Sejarah Candi Tepas, Jejak Peninggalan Majapahit di Blitar yang Masih Otentik
Mujib Anwar March 28, 2026 12:13 AM

 

TRIBUNJATIM.COM – Candi Tepas menjadi salah satu situs peninggalan sejarah yang berada di Desa Tepas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Keberadaan candi ini menjadi bukti kejayaan masa lalu, khususnya pada era Kerajaan Majapahit.

Candi Tepas diperkirakan dibangun pada abad ke-13 hingga ke-14, sekitar tahun 1322–1400 Masehi. Nama “Tepas” sendiri berasal dari kata kedaton yang berarti tempat persinggahan.

Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, candi ini diduga digunakan sebagai tempat ibadah, musyawarah, hingga lokasi peristirahatan prajurit Majapahit dalam perjalanan menuju kawasan pendidikan seperti Candi Penataran.

Keberadaan Candi Tepas telah tercatat sejak masa kolonial Belanda, meskipun saat ditemukan kondisinya sudah runtuh dan banyak bagian batu yang aus.

Hingga kini, Candi Tepas masih menyimpan nilai historis tinggi meski bentuknya tidak lagi utuh seperti semula.

Struktur Unik dan Misteri Asal-usul Candi Tepas

Dilansir dari budaya-indonesia.org, Candi Tepas memiliki struktur yang cukup unik dibandingkan candi lain peninggalan Majapahit.

Hal ini terlihat dari penggunaan material batu trasit dan batu bata sebagai pondasi.

Sebagaimana dijelaskan dalam sumber yang sama, bagian utama candi terbuat dari batu vulkanik, sedangkan bagian dasar menggunakan bata merah. Kombinasi ini jarang ditemukan pada candi Majapahit lainnya.

Dikutip dari kec-kesamben.blitarkab.go.id, keunikan lain terletak pada bahan bangunan yang didominasi batu, berbeda dengan kebanyakan candi Majapahit yang menggunakan bata merah.

Candi ini tidak memiliki relief maupun prasasti yang dapat menjelaskan secara pasti sejarah pembangunannya. Hal ini membuat asal-usul Candi Tepas masih menjadi misteri. 

Dengan minimnya bukti arkeologis, para peneliti hanya dapat memperkirakan usia dan fungsi candi berdasarkan struktur fisik yang tersisa.

Baca juga: Jejak Sejarah Candi Penataran Blitar, Kompleks Candi Hindu Terbesar di Jawa Timur

Latar Sejarah dan Dugaan Fungsi Keagamaan

Sebagaimana dikutip dari budaya-indonesia.org, Candi Tepas diperkirakan memiliki latar belakang agama Buddha. Hal ini didasarkan pada penyebutan “Tepas Jita” dalam Kitab Negarakertagama. 

Dilansir dari Kompas.com, dalam naskah tersebut, wilayah Tepas berada di bawah pengawasan Dharmadhyaksa ring Kasogatan, yaitu pejabat yang menangani urusan keagamaan Buddha pada masa Majapahit.

Meskipun berlatar Buddha, struktur candi tidak sepenuhnya menunjukkan ciri khas keagamaan tertentu, sehingga menambah sisi misterius dari situs ini.

Selain itu, sebagaimana dilansir dari ke-kesamben.blitarkab.go.id, terdapat dugaan bahwa Candi Tepas merupakan hasil rampasan dari kerajaan lain yang kemudian dimanfaatkan oleh Majapahit.

Dengan berbagai kemungkinan tersebut, Candi Tepas menjadi salah satu situs yang menarik untuk terus diteliti lebih lanjut.

Baca juga: Asal-usul Candi Gunung Gangsir di Pasuruan, Situs Bersejarah dengan Legenda Nyi Sri Gati

Kondisi Terkini dan Peran dalam Kehidupan Masyarakat

Dilansir dari sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, kondisi Candi Tepas saat ini hanya menyisakan bagian kaki dan sebagian tubuh bangunan.

Atap candi diduga telah hilang karena menggunakan material yang mudah lapuk. 

Meski belum dipugar secara menyeluruh, bebatuan candi telah ditata kembali untuk menjaga bentuk aslinya.

Menariknya, Candi Tepas masih dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk berbagai kegiatan tradisi, seperti nyadran, bersih desa, hingga genduri.

Selain itu, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai sumber, kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus upaya menjaga warisan budaya leluhur.

Dengan kondisi yang masih alami dan fungsi sosial yang tetap hidup, Candi Tepas menjadi simbol keterhubungan antara sejarah masa lalu dan kehidupan masyarakat masa kini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.