TRIBUN-BALI.COM - Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana mulai meminta seluruh petani untuk mewaspadai dampak musim kemarau di tahun 2026 ini.
Sebab, BMKG sendiri memprediksi musim kemarau bakal mulai terjadi pada April mendatang dengan puncak di bulan Agustus. Bahkan bisa lebih panjang hingga Oktober mendatang. Petani diharapkan mulai melakukan sejumlah langkah antisipasi seperti menerapkan skema pola tanam yang menyesuaikan dengan kondisi cuaca belakangan ini.
Menurut data yang diperoleh, sedikitnya ada belasan subak tersebar di empat kecamatan wilayah Jembrana (kecuali Pekutatan) yang berpotensi atau rawan terdampak musim kemarau yang diprediksi bakal terjadi secara berkepanjangan ini.
Baca juga: ALAT Berat Hanya Satu Unit Beroperasi, Pengelolaan TPA Peh Terhambat
Baca juga: 2 BULAN Sudah Berproses! Jabatan 10 Kadis di Badung Masih Kosong
"Secara umum, pemetaan wilayah atau subak yang berpotensi terdampak musim kemarau masih sama seperti tahun 2024. Karena tahun lalu merupakan kemarau basah, masih terjadi hujan saat musim kemarau," jelas Kabid Pertanian, Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana, I Komang Ngurah Arya Kusuma saat dikonfirmasi, Jumat (27/3).
Arya melanjutkan, dengan kondisi ini para petani khususnya di Gumi Makepung harus lebih waspada terhadap ancaman cuaca. Sebab, beberapa tahun belakangan ini, cuaca tak menentu menjadi salah satu hal yang dikhawatirkan petani.
"Cuaca ekstrem memang menjadi salah satu kendala petani kita. Cuaca ekstrem seperti musim kemarau berkepanjangan berpotensi menyebabkan lahan mengering hingga gagal panen," jelasnya.
Dia menyebutkan, berbagai langkah yang sama seperti sebelumnya bisa dilakukan petani. Mulai dari efisiensi penggunaan air, optimalisasi pompa air, penggunaan varietas padi yang lebih tahan kekurangan air atau kekeringan. Misalnya seperti varietas Batutegi, Sarinah, hingga Inpari.
"Serta tidak memaksakan diri menanam padi jika ketersediaan air benar-benar tidak memungkinkan. Ini akan berisiko tinggi bagi tanamannya," imbaunya.
Disinggung mengenai dampak cuaca ekstrem belakangan ini terhadap pertanian di Jembrana, Arya Kusuma mengakui sesuai laporan petugas di lapangan, saat ini lahan pertanian di Jembrana relatif aman. Belum ada laporan tanaman padi yang terindikasi terancam kekeringan.
"Namun harus tetap waspada, karena cuaca tak menentu ini bisa saja menimbulkan dampak yang signifikan. Kami harap tahun ini dan seterusnya petani kita tak terdampak dengan potensi," tandasnya. (mpa)
Petani Khawatir Gagal Panen
Sementara itu, pendangkalan di sekitar bendung Sungai Unda, Kecamatan Dawan, Klungkung membuat petani resah. Sedimentasi pasir di sekitar aliran sungai dan di pintu bendung, membuat air irigasi tidak mengalir dengan lancar ke lahan pertanian warga di Kecamatan Dawan.Jika situasi ini tidak kunjung tertangani, petani khawatir gagal panen karena tanaman padi tidak teririgasi dengan baik.
Seorang petani di Kecamatan Dawan, I Wayan Mardika mengatakan, kondisi ini telah terjadi sekitar satu minggu. Air irigasi yang mengalir ke lahan pertanian warga sangat kecil, terlebih sebagian lahan pertanian di Kecamatan Dawan memasuki musim tanam padi.
"Di hilir seperti di Subak Gunaksa dan Subak Dawan usia padi sekitar 50 hari. Kalau tidak kunjung dapat air irigasi yanh cukup, padi milik petani bisa mati," ujar Wayan Mardika, Kamis (26/3).
Ia dan petaninya mengaku sudah sempat melakukan penanganan secara manual ke bendung Sungai Unda. Namun ternyata sedimentasi pasir sangat banyak, terutama di sekitar pintu bendung Sungai Unda. "Air (irigasi) tersumbat karena banyaknya pasir yang mengendap," ungkapnya.
Banyaknya sedimentasi pasir yang terbawa banjir dari hulu, membuat alur sungai juga mengalami pendangkalan. Sehingga penanganannya juga harus menggunakan alat berat.
"Kami sudah koordinasi ke BWS Bali Penida dan ke PU Provinsi, tapi belum juga mendapatkan penanganan," ungkapnya.
Ia pun berharap pemerintah bisa segera turun, melalukan penanganan pendangkalan di sekitar bendung Sungai Unda. Sehingga aliran air irigasi ke lahan pertanian di Kecamatan Dawan seluas sekitar 550 hektar kembali lancar dan petani terhindar dari gagal panen. (mit)