TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tantangan pemerataan akses air bersih di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Keterbatasan infrastruktur, kualitas sumber air, hingga kondisi geografis membuat akses air minum layak belum merata, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), meski akses terhadap air minum layak terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kesenjangan antarwilayah masih terjadi, khususnya antara perkotaan dan perdesaan.
Sementara itu, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa akses terhadap air minum aman merupakan faktor kunci dalam mencegah berbagai penyakit berbasis lingkungan.
Di sejumlah daerah, masyarakat masih harus menempuh jarak jauh atau bergantung pada sumber air yang kualitasnya belum terjamin. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga mempengaruhi produktivitas dan kualitas hidup.
Direktur PT Biru Semesta Abadi, Yantje Wongso, menilai penyediaan air minum yang aman memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa upaya memperluas akses air layak perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
“Air minum yang sehat dan aman merupakan kebutuhan dasar yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup. Akses terhadap air layak perlu terus diperluas,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai inisiatif dari sektor swasta mulai bermunculan untuk membantu menjawab kebutuhan tersebut. Salah satunya melalui program distribusi air minum gratis yang dilakukan secara rutin di berbagai kota, bertepatan dengan momentum Hari Air Sedunia.
Program ini, menurut Yantje, memberikan gambaran nyata kondisi di lapangan. Saat mendistribusikan 1,9 juta liter air minum dalam satu hari di 46 kota, pihaknya melihat masih banyak wilayah menghadapi keterbatasan akses terhadap air minum yang aman dan layak.
Distribusi yang dilakukan pada 15 Maret 2026 tersebut menjangkau 766 gerai di 15 provinsi. Dalam sehari, volume air yang disalurkan setara dengan lebih dari 100 ribu galon, mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akses air minum yang terjangkau.
Skala distribusi ini juga menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih bergantung pada inisiatif non pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Meski mampu memberikan akses cepat, program semacam ini dinilai masih bersifat jangka pendek dan belum menyentuh akar persoalan secara menyeluruh.
Sejumlah pengamat menilai keterlibatan sektor swasta dapat menjadi pelengkap, terutama dalam menjangkau masyarakat yang belum terlayani. Namun, peran tersebut tidak dapat menggantikan tanggung jawab utama negara dalam memastikan pemenuhan kebutuhan dasar warga.
Baca juga: 50 Ucapan Hari Air Sedunia 2026 yang Inspiratif, Ingatkan Pentingnya Air untuk Generasi Masa Depan
Pemerintah menargetkan peningkatan akses air minum layak sebagai bagian dari komitmen terhadap United Nations melalui agenda Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.
Meski demikian, capaian di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran hingga kompleksitas wilayah Indonesia yang luas dan beragam.
“Tanpa upaya yang terintegrasi, kesenjangan akses air berpotensi terus berlanjut dan menjadi hambatan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata Yantje.
Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan komitmennya dalam penyediaan air minum dan sanitasi. Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, menyatakan bahwa air bersih dan sanitasi merupakan pondasi penting dalam pencegahan stunting dan peningkatan kualitas hidup.
“Air bersih dan sanitasi bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga pondasi penting dalam pencegahan stunting serta peningkatan taraf hidup masyarakat,” ujarnya saat menerima kunjungan UNICEF, Selasa (17/6/2025).
Sebagai bagian dari penguatan kebijakan, pemerintah merencanakan penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) tentang Infrastruktur Daerah, termasuk sektor air minum dan air limbah pada 2025. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat arah pembangunan air bersih dan sanitasi secara nasional.