama dengan tanggal menginap (last-minute booking).

General Manager Area East & Bali RedDoorz, Ovaldo Sanjaya, menilai bahwa integrasi berbagai sektor menjadi kunci utama ketahanan pariwisata Malang.

“Malang memiliki daya tarik yang unik karena memadukan fungsi sebagai kota pendidikan sekaligus destinasi wisata. Selain itu, akses menuju kota ini semakin mudah sehingga mobilitas wisatawan dari berbagai kota, khususnya di Jawa Timur, terus meningkat. Dengan kombinasi potensi wisata alam, ekosistem pendidikan yang kuat, serta pembangunan infrastruktur yang terus berkembang, Malang diproyeksikan akan terus menjadi salah satu pusat pertumbuhan pariwisata dan ekonomi regional di Jawa Timur,” ujar Ovaldo.

Tingginya serapan kamar ini dirasakan langsung oleh para pengelola akomodasi, Indah Sri Handayani, mencatat rata-rata tingkat hunian (okupansi) propertinya stabil di angka 60 persen.

“Bergabung dengan RedDoorz memberikan dampak yang sangat signifikan bagi bisnis kami. Selain membantu meningkatkan visibilitas properti di platform digital, dukungan tim lokal juga membantu kami mengelola operasional dengan lebih optimal,” ujar Indah.

Performa senada juga dibukukan oleh SANS Arya Hotel Batu yang menyentuh tingkat okupansi 75 persen sejak beroperasi.

“Kolaborasi dengan RedDoorz membantu kami mengelola properti dengan lebih profesional, terutama dalam hal pemasaran digital dan manajemen permintaan. Hal ini sangat membantu meningkatkan tingkat hunian dan stabilitas pendapatan,” kata pemilik SANS Arya Hotel Batu, Kristina Caturkaryani

Magnet Pariwisata

Ke depan, daya saing Malang sebagai magnet pariwisata akan semakin menguat berkat intervensi tata ruang dan infrastruktur nasional.

Keberhasilan Jalan Tol Pandaan-Malang yang beroperasi sejak 2019 akan segera dilanjutkan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Malang-Kepanjen. 

Proyek yang mulai memasuki tahap uji kelayakan desain pada 2025 ini bertujuan mempercepat konektivitas dari Kota Malang menuju destinasi wisata alam di kawasan pesisir selatan, seperti Pantai Balekambang dan Bantur.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga telah menetapkan Kota Malang sebagai salah satu dari 50 kota prioritas nasional dalam program pembangunan jangka menengah 2025–2029 yang akan dieksekusi mulai 2026. 

Malang turut diusulkan menjadi kota metropolitan bersama tiga kota lainnya, serta diprioritaskan sebagai Kota Pendidikan dengan keberadaan lebih dari 60 perguruan tinggi.

Lebih jauh, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menetapkan Malang sebagai pilot project program strategis nasional tahun 2026. Malang dijadikan role model kota wisata di Jawa Timur yang mengintegrasikan secara penuh tiga sektor utama, yakni pariwisata, pendidikan, dan pertanian.

Pengakuan atas Malang juga datang dari dunia internasional.

Pada 2025, Kota Malang resmi masuk dalam 58 kota jaringan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) dan menjadi kota pertama di Jawa Timur yang meraih pengakuan dunia di bidang seni media.

Capaian ini menempatkan ekosistem digital dan seni kreatif sebagai mesin penggerak ekonomi baru yang melengkapi pesona wisata alam dan sejarahnya. (*)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.